
Menjelang malam Faza baru pulang dari bekerjanya. Pria itu benar benar membelikan apa yang di inginkan oleh Zahra, istrinya. Faza juga membelikan beberapa cemilan pedas untuk Zahra.
Zahra yang mendengar deru suara mesin motor gede suaminya dengan semangat berlari dan membuka pintu. Senyumnya mengembang melihat Faza yang baru saja turun dari motornya.
“Mas..” Gumamnya.
Zahra langsung berlari begitu Faza menyadaru kehadiran-nya. Zahra berhambur memeluk Faza dengan senyum bahagia yang menghiasi bibirnya.
“Salim dulu dong sayang..” Senyum Faza.
“Ah iya, aku lupa.”
Zahra segera melepaskan pelukan-nya kemudian menyalimi Faza.
“Ni pesanan kamu..”
Dengan antusias Zahra menerima bingkisan yang diberikan suaminya. Zahra mengecek apa aja isi dari bingkisan itu kemudian mengeryit.
“Ini banyak banget..”
“Iya.. Siapa tau kamu masih kurang setelah makan burger kingnya nanti.”
Zahra tertawa. Porsi makan-nya memang sedikit meningkat akhir akhir ini.
“Ya udah yuk masuk..”
Faza merangkul bahu Zahra dan mengajaknya masuk kedalam rumah. Pria itu senang karna Zahra menyambutnya dengan senyuman manis dan begitu antusias.
“Eemm.. Zahra, aku langsung bersih bersih ya..”
“Oke, aku siapin ini di meja makan. Jangan lama lama yah.. Aku udah laper banget.”
Faza hanya mengangguk dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya kemudian berlalu dari hadapan Zahra untuk segera membersihkan dirinya.
Ketika memasuki kamarnya ponsel dalam saku celana hitam Faza berdering. Faza mengeryit ketika mendapati nomor baru yang tidak dikenalnya. Enggan mengangkat telepon yang tidak dia tau dari siapa, Faza pun merijek telepon tersebut kemudian meletakan ponsel miliknya diatas nakas samping tempat tidur mereka.
Berkali kali ponsel Faza terus berdering membuat Zahra yang sedang duduk menunggu Faza dimeja makan penasaran. Faza sudah masuk kedalam kamar mandi dan ponselnya terus saja berdering.
Karna tidak bisa menahan rasa penasaran-nya, Zahra pun masuk kedalam kamar dan meraih ponsel Faza yang terus berdering.
“Kok nggak ada namanya?”
Zahra mengeryit dengan rasa penasaran yang begitu besar. Sesaat Zahra terdiam tampak bimbang untuk mengangkat atau membiarkan saja telepon tersebut.
__ADS_1
“Biarin aja deh..”
Zahra kembali meletakan ponsel milik Faza ditempatnya semula namun benda pipih itu terus saja berdering seolah seseorang diseberang sana sangat tidak sabar.
Zahra menghela napas kemudian kembali meraih ponsel Faza.
“Aku angkat aja deh, siapa tau penting.” Gumam Zahra kemudian mengangkat telepon itu.
“Halo, Faza. Kenapa lama sekali mengangkat telepon ku?”
Zahra mengeryit ketika yang terdengar adalah suara seorang wanita. Itu bukan suara Anita. Zahra tau itu.
“Ah ya Faza, ini nomorku ya.. Jangan lupa disimpan.”
Zahra menelan ludahnya. Wanita diseberang telepon itu sepertinya sangat dekat dengan suaminya.
“Ngomong ngomong kamu lagi apa? Sudah makan malam belum?”
Zahra merasa sangat muak dengan perhatian dari wanita itu. Wanita yang tidak Zahra tau siapa.
“Atau kita makan malam diluar yuk? Sambil kita nostalgia masa masa sekolah kita dulu..”
Zahra menghembuskan napas kasar saking muaknya. Enggan menyauti apa yang dikatakan wanita itu, Zahra pun mematikan-nya.
“Dasar genit. Berani beraninya ngajak makan malam suami orang.” Umpat Zahra kesal.
Zahra terkejut saat tiba tiba mendengar suara Faza. Buru buru Zahra meletakan kembali ponsel milik Faza ditempatnya semula.
“Tadi handphone kamu terus berbunyi makan-nya aku angkat.”
“Terus siapa?” Tanya Faza mendekat pada Zahra.
“Nggak penting kok. Cuma orang salah sambung.” Jawab Zahra berbohong.
Faza mengeryit bingung. Saat Faza hendak meraih ponselnya, Zahra langsung menghalanginya. Zahra kemudian mengajak Faza untuk segera memakan apa yang Faza belikan untuknya tadi.
“Untung tadi udah aku blokir dan hapus nomornya.” Batin Zahra sambil mengajak Faza menuju meja makan.
Selesai makan malam, Zahra mengajak untuk Faza menonton sebentar sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk tidur.
Sejak malam itu, Zahra menjadi rajin mengecek ponsel Faza diam diam. Zahra bahkan memblokir hampir semua nomor wanita yang terdaftar di kontak ponsel Faza.
“Pak Faza, semalam saya mengirim data data yang pak Faza minta tapi kenapa tidak masuk yah? Saya coba telepon juga tidak nyambung. Apa pak Faza memblokir nomor saya?”
__ADS_1
Faza mengeryit mendengar pertanyaan Anita. Faza memang sekarang jarang mendapat pesan singkat apapun dari teman-nya. Faza pikir mungkin mereka memang sedang sibuk dan merasa tidak punya kepentingan dengan-nya.
“Memblokir nomor kamu? Untuk apa?”
Anita mengedikkan kedua bahunya.
“Saya tidak tau dan tidak berani menebak nebak pak. Ah ya, ini laporan yang Faza minta.” Ujar Anita sambil meletakan map biru diatas meja Faza.
“Terimakasih.”
“Sama sama pak.”
Anita kembali duduk dikursinya setelah itu. Kecewa, itu yang sedang Anita rasakan sekarang. Faza sepertinya memang sangaja menghindarinya sehingga nomornya bahkan sampai diblokir.
Waktu istirahat tiba, semua karyawan bergegas untuk makan siang termasuk Anita. Anita sempat mengajak Faza yang ditolak halus oleh Faza.
Ketika Faza masuk kedalam Restoran langganan-nya saat makan siang, disana sudah ada Rosa yang melambaikan tangan menyuruh Faza untuk mendekat.
Faza tersenyum mendapati Rosa disana. Meski Faza juga sedikit merasa bingung karna Rosa seperti sedang sengaja menunggunya.
Faza melangkah mendekat pada meja Rosa dan segera mendudukan dirinya disana. Dan lagi lagi kebersamaan Faza dan Rosa terlihat jelas oleh Anita.
Anita yang merasa geram segera mengabadikan kebersamaan Faza dan Rosa dengan mengambil gambar mereka. Anita juga dengan sengaja mengirim gambar kebersamaan Faza dan Rosa pada Zahra. Ya, Anita memang menyimpan kontak Zahra diam diam.
“Kamu jahat banget sih Za, masa nomor aku di blokir.”
Faza yang sedang mengunyah makanan didalam mulutnya langsung berhenti. Faza meraih segelas air putih kemudian meminumnya sedikit.
“Maksudnya gimana? Memangnya aku punya nomor kamu?”
Rosa memutar jengah kedua bola matanya.
“Aku minta nomor kamu sama Fadly. Nggak sengaja ketemu waktu itu di mall. Tapi kamu malah blokir nomor aku.”
Faza bingung sekarang. Faza tidak pernah tau jika Rosa pernah menghubunginya.
“Kamu takut istri kamu marah ya? Makan-nya kamu blokir nomor aku? Kita kan hanya berteman. Memangnya salah?”
Faza diam dan tampak berpikir. Faza yakin Zahra tidak mungkin marah meskipun Faza menjalin hubungan pertemanan dengan Rosa.
“Zahra juga pasti kenal aku lah.. Ya, meskipun aku sedikit lupa padanya.” Ujar Rosa membuat Faza meliriknya sekilas.
Tidak mau buruk sangka pada istrinya sendiri, Faza pun segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya mengecek kebenaran dari ucapan Rosa dan Anita.
__ADS_1
Benar saja, Banyak nomor nomor yang di blokir. Dan hampir semua nomor kontak teman wanita di ponselnya diblokir.
“Apa mungkin ini perbuatan Zahra?” Batin Faza bertanya tanya.