
Merasa kesal karna Faza yang berlari begitu saja mengikuti Zahra, Sinta pun langsung berlalu keluar dari kediaman Faza dan Zahra. Sinta langsung pulang tanpa berniat sedikitpun untuk menunggu sampai cucunya diam dari tangisnya.
“Dasar perempuan tidak tahu diri.” Umpatnya kesal sembari melangkah keluar dari kediaman putra sulungnya itu.
Sementara Devan, pria itu tidak lagi pergi setelah putranya diam. Devan merasa tidak tega jika harus meninggalkan Zahra dirumah dalam keadaan hati yang tentu tidak baik baik saja setelah apa yang Sinta ucapkan padanya. Karena apa yang Sinta ucapkan tadi memang sudah sangat keterlaluan.
“Mas.. Aku bisa jelasin semuanya. Apa yang mamah bilang itu tidak benar..” Ujar Zahra saat mereka berdua sedang berbaring miring berdua dengan Fahri yang berada ditengah antara dirinya dan Faza.
Faza tersenyum kemudian meraih tangan Zahra. Faza mencium punggung tangan istrinya lama.
“Aku percaya sama kamu sayang.. Aku yakin ini hanya kesalah pahaman.” Katanya.
Zahra ikut tersenyum. Meskipun demikian Zahra tetap merasa bersalah karna sudah menjadi penyebab Faza dan mamahnya berdebat.
“Aku nggak tau kenapa pak Santo begitu sangat keras kepala dan tetap datang kesini. Padahal sumpah mas aku sudah memberi kode keras agar dia pergi. Tapi dia tetap saja tinggal dan duduk dengan santai seolah sedang berada dirumahnya sendiri.”
Faza pikir mungkin memang Santoso harus ditegaskan. Selain karna sudah mengganggu kenyamanan istrinya, Santoso juga sudah menimbulkan kesalah pahaman antara Zahra dan mamahnya.
Faza merasa apa yang Santoso lakukan sudah tidak bisa lagi di maklumi. Faza tau bagaimana rasanya mencintai. Tapi seharusnya Santoso sadar bahwa wanita yang di cintainya adalah wanita yang sudah bersuami. Ditambah lagi wanita tersebut adalah istrinya yang sudah jelas tidak sedikitpun memiliki rasa untuk Santoso.
“Tidak perlu dipikirkan sayang.. Aku percaya sama kamu...” Senyum Faza kemudian mengecup singkat kening Zahra.
“Fahri sudah bobo lagi. Lebih baik sekarang kamu istirahat juga sayang..”
“Terus kamu...”
“Aku akan disamping kamu sampai kamu membuka kembali kedua mata kamu.” Senyum Faza berkata dengan sangat lembut.
Zahra menganggukan kepalanya kemudian mulai memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
Sedang Faza, pria itu dengan lembut terus mengusap usap kening Zahra. Faza bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi Zahra. Berada diposisi serba salah membuatnya bingung tidak tau harus melakukan apa.
“Aku janji Zahra... Aku akan selalu percaya sama kamu... Aku tau kamu tidak salah..” Batin Faza terus menatap Zahra yang mulai masuk kedalam mimpinya.
Setelah Zahra benar benar terlelap dalam tidurnya, Faza pun bangkit dan turun dari ranjang. Faza meraih ponsel yang sebelumnya sudah dia letakan diatas nakas samping tempat tidur mereka. Faza kemudian segera menghubungi Reyhan dan meminta agar Reyhan membawakan berkas berkas yang harus dia pelajari hari ini. Ya, Faza berniat bekerja dari rumah.
Setelah menghubungi Reyhan, Faza baru teringat akan mamahnya yang tadi dia tinggalkan begitu saja diruang tamu. Faza melepas jas hitamnya kemudian bergegas keluar dari kamarnya untuk menemui Sinta yang Faza pikir masih berada diruang tamu.
Begitu sampai diruang tamu, Faza tidak menemukan Sinta disana. Disana hanya ada mbak Lasmi yang sedang membereskan barang barang yang dibawa Santoso untuk Zahra dan Fahri.
“Mbak..” Panggil Faza pada mbak Lasmi.
“Ya tuan..” Saut mbak Lasmi menganggukan kepalanya pelan.
“Mamah mana?” Tanya Faza.
Faza menghela napas. Sinta pasti sangat marah padanya juga Zahra.
“Ya sudah kalau begitu. Ah ya mbak, itu barang barangnya dikasih ke orang yang membutuhkan saja. Atau kalau memang mbak juga mau ambil aja. Terus nanti kalau ada Reyhan suruh langsung keruangan saya saja ya..”
“Oh iya tuan. Baik.” Angguk mbak Lasmi.
Setelah mendapat jawaban dari mbak Lasmi, Faza pun kembali berlalu dari ruang tamu menuju ruang kerjanya yang memang berada dilantai satu rumahnya.
Sesaat mbak Lasmi terdiam. Barang barang yang dibawa Santoso sangat banyak. Tapi mbak Lasmi merasa tidak memerlukan semua itu karna mbak Lasmi memang sudah tidak punya siapa siapa lagi.
“Saya kasih ke pak satpam saja kali ya.. Mungkin bisa berguna kalau buat pak satpam..” Gumam mbak Lasmi pelan kemudian meraih semua paperbag itu membawanya keluar untuk diberikan pada pak satpam yang sangat gembira mendapatkan barang barang tersebut dari mbak Lasmi.
Tidak lama Reyhan pun datang dengan membawa berkas berkas yang di inginkan Faza. Seperti apa yang Faza katakan, mbak Lasmi pun menyuruh agar Reyhan langsung menemui Faza diruangan-nya.
__ADS_1
“Ada lagi yang bisa saya bantu pak?” Tanya Reyhan setelah memberikan berkas yang di inginkan Faza.
Faza diam sesaat. Faza menghela napas dan menatap Reyhan yang duduk didepan-nya.
“Sebenarnya saya ingin minta tolong sama kamu Reyhan. Tapi ini bukan tentang pekerjaan diperusahaan.” Ujar Faza membuat Reyhan mengeryit.
“Apa itu pak?” Tanya Reyhan penasaran.
Faza menghela napas sekali lagi. Pria itu tampak berpikir sebelum mengutarakan apa yang sedang berada di kepalanya.
“Begini Reyhan.. Ini tentang istri saya.. Dia pernah bekerja disebuah Restoran. Dan tiba tiba saja mantan bosnya muncul kemudian mengganggu istri saya. Saya sudah memperingatinya tapi dia tidak juga perduli dan tetap mendekati istri saya. Bahkan tadi dia datang dan langsung bertemu dengan mamah saya yang kebetulan juga datang sendiri kesini. Karna hal itu mamah saya salah paham dan menganggap istri saya punya hubungan dengan mantan bosnya itu.”
Reyhan menganggukan kepalanya mengerti mendengar cerita panjang lebar Faza. Reyhan merasa jika dirinya berada diposisi Faza juga pasti dirinya akan melakukan sesuatu agar tidak ada yang mengganggu istrinya.
“Lalu apa yang harus saya lakukan pak?” Tanya Reyhan pelan.
“Saya minta tolong untuk kamu cari tau segala sesuatu tentang dia. Namanya Santoso. Saya akan kirimkan alamat restoran-nya sama kamu nanti.” Jawab Faza.
“Baik pak. Ada lagi yang lain pak?”
Faza tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Tidak ada. Untuk sekarang hanya itu saja.” Jawabnya lagi.
“Baik. Kalau begitu saya permisi langsung kembali ke perusahaan pak. Selamat siang.”
“Ya.. Terimakasih ya Rey..” Senyum Faza menganggukan pelan kepalanya.
Setelah Reyhan berlalu keluar dari ruangan-nya, Faza pun mulai membuka dan membaca berkas berkas yang dibawa Reyhan. Teringat akan apa yang di ucapkan-nya pada Zahra sebelum Zahra tertidur tadi, Faza pun bangkit dari duduknya. Faza juga meraih laptop miliknya dan membawa berkas juga laptop tersebut keluar dari ruangan-nya. Faza bermaksud mengerjakan pekerjaan-nya dari rumah sambil menemani istri juga putranya yang sedang beristirahat dikamar mereka.
__ADS_1