
Hello! Im an artic!
“Besok malam aku mau mengundang temanku untuk makan malam.”
“Eh? Teman yang mana?”
Hello! Im an artic!
Lina sendiri bukanlah orang yang suka berteman, jadi mengundang orang ke rumahnya seperti ini bukanlah kebiasaannya.
“Kamu mengenal semuanya kok, Andy, Rony, dan Sony. Tentu saja, untuk meramaikan suasana, aku juga berencana memanggil Lili, Lika, dan Benardi. Aku harap kamu setuju, lagipula kamu juga yang akan mengundang mereka.
Mungkin takut Lina salah sangka, jadi John menambahkan, “Mereka belum pernah mampir kesini sejak kita menikah dan pindah ke tempat ini, kelihatannya seperti aku tak ingin teman-temanku datang ke rumah. Aku rasa ini tidak wajar.”
Lina berpikir sejenak, lalu mengangguk, “Baiklah, aku setuju.”
Hello! Im an artic!
“Terima kasih istriku.” John merasa puas, ia tak dapat menahan rasa senangnya, mencium dan mengelus rambut hitamnya yang panjang.
Sebenarnya, dia juga menebak kalau ia akan setuju. Dia bukan orang yang ribet.
__ADS_1
Walaupun dia suka berdiam, bukan berarti dia tidak ingin bertemu dengan teman-temannya.
“Apa makanan yang harus kita siapkan? Mengundang teman seperti ini…… aku tak begitu mengerti.”
“Tak apa, biar aku yang urus.”
“Aku akan meminta Rika dan Ella membantumu. Mereka jago memasak.”
“Tak usah, terlalu merepotkan. Aku akan membeli bahan hotpot dan seafood. Simple dan enak.” John sudah memikirknnya sejak awal, ia tak ingin merepotkan dua perempuan itu.
“Baiklah.” Lina setuju.
Orang-orang pasti akan datang ke perjamuan yang diadakan John, terlebih ia mengadakannya pada malam hari, hanya perlu menunggu mereka pulang kerja dan bisa makan dengan santai.
Lili dan Lika diberitahu via Wechat. Lili sebenarnya tak tertarik, tapi setelah mendengar kalau Sony akan datang, ia berubah pikiran.
Lina tak mengatakan apa yang dipikirkannya. Saat malam, mereka mendiskusikan buah dan makanan apa yang harus disiapkan untuk besok.
Lina tiba-tiba mersa ada banyak hal dalam hidup yang harus diurus dan diatur, walaupun dia sibuk dan tak punya waktu.
Sebenarnya Lina ingin memanggil Jessica untuk datang, tetapi dipikir-pikir lagi, rasanya tidak cocok.
__ADS_1
Jessica tak lagi berada dalam lingkaran pertemanan ini. Bukan karena latar belakang keluarga, tapi ia tak bisa berbaur dengan mereka.
Seperti Lika, Lika terlahir di keluarga kaya, ia sebenarnya hanya ingin hidup biasa saja, namun tetap saja ia tak bisa lepas dari kemewahan.
Jessica merasa tak percaya diri. Dia tak ingin karena ia mengundangnya, dia menjadi rendah diri. Setelah dipikir berulang kali, dia tak jadi mengundangnya.
Malam hari kedua, Lina memakai gaun resmi. Ia memakai rok panjang berwarna merah velvet, dengan manset renda dibagian pinggang.
Tipikal gaya retro dan panjang. Gaun ini gaun edisi terbatas yang diberikan neneknya di hari ulang tahunnya.
Dia tidak enggan untuk memakainya, hanya saja memang jarang memakainya karena terlalu kelihatan berbeda.
Namun hari ini untuk pertama kalinya ia menyambut teman-temannya. Ia merasa gugup, takut ia tak bisa menyambut mereka dengan pantas.
John melihat Lina sedikit gelisah. Ia menghiburnya agar ia baik-baik saja. Jam 7 malam, satu persatu orang berdatangan.
Meja makan restoran di Spring Mansion dipenuhi makanan yang amat lezat. Rika dan Ella disambut oleh John dan Lina untuk duduk bersama. Belasan orang membuat meja ini terasa ramai.
“Kakak ipar, aku dulu berpikir kamu semacam dewa. Sekarang tampaknya kau sudah sedikit merendah. Haha…… Bagaimana, apakah menikahi Jiang adalah keputusan yang tepat?” Rony
memang orang yang blak-blakan. Perkataan itu membuat Lina merasa malu.
__ADS_1