
Hello! Im an artic!
Begitu dia berkata begini, Benard Bai juga takut, “Tidak akan tidak akan, kamu jangan sembarangan berpikir, bukankah dokter sudah bilang? Kamu bukan hanya tidak apa-apa, sampai penyakit di dalam badan sudah tidak ada lagi, bagus sekali, nanti akan hidup panjang umur, kelima kakak beradik percaya pada Buddha, sama seperti nenek, sepertinya mantra yang dibacakan itu sungguh membuat Bodhisatva terharu, Bodhisatva mengasihani kamu dan aku. Memberikan kamu kesempatan memulai dari baru, kita harus baik-baik.”
“Kamu orang bodoh ini, bagaimana ada hal yang begitu bagus.”
Hello! Im an artic!
“Aku tidak perduli aku tidak perduli, pokoknya kali ini kamu tidak boleh pergi, nanti juga tidak boleh.”
Benard Bai juga tidak berani tidur, matanya terus menatap Lika Hua, sebenarnya dia juga takut dirinya tertidur dan terjadi hal yang tidak disangka.
Saat ini, didalam rumah Windi Feng .
Windi Feng bangun di tengah malam jam sebelas, mengambil beberapa kaleng bir dari dalam kulkas.
Hello! Im an artic!
Sampai tidak ada makanan, hanya minum, dan membuat Andy Qin terkejut.
Awalnya Andy Qin sudah pindah, tapi kemudian muncul masalah ayah ibunya itu, dia lalu meminjam kesempatan pindah kembali.
SyukurlahWindi Feng tidak berkata apa-apa, maka dia berdiri pergi ke toilet kemudian sampai ke ruang makan.
“Minum dingin begini di tengah malam, apa bisa tahan?”
“Tidak apa-apa, nyawaku kuat.”
__ADS_1
“Kamu sedang ada pikiran?”
“Apakah aku ada?” Windi Feng memiringkan kepala melihatnya.
“Ada, kamu terlihat stress, sepertinya sudah tertulis—Aku ada pikiran.”
“Aduh……” Windi Feng menghela nafas pelan.
“Ceritakanlah, aku bantu kamu memikirkan cara.” Andy Qin berjalan kemari dan duduk disampingnya.
Juga sekalian mengambil sekaleng bir menemaninya, kedua orang sepertinya lupa tindakan buruk setelah mabuk yang dulu.
“Kamu tidak bisa membantu masalahku, juga tidak ada cara, masalah ini……Tidak ada cara.”
Wajah Windi Feng sangat marah, juga sudah bilang tidak perduli pada hidup mati Lina Hua.
Biarkan dia mati seorang mati menghadapi prajurit neraka saja, bagus juga kalau mati, anggap saja tidak ada teman bodoh yang ini.
Windi Feng masih mengkhawatirkan keselamatan Lina Hua, terutama saat sebelum makan ada petir yang tidak biasa itu.
Ini bukan petir yang biasanya, Windi Feng selalu merasa mala mini tidak baik.
Mungkin dunia neraka sudah marah dan mau membawa Lina Hua kebawah untuk diinterogasi?
Atau raja neraka langsung memberi hukuman mati? Menyuruh prajurit neraka langsung membunuh Lina Hua?
Windi Feng makin pusing memikirkannya, sampai muak melihat Andy Qin.
__ADS_1
“Menurutku……Kamu jangan begini, aku hampir depresi melihatmu begini, kamu katakanlah, hatimu akan lebih nyaman kalau mengatakannya keluar.”
“Apakah ada gunanya kalau dikatakan keluar? Orang awam tidak akan mengerti tentang ini.”
Andy Qin:……
Baiklah, dia sudah terbiasa, sering dipanggil orang awam oleh Windi Feng , awalnya dia sedikit bigung, kemudian dia masih lumayan suka pada panggilan ini, merasa lucu.
“Tidak seperti orang awam seperti kami, bagaimana merasakan perbedaan kalian?”
“Jangan ribut……Aku tidak semangat.” Windi Feng mendorong Andy Qin.
“Tegas sekali……Eh, baiklah, tidak membuatmu marah lagi, menghindari menyentuh sarang tawon.”
Andy Qin dapat melihatWindi Feng bukan hanya suasana hatinya tidak bagus, tapi sudah hampir gila, karena pandangannya sangat melayang, seperti terus bingung tentang sesuatu.
Dia juga tahu dirinya tidak bisa ikut campur dalam masalahWindi Feng , itu hal yang tidak nyata.
Dari hal Desi Zhongitu dapat terlhihat, maka Andy Qin juga tahu diri, menghindar dengan diam-diam.
Windi Feng melemparkan kaleng bir yang kosong ke tempat sampah, berdiri melihat keluar jendela.
Waktu semakin dekat, tidak tahu bagaimana gerakan di dunia neraka?
Apakah Lina seorang diri dapat menghadapinya? Prajurit neraka sangat memiliki kekuatan berperang, saat kakek masih hidup juga tidak berani menyentuh mereka.
Pada saat yang bersamaan, masih ada seseorang yang terbalik dengan mereka, sangat gembira, sangat menanti malam ini.
__ADS_1
Sapphire berdiri didepan jendela dan tertawa menyeringai saat melihat bulan terang yang bulat itu.
“Lina Hua, malam ini jangan biarkan aku kecewa padamu, harus mempertunjukkan dengan bagus.”