Pernikahan Sementara

Pernikahan Sementara
Bab 99 Kecantikan Yang Tak Tertandingi


__ADS_3

Tiga laki-laki itu menoleh ke perempuan di seberang mereka, mereka terkaget hingga tak bisa berkata-kata.


Tak ada yang berani memulai percakapan. Melihat tatapan mereka, Lina Hua diam saja sambil menghabiskan mienya lalu pergi meninggalkan mereka.


“Ya Tuhan…… Bro, kalian lihat dia? Apakah dia hanya ilusi saja?”


“Nggak. Kita juga lihat kok.”


“Wah…… cantiknya……. ya Tuhan, apakah barusan aku melihat seorang artis, mengapa dia terlihat begitu cantik?”


“Aku tak tahu. Mungkin saja ia aktris reality show, mungkin dia bintang film.”


Mereka saling berbisik sesaat setelah Lina Hua meninggalkan mereka.


Setelah makan, Lina Hua mengelilingi kampusnya lagi.


Agar tidak menarik perhatian banyak orang saat ia berkeliling, ia menarik pinggir topinya hingga wajahnya tak kelihatan.


Rika membawa mobil Audi A8 untuk menjemputnya pukul 1 siang.


Lina Hua memintanya menjemput di gerbang yang sepi.


Sang nona dan pembantunya pergi dari kampus.


“Nona, bagaimana pelajaran hari ini?”


“Lumayan. Aku tak begitu menyukainya, tapi juga tak membencinya.”


“Sudah mulai belajar? Bagaimana teman-teman sekelasmu?” Rika amat antusias bertanya padanya.


Lina Hua menggelengkan kepala, “Hari ini baru daftar ulang, masih belum masuk kelas. Aku hanya berkeliling di sekitar kampus, lalu membaca buku di perpustakaan.”


“Wah, bagus sekali. Lagipula, kamu pasti akan bosan jika sendirian di rumah. Belajar pasti lebih menyenangkan.”

__ADS_1


Lina Hua hanya tersenyum dan melihat keluar jendela, lalu berdiam.


Dia memang biasanya lebih sering diam.


Malamnya, John Jiang baru pulang sekitar jam 7 malam.


Setelah mandi, Lina Hua duduk minum teh di balkon lantai atas.


John Jiang mengetuk pintu.


Ia melihat Lina Hua duduk di balkon lantai atas sambil menggunakan jubah mandi.


Rambutnya yang masih basah memancarkan pesona dirinya.


John Jiang menenangkan dirinya sambil berkata, ” Lina, sepulang kerja aku pergi ke mal dan membelikanmu beberapa barang. Coba kamu lihat.”


Ia menyerahkan boxnya, Lina Hua mengecek sekilas.


Di paling atas ada


Dibawahnya ada bolpoin merk Parker dan produk kecantikan edisi terbatas yang harganya sekitar beberapa ribu.


Di paling bawah ada payung anti UV, yang harganya kurang lebih ribuan juga.


Semua barang itu amat berguna dan fungsional.


“Aku sudah punya ponsel.” katanya dengan lembut.


“Aku tahu kau sudah punya, tapi merk ini amat bagus. Kamu bisa mengambil foto pemandangan yang indah……”


Lina Hua tak menjawabnya, karena memang belakangan ini ia suka mengambil foto, tapi semuanya hanya foto pemandangan.


Setelah pulang, ia baru menggambar diatas fotonya itu.

__ADS_1


Sebenarnya sebelum itu dia berencana untuk pergi membeli handphone, tapi ia tak tertarik untuk pergi ke pusat penjualan handphone.


John Jiang membelikannya, dia merasa ponsel itu akan sangat berguna.


Pen dan payung juga amat berguna untuk sehari-hari.


Lina Hua memandang John Jiang, “Baiklah, taruh saja disini. Aku akan menyuruh Rika untuk mengembalikan uangmu.”


“Terjadi lagi.” John Jiang juga tak bisa berbuat banyak.


Sekalinya ia diberikan barang, ia akan mengembalikan uangnya dengan segera. Ia merasa tidak terbiasa dengan perlakuan semacam itu.


Ia mencoba untuk bersabar sambil berkata padanya, ” Lina, kamu adalah istriku, aku akan memberimu hadiah. Biasa…………. Ada apapun langsung diberikan uang. Dasar orang kaya.”


“Tapi aku tak ingin berutang padamu. Kita kan bukan suami istri beneran.” sanggahnya.


“Kamu salah, aku memang ingin memberikannya padamu. Bisnis keluarga Jiang amat sukses, kami tidak kekurangan apapun…… SIkapmu barusan itu…… seolah-olah menyatakan kalau keluargaku miskin.”


Lina Hua: ……


Lina Hua masih belum terbiasa dengan candaan John Jiang.


Tanpa menunggu tanggapannya, John Jiang menghampirinya dan mengusap kepalanya dengan lembut.


Kehangatan telapak tangannya terasa di sekujur tubuhnya……


“Keringkan rambutmu setelah mandi, kalau tidak kamu akan sakit flu.”


Lina Hua sebenarnya ingin mengatakan sesuatu……


Lalu ia lanjut berkata, “Besok kamu harus pergi ke kampus, tidurlah lebih awal.”


Suaranya amat lembut, untuk sesaat Lina Hua merasa sedikit terkejut……

__ADS_1


Sebuah ilusi yang menunjukkan dua orang yang saling mencintai.


__ADS_2