
Hello! Im an artic!
“Ya, senang, aku sangat senang, Lili Hua sangat baik, kamu sungguh sangat baik.” Nenek Wang yang sudah berumur, tidak menyangka akan dipermainkan oleh anak kecil, hatinya marah tapi tidak bisa berkata apapun, hanya mendesah dalam hati, apakah orang lebih bisa berakting dengan baik dibelakang layar.
Lili Hua sangat puas melihat reaksi nenek ini, dia sudah memikirkannya baik-baik saat di perjalanan, orang baik selalu diganggu, kali ini, pasti harus mengurus nenek.
Hello! Im an artic!
Saat ini, didalam kebun keluarga Gao yang didesain elegan.
Ayah Rong Gao bersantai sehari setelah meeting, pulang menemani istri dan putranya makan, sekeluarga tiga orang sedang gembira.
“Putraku, minggu depan ibu mau membawa tamu berlibur ke sebuah pulau pribadi di Maldives, apakah kamu mau ikut?” Ibu Rony Gao bertanya.
“Tidak pergi.” Rony Gao menolak dengan cepat.
Hello! Im an artic!
“Ah? Bukankah kamu paling suka berlibur?”
“Ah……Belakangan ini aku ada urusan, teman berulang tahun dan sebagainya, tidak bisa pergi.” Rony Gao meminum jus dengan takut.
“Apakah uang masih cukup?” Nyonya Gao bertanya.
__ADS_1
“Masih cukup.”
“Aku melihat bulan ini sangat sedikit menggunakan kartu kredit, baru menggesel tujuh puluh ribu lebih, sungguh jarang sekali.” Saat kemarin nyonya Gao melihat laporan kartu kredit tambahan di finance, dia sampai terkejut, putranya rupanya sebulan baru menghabiskan tujuh puluh ribu? Ini tidak pernah ada sebelumnya, biasanya setiap bulan Rony Gao juga mau menghabiskan lima ratus ribu lebih.
“Ah, belakangan ini aku tidak ada keinginan belanja.” Rony Gao tidak berani berkata kalau Ella yang mengontrolnya dan tidak membiarkan dirinya sembarangan menghamburkan uang.
Kencan belakangan ini selalu makan di tepi jalan, makanan cepat saji dan burger sejenisnya, menonton dan bermain game juga tidak perlu uang banyak.
Rony Gao sangat menyesal, ingin bersikap baik pada wanita yang disukainya dan menarik Ella pergi membeli baju, akhirnya dia rupanya pergi ke pusat grosir.
Membeli setumpuk pulang dan sekali membayar hanya lima ratus dolar, penilaiannya terhadap barang menjadi berubah.
Tapi dia senang dan Rony Gao juga pasrah.
“Benar, putraku, kartu ini kamu ambilah, didalam ada limit lima juta, aku baru mengurusnya.”
Nyonya Gao mengeluarkan sebuah kartu emas hitam dan meletakkan diatas meja, Rony Gao juga tidak merasa apa-apa, karena dari kecil sampai besar selalu begini, selalu mendapat apa yang diinginkan, tidak perlu terkejut.
“Ayah, ibu, aku sudah selesai makan, aku pulang dulu.”
Rony Gao menyimpan kartu emas hitam, berdiri dan pergi.
Melihat punggung putra, nyonya Gao mendesah, “Putra sudah besar dan sudah mengerti, sudah tahu menghemat uang kita.”
__ADS_1
“Benar, aku juga sangat lega, tidak percuma menyayangi dia……” Ayah Rony Gao juga menganggukan kepala, wajahnya serius.
Kalau Rony Gao mendengar ini, mungkin akan berkeringat, lagipula orang tuanya sungguh berpikir terlalu banyak.
Dia tidak dewasa, hanya berpacaran saja.
Rony Gao meninggalkan rumah dan mengendarai mobil bermain bola basket dengan temannya, dan tidak lupa mengirimkan pesan Wechat pada Ella.
Rony Gao: Ella, ibuku mau membawaku keluarga negeri, aku tidak pergi.
Ella: Kenapa tidak pergi?
Rony Gao: Masih bertanya, rindu padamu, aku tidak rela pergi.
Ella: Cuih, apakah kamu sudah selesai bermain, kaki sudah lelah dan tidak ingin bergerak.
Rony Gao: Ha ha ha, kamu berkata apa, kenapa begini? Apakah kamu tidak tahan kalau tidak membuatku marah?
Ella: Benar, aku jadi nyaman kalau membuatmu marah.
Rony Gao: Jangan ribut lagi, bicara serius, kamu minta libur pada kakak iparku Lina Hua selama seminggu saja, kalau kamu tidak berani bilang, aku bantu kamu bilang.
Ella: Seminggu? Kenapa begitu lama.
__ADS_1