
Hello! Im an artic!
Lina Hua menutup matanya dan tidak berani mendengar lagi, karena mengira yang dikatakan John Jiang adalah, aku akan menghabiskanmu, atau tidak mau lagi dengan kamu.
Akhirnya John Jiang menggunakan tenaga yang begitu besar, lalu, “Aku akan……menangis didepanmu.”
Hello! Im an artic!
Lina Hua:……
“Dengar tidak?”
“Hmm……Tuan Jiang, aku mengira kamu akan berkata, kesalahan aku yang lain.”
“Jangan bodoh lagi, kesalahan kamu, aku kemana lagi mencari istri seperti mu? Didunia ini hanya ada satu Lina Hua.”
Hello! Im an artic!
Lina Hua seketika terkejut, dipeluk erat oleh John Jiang.
“Tuan Jiang, kamu jangan marah ya?”
“Marah.”
“Kalau begitu kenapa kamu bisa mencari aku?”
“Kalau bukan karena perasaan seseorang sedang kesal, memainkan piano disini, aku datang untuk melihat?”
“Terimakasih, suamiku, saat aku sedih selalu ada kamu…….”
Lina Hua mengulurkan tangannya, memeluk erat John Jiang.
__ADS_1
Dari awal neneknya meninggal, sampai akhirnya Lisa Hua ingin merebut warisan keluarganya, ada orang yang menyebarkan berita buruk itu, John Jiang mengeluarkan ekspresi berlebih.
Kemudian Sapphire mengaduk cerita, John Jiang menghadapi tekanan, sebenarnya paling penting waktu itu, John Jiang selangkah demi selangkah, memohon ke kuil.
Walaupun kemudian John Jiang menghilangkan ingatannya seketika waktu, tetapi Lina Hua ingat.
John Jiang yang begitu baik, memberikannya, ternyata didapati olehnya.
Dulu dia selalu membahas tentang kehidupan sendiri, nasibnya naik turun, kekeluargannya tipis.
Kemudian, dia baru sadar, kehidupannya ini sudah menghabiskan seluruh nasib baiknya, atau hanya untuk bertemu dengan John Jiang.
Demi John Jiang, dulu kesusahan dua puluh tahun yang lalu termasuk apa?
Rika baru pulang tengah malam ini, karena Jeskry Wu tiba-tiba ada masalah, tengah malam baru pulang.
Saat ingin pergi, keduanya masih dengan berat hati.
“Masalah itu, ingat untuk berkata dengan Lina Hua.”
“Aku menunggumu.”
“Baik.”
Rika sangat puas, selalu mengira dirinya akhirnya membuka kejelasan, siapa tahu……ini hanya pintu masuk neraka.
Saat Rika pulang, Lina Hua tidak tidur, tetapi dia tidak menunggu di ruang tamu.
Sampai subuh hari, saat Lina Hua dan John Jiang makan dilantai bawah.
Rika membawa sarapan dari dapur, ternyata dibanding biasanya lebih baik.
__ADS_1
Bubur yang dibuat dengan hati, dan masih ada empat tumisan sayur, dan kesukaan Lina Hua mie jagung sayur.
“Nona, mie kesukaan kamu.”
Rika memberikannya kepada Lina Hua, Lina Hua menerimanya, juga tidak berkata apa-apa.
John Jiang, termasuk Ella tidak ada yang membahas yang tidak pulang dari kemarin.
Kemudian Rika masih tidak tahan, dan berkata:”Nona, kemarin aku……”
“Ella, ambilkan aku segelas air.”
“Baik.”
“Nona, aku sebenarnya……”
“Suamiku, aku nanti boleh duduk dimobilmu pergi ke tempat kakak ke empatku tidak, aku ingin menemuinya.”
“Baik, masih pagi, dia sudah bangun belum?” John Jiang memperlihatkan jam tangannya, baru jam setengah tujuh, nanti kalau berangkat kesana, sepertinya akan jam tujuh lebih.
“Kakak ke empatku setiap hari bangun pagi, dan olahraga pagi, sangat aktif.” Lina Hua tersenyum.
“Okelah, tidak masalah.”
Rika begitu, beberapa kali ingin menjelaskan kejadian semalam, selalu dihalang oleh Lina Hua, akhirnya tidak bisa menjelaskan.
Setelah makan, Lina Hua ikut keluar dengan John Jiang.
Ella bagaimana, malahan pergi pacaran, dirumah sisa Rika sendirian.
Rika mengira, nona akan marah, jadi semuanya meninggalkannya sendiri……
__ADS_1
Sebenarnya bukan.
Ditengah jalan, John Jiang bertanya,”Lina, kamu tidak seperti bisa menjauhi orang, terutama dirinya sendiri, kamu begitu……apa tujuannya? Rika sangat canggung.”