
“Jadi beneran hari ini kamu mau mulai ngajarin Fadly tentang bisnis?” Tanya Zahra sambil mengambilkan nasi di piring Faza.
“Ya sayang.. Tadi juga Fadly udah telepon aku katanya udah nggak sabar pengin belajar tentang bisnis.”
Zahra tertawa pelan sambil menggelengkan kepala mendengarnya. Zahra juga tau sejak dulu Fadly sangat suka sekali menggambar. Fadly bahkan selalu menjadi juara pertama dikelas jika ada prakarya yang bersangkutan dengan menggambar.
“Kadang cinta memang bisa membuat orang berbuat hal bodoh yang bahkan tidak pernah terbesit diakal.” Ujar Zahra.
“Ya sayang.. Seperti kita dulu kan? Kita nekad membohongi mamah papah juga kak Aries supaya bisa menikah.” Senyum Faza.
Zahra tertawa mendengar apa yang Faza katakan. Itu benar benar tindakan bodoh dan egois yang pernah Zahra lakukan. Dan itu Zahra lakukan dengan kesepakatan bersama Faza.
“Ya sudah mending sekarang mas sarapan biar kuat ngadepin tingkah Fadly nantinya.”
“Tapi kayanya kalau cuma sarapan doang kurang deh sayang buat ngadepin Fadly. Aku perlu penyemangat yang lain juga.”
Zahra menyipitkan kedua matanya menatap curiga pada Faza yang tersenyum penuh makna itu.
“Udah deh.. Nggak usah macem macem. Masih pagi juga.” Ujar Zahra sambil menuang air putih didalam gelas kemudian meletakan disamping piring yang ada didepan suaminya.
“Yee.. Dia pikiran-nya kemana mana. Ketahuan banget sendirinya yang mikir macem macem.” Sindir Faza membuat bibir Zahra mengerucut sebal.
“Kan memang biasanya kamu gitu mas..”
“Ya biasanya kan dikamar sayang.. Ini kan kita udah dimeja makan. Masa iya aku lakuin itu disini.. Nanti di liat mbak Lasmi gimana?”
“Tuh kan...” Kesal Zahra membuat Faza tertawa.
“Enggak enggak.. Aku cuma bercanda kok sayang.. Aku cuma mau minta cium kok. Boleh kan?”
Zahra tidak menjawab dan lebih memilih fokus dengan apa yang sedang dilakukan-nya mengambil nasi untuk dirinya sendiri sarapan.
“Ayo dong sayang.. Masa begitu aja marah sih. Memangnya kamu mau apa nanti aku pingsan karena kurang penyemangat saat mengajari Fadly di kantor?”
Faza menatap Zahra memelas. Pria itu sangat berharap Zahra luluh dan mau menciumnya.
“Selamat makan..” Kata Zahra membuat Faza berdecak kesal.
__ADS_1
Selesai sarapan Zahra pun mengantar Faza sampai depan rumah. Dan sampai detik itu juga Faza masih menagih ciuman dari Zahra sebagai penambah penyemangatnya.
Karena tidak tega melihat wajah memelas menggemaskan suaminya, Zahra pun segera mengecup singkat bibir tipis Faza. Dan hal itu langsung membuat ekspresi Faza berubah. Faza tersenyum merasa senang karena Zahra menciumnya.
“Udah kan?” Senyum Zahra menatap Faza.
“Iya.. yah.. Walaupun kurang lama tapi nggak papa.. Aku jadi tambah semangat nih terus nggak sabar buat kembali pulang.”
“Yeee.. Belum juga berangkat udah nggak sabar pengin pulang.” Tawa Zahra merasa lucu dengan tingkah suaminya.
“Hehee... Ya udah sayang, aku berangkat ya..”
“Hem ya mas...” Angguk Zahra kemudian menyalimi Faza.
Zahra melambaikan tangan-nya saat mobil Faza mulai melaju keluar dari pekarangan luas rumahnya. Namun seperti biasanya, Zahra tidak langsung masuk sebelum mobil Faza benar benar menghilang dari pandangan matanya.
Zahra menghela napas. Perceraian kedua mertuanya benar benar tidak bisa terhindarkan. Zahra benar benar sangat menyayangkan itu. Namun Zahra juga tidak berani berpendapat apapun. Zahra tau keduanya sudah sama sama dewasa dan pasti apa yang menjadi keputusan kedua mertuanya adalah satu satunya jalan yang terbaik.
“Ya Tuhan.. Hamba sangat menyayangi mamah. Meskipun memang sampai sekarang mamah mungkin belum bisa menerima hamba, tapi hamba selalu berharap Tuhan.. Semoga suatu saat nanti mamah mau menerima hamba dengan tangan terbuka.” Batin Zahra memejamkan kedua matanya.
Suara klakson mobil membuat Zahra mengeryit. Zahra berpikir mungkin Faza melupakan sesuatu sehingga harus putar arah dan kembali kerumah untuk mengambil sesuatu tersebut.
Zahra menelan ludahnya. Sinta datang setelah resmi bercerai dengan Akbar. Dan rasa khawatir itu benar benar tidak bisa terhindarkan.
“Mamah...” Lirih Zahra begitu Sinta sudah benar benar ada didepan-nya.
Sekali lagi Zahra menelan ludahnya. Zahra tidak tau kenapa tiba tiba Sinta datang kerumahnya. Bukan tidak senang, hanya saja Zahra takut Sinta masih marah padanya.
“Kamu senang sekarang Zahra? Kamu bisa membuat mas Akbar, Faza dan Fadly berpihak sama kamu.” Ujar Sinta dengan senyuman sinisnya.
Zahra menundukan kepalanya tidak berani menatap wanita ber-dress coklat gelap selutut itu.
Zahra juga tidak ingin perceraian itu tejadi. Tapi Zahra juga tidak bisa mencegahnya. Zahra tidak berani ikut campur dengan apa yang sudah menjadi keputusan kedua mertuanya.
“Saya tidak tau dan tidak pernah ingin tau apa kelebihan kamu Zahra. Tapi satu yang aku tidak pernah habis pikir tentang kamu. Yaitu kamu bisa membuat semua orang berpihak sama kamu.”
Zahra memejamkan kedua matanya. Kebencian Sinta benar benar sudah mendarah daging. Sinta bahkan menuduhnya memonopoli semua orang yang disayanginya.
__ADS_1
“Saya kasih kamu kesempatan satu kali Zahra. Kalau kamu bisa membuat Faza benar benar bahagia dan bisa mendidik cucu saya dengan benar maka kamu layak menjadi menantuku. Tapi jika kamu tidak bisa melakukan semua itu, masih ada waktu untuk kamu pergi dari sekarang.”
Zahra mengangkat kepalanya dengan cepat menatap Sinta tidak percaya. Ucapan wanita itu memang mencubit hatinya, namun dibalik ucapan itu tersirat kata yang selama ini sangat Zahra nanti nantikan.
“Maksud mamah, sekarang mamah...”
“Tunjukan sama saya kalau kamu memang yang terbaik untuk anak saya Zahra.” Sela Sinta lagi.
Kedua mata Zahra terasa memanas detik itu juga. Zahra benar benar tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Sinta merestui hubungan-nya dengan Faza.
“Mana cucu saya?” Tanya Sinta dengan ekspresi yang tetap datar.
“Em.. Fahri, dia ada didalam sama mbak Lasmi mah.. Ayo masuk mah..”
Zahra mempersilahkan Sinta masuk dengan air mata haru yang menetes membasahi kedua pipinya. Zahra ingin sekali berhambur memeluk mamah mertuanya itu, tapi Zahra takut Sinta marah karena belum bisa sepenuhnya menerimanya mengingat ekspresi wanita itu yang sangat datar.
Ketika berada diruang keluarga, Sinta langsung mengambil alih Fahri dari mbak Lasmi. Wanita itu tersenyum menatap cucunya yang sangat tampan dan mirip sekali dengan Faza kecil. Dan tanpa sadar Sinta meneteskan air matanya. Kehilangan kasih dan cinta karena ke egoisan-nya sendiri adalah suatu hal yang sangat menyakitkan dalam hidupnya. Dalam waktu yang begitu cepat Sinta merasa kehilangan kebahagiaan, kepercayaan, juga kebersamaan hangat bersama kedua putranya.
Menyesal mungkin sudah tidak ada lagi gunanya karena penyesalan-nya tidak akan mungkin membuatnya bisa berkumpul kembali dengan keluarganya yang sudah terpecah. Apa lagi sekarang pria yang sangat memahami dan sabar menghadapinya sudah menjadi orang asing.
Ya, Akbar adalah mantan suaminya sekarang.
“Nyonya apa ini mimpi?” Tanya mbak Lasmi pelan.
Mbak Lasmi juga tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sinta bersikap begitu baik dan mau bermain serta bercanda dengan Fahri tanpa menghina Zahra. Itu benar benar seperti mimpi.
“Saya juga merasa begitu tadi mbak. Tapi setelah saya cubit tangan saya, saya nggak bangun. Itu artinya ini nyata.” Senyum Zahra menjawab dengan terus menatap Sinta yang sedang mengajak Fahri bermain didepan sofa diatas karpet berbulu penuh dengan mainan.
Mbak Lasmi menganggukkan kepalanya pelan. Pemandangan didepan-nya memang sangat langka. Sebelumnya mbak Lasmi tidak pernah sekalipun melihat senyuman lebar Sinta seperti sekarang. Dan ini kali pertama mbak Lasmi melihat senyuman itu. Mbak Lasmi tidak bohong, Sinta masih tampak cantik di usianya yang tidak lagi muda bahkan sudah mempunyai cucu.
“Ya udah nyonya biar saya buatin minum untuk nyonya Sinta.”
“Eh mbak, nggak usah. Biarkan saya saja yang membuatkan minum untuk mamah. Mbak lanjut kerjaan yang lain aja.” Senyum Zahra mencegah mbak Lasmi.
“Oh ya nyonya. Baik.”
Zahra menghela napas dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya kemudian berlalu untuk membuatkan minuman untuk Sinta.
__ADS_1
“Mas Faza harus tau tentang ini..” Gumam Zahra dengan air mata haru yang menetes membasahi pipinya.
Zahra tidak menyangka jika penantian panjangnya akan berakhir hari ini.