PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 72


__ADS_3

“Apa? Mas Faza mau pindah kerumah barunya sama Zahra?”


“Iya Loly. Tante nggak tau harus bagaimana lagi. Tante nggak mau jauh jauh dari anak anak tante. Tante mau memastikan sendiri anak anak tante selalu baik baik saja dalam pengawasan tante...”


Sinta menangis saat mencurahkan isi hatinya pada Loly yang berada didepan-nya. Sinta tidak tau harus bercerita pada siapa lagi selain pada Loly yang sangat dia percaya bisa membuat Faza bahagia.


“Ini pasti karna Zahra tante. Dia pasti yang ngajak mas Faza pergi..”


Sinta mengusap air matanya menggunakan tisu. Sinta juga berpikir demikian. Dan menurutnya kehadiran Zahra dalam hidup Faza sangat berpengaruh buruk pada putra sulungnya itu.


Saat itu Faza melewati keduanya yang berada diruang tamu. Ya, Loly memang datang tidak lama setelah makan malam selesai.


“Sebentar tante.” Loly yang melihat Faza lewat segera bangkit dari duduknya disofa dan mengejar Faza yang entah hendak pergi kemana.


“Mas Faza tunggu..!!”


Merasa namanya disebut, Faza pun berhenti melangkah dan menoleh. Faza berdecak mendapati Loly sedang melangkah cepat menuju dirinya.


“Ada apa?” Tanya Faza begitu Loly sudah ada didepan-nya.


“Tante curhat sama aku sampai nangis nangis tentang mas yang mau pindah. Apa itu benar?”


Faza mengeryit menatap Loly yang bertanya dengan nada tuntutan padanya. Faza benar benar merasa heran dengan Loly yang begitu sok benar didepan mamahnya, Sinta.


“Mas.. Tolonglah mas pikirkan lagi.. Memangnya mas nggak kasihan sama tante? Tante itu mau mas tetap disini. Tante nggak mau jauh jauh dari mas, anaknya”.


Faza tersenyum.


“Terimakasih untuk perhatian kamu ke mamahku Loly. Sebenarnya aku bisa memikirkan lagi niatku untuk pindah. Aku bahkan bisa membatalkan-nya.”


Seketika wajah Loly terlihat sumringah. Loly tidak menyangka berbicara dengan Faza bisa segampang itu.


“Tapi kalau kamu tidak lagi keluar masuk seenaknya dirumah kedua orang tuaku. Bagaimana? Bahkan bila perlu kamu tidak perlu lagi berhubungan dengan mamahku.”


Senyuman Loly seketika memudar. Loly kira Faza akan mengatakan sesuatu yang baik untuk hatinya. Tapi ternyata Faza malah mengatakan sesuatu yang tidak akan mungkin bisa Loly lakukan, yaitu menjauh darinya.


“Aku tidak punya waktu untuk menunggu jawaban kamu Loly. Diam berarti tidak bisa. Aku akan tetap pindah dan kamu tidak perlu sok baik didepan mamahku lagi.”


Faza kemudian berlalu menuju motor gedenya. Faza meraih helm dan mengenakan-nya. Faza menoleh kembali pada Loly sebelum benar benar naik ke atas motornya dan berlalu dengan kecepatan sedang keluar dari pekarangan rumah kedua orang tuanya.

__ADS_1


Loly berdecak. Jika sampai Faza dan Zahra pindah dan menetap dirumah baru mereka, itu artinya Loly akan sulit untuk mendekati Faza lagi.


“Gimana caranya supaya aku tetap bisa dekatin dia nanti kalau dia beneran pindah?”


Loly gusar sendiri. Faza benar benar sudah menguasai hati dan pikiran-nya sehingga Loly sampai menghalalkan segala cara bahkan tidak perduli dengan status Faza yang sudah beristri.


“Oke Loly, tenang... Kamu nggak perlu khawatir. Kamu itu pintar. Kamu pasti bisa mencari cara agar bisa selalu dekat dengan mas Faza...”


Loly menarik napas panjang kemudian menghembuskan-nya perlahan. Loly yakin kesempatan itu selalu ada untuknya.


“Tante Sinta.. Cuma dia yang bisa bantuin aku supaya aku bisa terus dekat dengan mas Faza..” Gumam Loly merasa sangat yakin.


Loly kemudian kembali masuk kedalam rumah dan menghampiri Sinta yang masih saja menangis.


“Udah ya tante.. Tante tenang aja. Loly bakal selalu ada buat tante.. Loly akan sering sering main kesini buat temenin tante..”


Sinta menatap Loly dengan wajah memerah dan basah oleh air mata. Sinta benar benar tidak bisa menutupi kesedihan-nya saat itu. Jauh dari anaknya adalah hal yang paling ditakuti olehnya.


“Kita bisa minta alamat rumahnya mas Faza tante. Loly akan dengan senang hati menemani tante buat sering sering kunjungin mas Faza. Tante nggak perlu khawatir..” Senyum Loly.


Sinta tersenyum mendengarnya.


“Tante terlalu memuji aku. Udah tante jangan nangis lagi ya.. Ada Loly disini tante.”


Loly tersenyum manis sambil mengusap usap lembut bahu Sinta. Loly yakin lewat Sinta dirinya bisa membuat Faza bertekuk lutut padanya suatu saat nanti.


“Makasih ya Loly. Cuma kamu yang menghargai tante sekarang.”


Loly menganggukan kepalanya dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya. Loly kemudian memeluk Sinta dengan lembut, mengusap usap punggung wanita itu.


“Tante nggak perlu khawatir. Loly akan selalu ada buat tante. Mas Faza pasti akan sadar bahwa keputusan-nya memilih Zahra adalah kesalahan besar yang akan dia sesali suatu hari nanti.” Ujar Loly tersenyum dibalik punggung Sinta.


----------


“Ada yang perlu aku bantu lagi?” Tanya Fadly setelah selesai membantu Zahra mengemasi semua barang barangnya dan Faza.


Zahra menggelengkan kepalanya dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


“Makasih ya Ly udah mau bantuin aku sama mas Faza. Kamu memang adik dan teman yang baik.”

__ADS_1


Fadly tertawa mendengarnya.


“Nggak usah berlebihan begitu nyanjungnya. Dari dulu juga aku itu baik. Kalau nggak baik kamu nggak jadi istrinya kak Faza sekarang.”


Zahra ikut tertawa. Apa yang Fadly katakan memang benar. Hubungan-nya dan Faza bersatu juga karna campur tangan Fadly yang selalu siap membantu Faza kapanpun Faza membutuhkan bantuan darinya.


“Udah selesai ngemasin barang barangnya?”


Suara papah Faza berhasil menarik perhatian Fadly juga Zahra. Keduanya menoleh dan langsung bangkit dari duduknya begitu mendapati sang papah berdiri diambang pintu kamar Zahra dan Faza.


“Eh papah.. Udah selesai semua pah.” Senyum Fadly menjawab.


Sedangkan Zahra, dia hanya diam dan menundukan kepalanya. Meskipun Faza mengatakan papahnya merestui hubungan mereka namun Zahra masih merasa tidak yakin dan tidak berani menatap langsung wajah papah mertuanya itu.


“Baguslah. Mana Faza? dan kenapa kamu disini?”


Fadly menghela napas pelan. Saat ini memang dirinya dan Zahra sedang berdua dikamar Faza dan Zahra. Tapi pintu kamarnya terus terbuka setelah Faza pergi. Faza juga tidak keberatan dan tetap percaya padanya karna dari dulu Zahra dan Fadly memang berteman.


“Ya kan aku tadi bantuin kak Faza dan Zahra beresin barang barangnya pah. Lagian kita nggak ngapa ngapain kok disini ya kan Ra? Kak Faza juga nggak keberatan.”


Papah Faza tersenyum.


“Kakak kamu percaya pada kalian berdua begitu juga dengan papah. Tapi mamah kamu Ly, papah khawatir mamah kamu nyangka yang enggak enggak sama Zahra. Apa lagi disini ada Loly sekarang.”


Fadly dan Zahra saling menatap sesaat kemudian menganggukan kepalanya setuju.


“Iya juga sih.. Ya udah deh kalau begitu aku keluar ya Ra.. Nanti kalau butuh bantuan kamu bisa panggil aku atau papah. Ya kan pah?”


Papah Faza mengangguk dengan senyuman dibibirnya.


“Tentu saja.” Jawabnya.


“Ya.. Makasih ya Ly, papah makasih..” Senyum Zahra menatap bergantian pada Fadly dan papah mertuanya.


“Iya sama sama. Kalau begitu aku sama papah keluar yah.. Tutup dan kunci pintunya biar Loly nggak sembarangan masuk.”


Zahra tertawa pelan menanggapinya. Fadly memang tidak menyukai Loly yang dianggapnya sebagai perusak moodnya saat sedang dirumah.


Setelah Fadly dan papahnya berlalu Zahra segera menutup pintu dan menguncinya. Zahra juga tidak mau Loly masuk dan membuat moodnya jelek.

__ADS_1


__ADS_2