
Malam ini Zahra menyiapkan makan malam sendiri untuk suaminya. Meskipun hanya menghangatkan hasil masakan mbak Lasmi, tapi setidaknya Zahra mau meladeni suaminya dan itu sangat sangat Faza hargai.
“Maaf ya sayang, gara gara aku pulang telat aku jadi ngerepotin kamu begini. Padahal kamu sudah capek seharian mengurus Fahri. Harusnya sekarang kamu sudah beristirahat.”
Zahra tersenyum mendengar apa yang Faza katakan.
“Bukan-nya sudah kewajiban seorang istri melayani suaminya hem?”
Faza tertawa.
“Ya.. Tapi sudah menjadi kewajiban seorang suami juga memastikan istrinya nyaman dan tenang tanpa rasa beban sayang..”
“Oke oke.. Anggap saja ini kencan.” Ujar Zahra yang tidak mau memperpanjang obrolan tentang kewajiban. Karena Zahra tau suaminya yang pandai dalam berbicara segala hal pasti akan menang.
Faza tertawa lagi. Pria itu kemudian kembali menyantap makanan-nya sambil terus menatap wajah Zahra yang duduk diseberangnya.
Selesai menemani Faza makan malam, Zahra pun mengajak suaminya itu untuk segera beristirahat.
Dan didalam kamar mereka berbaring bersama sambil berpelukan menikmati kebersamaan yang memang sejak ada Fahri jarang mereka lakukan. Tentu saja karena Fahri yang terkadang sangat lengket pada Faza.
“Sayang..” Panggil Faza sambil memainkan tali bahu dress piyama pendek yang dikenakan Zahra.
“Ya mas...” Saut Zahra yang berada dalam dekapan hangat suaminya.
“Nggak tau kenapa tiba tiba aku teringat kebersamaan kita dulu yang kemana mana selalu mengenakan motor. Jujur aku merindukan saat saat itu.”
Zahra tersenyum. Sejak dirinya berhenti bekerja mereka berdua memang jarang pergi bersama. Selain karena Faza yang sangat sibuk, Zahra juga tidak berani banyak menuntut pada Faza yang selalu pulang dengan peluh tanda lelah di keningnya.
“Besok adalah hari sabtu.. Bagaimana kalau besok malam kita kencan berdua saja.”
Zahra mengeryit dan langsung melepaskan diri dari dekapan Faza. Zahra menatap Faza dengan keryitan dikeningnya.
“Tapi bagaimana dengan Fahri mas? Aku nggak bisa ninggalin dia. Kan sebentar sebentar Fahri harus diberi ASI.” Ujar Zahra yang sebenarnya juga tidak ingin menolak. Tapi Zahra juga tidak mungkin membiarkan Fahri tanpa nya.
“Itu bisa diatur sayang.. Percaya sama aku, Fahri akan aman ditangan yang tepat. Kamu bisa menyediakan persediaan ASI untuk Fahri. Asal kamu mau semuanya pasti bisa.”
Zahra diam dan tampak berpikir. Fahri tidak bisa semenit pun dia tinggal. Dan durasi kencan yang dimaksud Faza tidak mungkin hanya satu dua jam.
“Bagaimana?” Tanya Faza memastikan.
__ADS_1
Zahra menghela napas kemudian tersenyum.
“Aku akan coba pikirkan.”
“Aku tunggu jawaban-nya besok.” Balas Faza ikut tersenyum.
Zahra menghela napas kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah tampan suaminya yang masih berbaring dengan santainya.
“Mas...”
Zahra mulai gugup. Zahra sebenarnya malu mengutarakan niatnya ingin mulai melayani Faza malam ini. Apa lagi Faza yang sepertinya tidak mengingat bahwa larangan untuk melakukan itu sudah selesai mereka lewati. Tentu saja karena usia Fahri yang sebentar lagi akan genap dua bulan.
“Ya sayang..” Saut Faza membelai lembut pipi Zahra.
Zahra memejamkan kedua matanya merasakan belaian lembut tangan besar Faza di pipinya. Zahra juga tidak bisa munafik bahwa dirinya merindukan sentuhan Faza yang selalu memabukkan untuknya.
“Aku.. Eemm..”
Zahra bingung akan memulai darimana. Terlalu blak blakan rasanya tidak mungkin. Zahra pasti sangat malu karena terkesan seperti wanita yang sedang meminta jatah pada suaminya.
“Kenapa hem? Apa kamu menginginkan sesuatu?” Tanya Faza dengan sangat lembut.
“Mas.. Usia Fahri sudah hampir genap dua bulan sekarang.. Tidak terasa ya?”
Faza tertawa mendengarnya. Pria itu kemudian menarik lembut tubuh Zahra membaringkan-nya dan melingkupi dengan tubuh kekarnya.
“Apa itu artinya kita sudah boleh melakukan itu hem?” Tanya balik Faza yang memang sebenarnya sangat menunggu moment itu.
Bagaimana Faza tidak peka, selama hampir dua bulan ini Faza sudah sangat puas menahan diri. Faza juga menghitung setiap detik, setiap menit, juga setiap jam dan hari yang terasa begitu lama dan sangat menyiksanya. Tapi sekarang kesabaran-nya itu sudah seharusnya dia curahkan.
Wajah Zahra langsung merona. Faza langsung bisa menangkap maksudnya.
“Kamu cantik dan sangat sexy malam ini sayang...” Bisik Faza mulai merayu Zahra dengan pujian yang Faza lontarkan tepat ditelinga Zahra.
Apa yang Faza lakukan berhasil membuat bulu kuduk Zahra terasa berdiri seluruhnya. Zahra merasakan tubuhnya sangat sensitif sekarang.
“Mas...” Panggil Zahra dengan sedikit erangan karena Faza meniup telinganya.
Faza tersenyum. Tidak bisa lagi menahan dirinya, Faza pun memulai aksinya dengan mencumbu Zahra dengan mesra. Membelai, menekan, dan me*ema* bagian tubuh Zahra yang sedang sangat sensitif itu.
__ADS_1
Erangan dan lenguhan membuat suasana dikamar Zahra dan Faza malam itu semakin romantis ditambah dengan hujan yang membuat apa yang mereka berdua lakukan semakin tidak bisa diungkapkan dengan kata kata.
Ajaibnya malam itu Fahri juga seperti sedang memberikan kesempatan pada kedua orang tuanya untuk menikmati apa yang selama dirinya hadir tidak pernah mereka berdua lakukan. Bayi tampan itu begitu tenang dalam tidur lelapnya bahkan sama sekali tidak bergerak dalam tidurnya sampai pagi menjelang.
Paginya.
Zahra melenguh saat terbangun dari tidur lelapnya. Tidur yang terasa singkat namun cukup membuat tubuhnya rileks ketika bangun pagi ini.
Zahra menoleh dan tersenyum mendapati suaminya yang masih terlelap damai disampingnya.
Zahra kemudian menoleh kearah ranjang tempat putranya berada. Malam ini Zahra sama sekali tidak mendengar tangisan putranya seperti biasanya. Karena penasaran, Zahra pun segera meraih dress tidurnya dan mengenakan-nya.
Zahra turun dari ranjang melangkah menghampiri putranya. Zahra mengeryit ketika mendapati posisi tidur putranya masih sama dengan posisinya semalam saat Zahra meletakan-nya.
“Apa dia sepengertian itu?” Gumam Zahra bertanya tanya.
Zahra menghela napas kemudian tersenyum dan membungkukkan tubuhnya memberikan kecupan lembut penuh cinta pada putra kesayangan-nya itu.
Setelah itu Zahra pun bergegas untuk membersihkan dirinya. Karena hari ini adalah hari libur suaminya, Zahra berencana membuatkan sarapan untuk Faza selagi Fahri masih tenang terlelap dalam tidurnya.
“Pagi nyonya..” Sapa mbak Lasmi yang saat itu baru saja selesai mengepel lantai dua kediaman Faza dan Zahra.
“Pagi juga mbak..” Senyum Zahra membalas.
“Eemm.. Nyonya maaf, pagi ini nyonya dan tuan mau dibuatkan sarapan apa?” Tanya mbak Lasmi pelan.
Zahra tertawa pelan kemudian menggelengkan kepalanya.
“Untuk pagi ini biar saya saja mbak yang memasak buat sarapan. Mbak bisa kerjakan yang lain saja ya..” Ujar Zahra dengan pelan.
“Baik nyonya.. Kalau begitu saya permisi..” Angguk mbak Lasmi.
“Ya mbak...”
Zahra tersenyum menatap mbak Lasmi yang berlalu dengan membawa ember berisi air serta kain pel ditangan-nya.
Tiba tiba Zahra teringat akan ajakan kencan suaminya malam minggu nanti. Rasanya tidak mungkin jika Zahra menitipkan Fahri pada mbak Lasmi. Selain akan membuat mbak Lasmi kewalahan, Fahri juga pasti akan rewel. Dan Zahra tidak mau menambah nambah pekerjaan mbak Lasmi yang sudah banyak setiap harinya.
“Apa aku telepon kak Nadia?”
__ADS_1