
Rasya benar benar tidak bisa menahan emosinya yang sangat membludak begitu sampai dikantornya. Rasya menghancurkan segala apa yang disentuhnya. Rasya bahkan juga sempat memarahi sekretarisnya tanpa alasan yang jelas.
Kenyataan Anita semakin pergi jauh darinya membuat hatinya benar benar hancur. Rasya sudah terlanjur mencintai Anita. Namun ternyata Anita hanya menjadikan-nya sebagai pelampiasan saja. Hal yang tidak bisa begitu saja Rasya terima.
“Brengsek !! ARRRGGHHHH !!”
Rasya menjatuhkan semua yang ada dimeja kerjanya. Sekretarisnya yang melihat langsung kejadian itu segera menghubungi orang tua Rasya.
Tidak lama setelah dihubungi, Bunda Rasya datang dengan gaya elegan-nya. Wanita yang memang masih semangat berkarir di usianya yang sudah tidak bisa lagi dikatakan muda itu masuk kedalam ruangan Rasya yang sudah seperti kapal pecah. Semua berkas berceceran dimana mana. Vas vas bunga pecah menjadi kepingan kecil yang siap melukai siapa saja yang menyentuhnya.
“Rasya...” Panggil bunda Rasya tenang.
Rasya yang sedari tadi menunduk perlahan mengangkat kepalanya. Tatapan-nya langsung bertemu dengan tatapan tenang bundanya.
“Bunda...” Lirih Rasya.
Wanita dengan dress hitam polos itu menggelengkan kepalanya. Dengan pelan dan hati hati dia mendekat pada Rasya dan duduk tepat disamping Rasya yang duduk dipojok ruangan.
“Tidak perlu seperti ini Rasya. Ayo bangun.”
Bunda Rasya mengulurkan tangan-nya pada Rasya yang tidak langsung diterima oleh Rasya. Tentu saja, bagi Rasya melupakan Anita tidak semudah seperti apa yang Tina dan bundanya katakan. Cinta sudah berhasil menguasai hati dan pikiran Rasya. Dan sekarang Cinta itu pula yang menghancurkan Rasya.
“Rasya, ayo bangun..”
“Tapi bunda...”
“Perempuan didunia ini bukan hanya Anita saja. Tunjukan bahwa kamu bisa mendapatkan yang lebih segalanya dari Anita.” Tegas bunda Rasya menyela.
Rasya menatap tangan bundanya kemudian menganggukan kepalanya. Dengan mantap Rasya meraih tangan itu dan bangkit dari duduknya.
“Lebih baik sekarang kamu ikut bunda pulang dan istirahat. Dengar Rasya, mulai sekarang kamu tidak boleh lagi mengingat apapun tentang Anita. Lupakan dia dan cari perempuan yang bisa menerima kamu dengan segala kekurangan kamu. Bunda yakin kamu bisa. Kamu bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik daripada Anita. Mengerti?”
Rasya menatap wajah cantik wanita yang selalu terlihat tegas dan tangguh itu. Wanita yang juga pernah merasakan kegagalan dalam merajut cinta bersama papahnya. Wanita yang sampai saat ini tidak bisa lagi mempercayai pria manapun untuk menjaga hatinya.
“Ya bunda..”
“Bagus. Sekarang ayo kita pulang.”
Rasya hanya diam saja saat bundanya meraih tangan-nya dan menuntun-nya keluar dari ruangan-nya yang sangat berantakan itu. Rasya percaya apa yang bundanya katakan memang bisa dia lakukan.
__ADS_1
“Anita.. Mulai sekarang pergilah kemanapun kamu mau. Aku akan benar benar melupakan kamu, selamanya.” Batin Rasya sembari melangkahkan kakinya dengan sang bunda yang terus menggandengnya.
Ucapan bundanya benar benar berhasil mengalihkan pemikiran Rasya. Rasa kehilangan yang menyayat hatinya berubah menjadi rasa benci yang mungkin tidak akan terobati meskipun Anita datang dan bersimpuh dikedua kakinya untuk meminta maaf atas apa yang sudah dilakukan-nya.
Rasya kini percaya bahwa Anita memang bukan wanita yang baik untuknya. Rasya yakin dirinya akan bisa mendapat wanita yang jauh lebih baik dari segala hal dari pada Anita.
--------------
“Serius? Kamu udah dijalan?”
Nadia yang sedang menemani Zahra ditaman belakang rumah menatap penuh rasa penasaran pada Zahra yang begitu antusias saat menerima telepon dari Tina.
“Ya.. Kamu mau aku bawain apa?” Saut Tina dari seberang telepon dan bertanya apa yang sedang Zahra inginkan.
Zahra menggelengkan kepalanya.
“Tidak, tidak perlu membeli apapun. Aku tunggu kamu datang yah...”
Zahra menyudahi telepon-nya setelah itu. Wanita yang sedang hamil tua itu merasa sangat bahagia karna sebentar lagi akan berjumpa dengan sahabat dekatnya.
“Ada apa Ra?” Tanya Nadia yang memang datang sejak pagi sebelum Faza berangkat ke kantor.
“Pantes kamu kaya seneng banget. Oya Ra, abis ini kakak langsung pulang yah...”
Ekspresi Zahra langsung berubah sendu.
“Kok pulang sih?” Tanyanya sedih.
“Ya kan kakak harus jemput Arka.. Kakak juga harus masak buat nanti kakak kamu pulang kerja kan? Sebentar lagi ada Tina ini yang bakal nemenin kamu..”
Zahra menghela napas. Semakin bertambahnya usia kandungan-nya, Zahra memang semakin manja pada orang orang didekatnya. Zahra bahkan berani meminta agar Nadia datang kerumah hanya untuk meminta mengobrol saja. Padahal jika hanya ingin mengobrol tentu mereka bisa mengobrol lewat sambungan telepon.
Beruntungnya Nadia sangat menyayangi Zahra seperti Aries menyayangi Zahra sehingga Zahra merasa tidak canggung meskipun Nadia adalah kakak iparnya.
Tidak lama Tina datang dan Nadia pun segera pamit untuk menjemput Arka kemudian langsung pulang.
“Kamu masih ingat kak Anita kan Ra?” Tanya Tina dengan ekspresi sendu.
“Tentu saja.. Memangnya kenapa dengan Anita?” Tanya Zahra tenang.
__ADS_1
Tina menghela napas.
“Kak Anita, dia dan kak Rasya tidak jadi menikah. Kak Rasya membatalkan pernikahan mereka begitu saja.”
Zahra terkejut mendengarnya. Zahra menutup mulutnya tidak menyangka dengan apa yang akan menimpa Rasya.
“Loh kok bisa? Memangnya kenapa?” Tanya Zahra lirih.
Tina menggeleng pelan.
“Kak Anita masih menyimpan rasa sama suami kamu Ra. Dan dia jujur pada kak Rasya sehingga kak Rasya emosi dan kecewa kemudian membatalkan begitu saja pernikahan-nya tanpa lebih dulu berpikir panjang.”
Zahra diam. Zahra pikir Anita sudah benar benar melupakan suaminya. Tapi nyatanya bahkan seorang Rasya tidak mampu membuat Anita melupakan Faza.
Perasaan Zahra sekarang mulai gelisah. Anita dan Faza masih bekerja diperusahaan yang sama. Meskipun sekarang mereka bukan lagi partner kerja, namun kemungkinan mereka sering bertemu itu pasti selalu ada. Zahra takut Anita kembali mencoba menggoda suaminya.
“Ra...”
Sentuhan lembut tangan Tina dibahu Zahra membuat Zahra tersentak. Zahra tersadar dari lamunan-nya kemudian menoleh dan tersenyum pada Tina yang duduk disampingnya.
“Eh iya Na...”
“Kenapa? Kok jadi kamu yang ngelamun?” Tanya Tina pelan.
Zahra diam tidak tau harus menjawab apa. Malu rasanya jika dirinya jujur bahwa dirinya takut Faza tergoda dengan Anita yang tentu jauh lebih sempurna dari dirinya.
“Kamu takut kak Anita merayu suami kamu ya?” Tebak Tina yang begitu tepat sasaran.
Zahra hanya menelan ludah saja. Zahra berpikir dirinya akan memberitahu pada suaminya nanti tentang apa yang baru saja dia dengar dari Tina, sahabatnya.
“Aku percaya pada suamiku Tin..” Katanya berusaha menutupi ketakutan yang melanda hatinya saat ini.
Tina tersenyum mendengarnya.
“Baguslah kalau begitu. Kepercayaan memang penting dalam sebuah hubungan.”
”Permisi bu Zahra..”
Zahra dan Tina langsung menoleh saat suara Reyhan terdengar dari arah pintu. Tina langsung bangkit dari duduknya begitu mendapati sosok yang sangat tidak asing baginya.
__ADS_1
“Kamu?”