
Hello! Im an artic!
“Sekarang semua mengintimidasiku, satu per satu, kalian datang menginjak-injakku. Apakah dia tidak bercermin dia sendiri seperti apa? Berani mengguruiku? Apakah kau sadar? Hanya seorang guru miskin bergaji beberapa juta per bulan, punya hak untuk mengguruiku? Apa-apaan.”
Tak tahu apa yang harus dilakukan, Lisa Hua menyemprot adik keempat. Saudari-saudari yang lain menjadi marah dan hendak berdiri.
Hello! Im an artic!
Namun dihentikan oleh Peter Hua, ia berdiri. “Hari ini sampai disini, inilah hasilnya, tak peduli kau menerimanya atau tidak, mari membubarkan diri, aku sedikit lelah.”
Setelah ayahnya berbicara, yang lain tentu tak lagi mendebatnya…
Lisa Hua tentu tidak menerimanya, ia berlari, berlutut di hadapan ibunya, dan menangis terisak-isak.
“Ibu, lihat apa yang mereka lakukan padaku, mereka berusaha mendorongku sampai titik terakhir, bu, kau paling menyayangiku, tolonglah aku.” Saat itu, ia baru menyadari, masih ada ibunya sebagai harapan terakhirnya. Sebelum Lisa Hua menikah, Nyonya Hua paling menyukainya.
Hello! Im an artic!
Karena apa? Mulut Lisa Hua sangat manis, Nyonya Hua selalu membawanya kemanapun ia pergi, di antara 5 bersaudara, uang saku Lisa Hua juga yang paling banyak.
Bahkan hadiah ulang tahunnya setiap tahun, juga paling mahal dibandingkan saudari-saudarinya, ini adalah pilihan ibunya, namun…
__ADS_1
Nyonya Hua menangis sampai air matanya kering, selama setengah tahun ini, terjadi perubahan besar dalam keluarga Hua, dan ia juga menjadi jauh lebih kurus.
Keadaan psikologisnya juga tidak baik, maka banyak hal yang tak bisa lagi ia lakukan.
“Lisa, kau masih anakku, patuhlah… jangan banyak bertingkah lagi, ibu sudah tua, juga tak ingin terlalu mengurusi, tapi tentu saja aku juga tak ingin melihat kalian saling membunuh, beberapa hari ini aku berencana pergi ke Kota Nanfang untuk menghadiri misa, akan ada seorang biksu dari Emperor Temple yang mengajar, apakah kau mau pergi mendengarnya bersamaku?”
Lisa Hua tertegun… ia merasa ibunya sedikit… berbeda.
“Kenapa kamu begitu bersusah payah seumur hidup, dulu pandanganku juga tak terbuka, maka aku menderita… Lisa, jangan jadi seperti ibumu.”
“Ibu, apakah kau gila? Kau ingin pergi ke kuil? Jangan pergi, kau harus tetap disini, bersama memperjuangkan properti ini denganku, atau para serigala ambisius itu akan membaginya secara tidak adil, mereka semua orang asing… bu, jangan mempercayai mereka. Mereka semua sudah menikah, mengambil uang kita untuk diberikan pada keluarga mertua, hanya aku, aku tak punya anak, dan tak mencintai suamiku, aku dengan sepenuh hati hanya memikirkan keluarga Hua.”
Lisa Hua terkejut, tak tahu bagaimana menjawabnya.
“Lisa, akui saja, di matamu hanya ada dirimu sendiri, hal yang kusesali adalah… saat kau kecil aku terlalu banyak mengajarimu tentang bisnis, namun tak mengajarimu bagaimana menjadi manusia…”
Setelah mengatakannya, Nyonya Hua meraba butiran tasbih di pergelangan tangannya, sambil berbalik untuk naik.
Akhirnya, semua telah bubar… Lisa Hua duduk sendirian di ruang tamu dalam waktu yang lama, dengan ekspresi kosong.
Semua ini terjadi begitu saja, ia tak hanya disingkirkan dari perusahaan, namun juga dari keluarganya.
__ADS_1
Sekarang ia telah menjadi buangan keluarganya, ia sudah 31 tahun, tak muda lagi.
Orang bilang usia 30 an tahun adalah yang paling cemerlang, sedangkan ia, tabungan beberapa triliunnya, hilang dalam sekejap.
Rasanya ia tak memiliki apa-apa lagi… bahkan rasa kasih sayang itu telah sirna.
“Ibu…” Akhirnya, Lisa Hua menangis terisak, tak tahu apakah karena menyesal atau sakit hati.
Gerbang rumah orangtua.
“Ayo, ku traktir kalian makan hotpot, mari bersenang-senang.”
Lili Hua menghembuskan nafas lega, dengan santai bersandar di bahu Sony Wang.
“Adik kelima, aku ingin berterimakasih padamu dan suamimu, kontribusi kalian sangat besar, tak hanya kalian berhasil menghalanginya kabur, juga mengembalikan uangnya.” Linda Hua semakin menghormati pasangan suami istri John Jiang dan Lina Hua.
“Ini adalah masalah keluarga kita juga, tak perlu sungkan.” Lina Hua masih menjaga jarak dengan Linda Hua.
Lika Hua yang sedari tadi diam, tiba-tiba menanyakan sebuah pertanyaan yang sangat aneh.
“Menurut kalian, orang seperti kakak kedua ini, pernahkah seumur hidupnya ia mencintai orang lain dengan tulus, tanpa perhitungan, tanpa terlibat konspirasi, dengan tulus mendoakan orang lain bahagia?”
__ADS_1