
Hello! Im an artic!
Lina sudah begitu lama memendamnya. Ia merasa semua yang dilakukannya akan menambah pahala. Walaupun bukan ia sendiri yang melakukannya, dia juga ikut terlibat di dalamnya.
Ia berpikir ulang. Queenie ini benar-benar sakit. Sungguh tak disangka, demi harta ia menggoda suami orang, juga memainkan trik kalau ia sungguh hamil.
Hello! Im an artic!
Merusak rumah tangga orang dan mengambil suami dari istri pertamanya. Wanita seperti ini harus benar-benar diberi pelajaran.
Lina memikirkannya berulang kali, lalu memutuskan untuk menyuruh Rika memberitahu hal ini kepada Linda.
Bagaimana cara Linda dan Lisa mengatasinya, itu urusan mereka berdua. Kalau mereka mentolerirnya, maka ia sendiri juga tak mungkin bisa mengatasi Queenie.
Lagipula, biarkan ia sendiri melakukannya. Dia juga tak begitu kejam.
Hello! Im an artic!
Lika dan Lili tidak mengetahui keseluruhan ceritanya. Lina juga tak berencana untuk memberitahu mereka.
Urusan semacam ini sebenarnya memalukan. Semakin sedikit diketahui, semakin baik. Lika juga masih belum sembuh, mengetahui hal ini bisa membuat psikisnya tertekan.
Setelah Rika menerima perintah dari sang nona, dia diam-diam pergi mengatasinya.
__ADS_1
Lina menyalin doa Buddha, berharap apa yang terjadi hari-hari ini bisa menambah pahalanya. Ia juga percaya pada reinkarnasi dan karma.
Siang harinya, Ella menelpon dengan panik, berkata di toko ada customer besar.
Toko kecil Lina biasanya tak mendapat kunjungan. Jadi ia terkejut saat mendengar ada pembeli besar yang datang.
Ia menyetir ke toko antik rahasia–Seumur Hidup Ada Kamu.
Lina segera pergi dengan terburu-buru hanya menggunakan jaket kasmir, tidak menggunakan topi.
Diluar masih turun salju. Saat dia masuk ke toko, kepalanya tertutup salju, amat terlihat artistik.
“Nona, itu orangnya.” tutur Ella.
“Halo Tuan. Saya pemilik toko ini. Ada yang bisa saya bantu?”
Lina berinisiatif untuk menghampirinya. Orang itu terbangun dengan sungkan, “Begini, sebelumnya atasan kami membeli sebuah kipas dan merasa kualitasnya amat baik. Jadi aku mampir lagi untuk melihat ada barang apa yang bagus, lalu membawa pulang beberapa barang. Aku barusan melihat-lihat, tak ada banyak jenis barang. Dan juga……sedikit produk berkualitas. Apakah kalian sementara kehabisan stok, atau…… kalian menyembunyikan dan tidak menjualnya?”
Setelah ia mendengarnya, Lina menjawabnya. Ia takut orang itu datang untuk membeli barang yang bagus, benar-benar pembeli potensial.
“Apa benar terakhir kali tuan kalian yang membeli kipas itu? Ia benar-benar mempunyai selera yang bagus. Aku penasaran, apa yang sebenarnya ingin dia beli. Barang antik banyak macamnya, setidaknya katakan satu jenis, agar aku bisa berbisnis dengan kalian.”
“Atasanku suka melukis, minum dan menulis puisi. Jadi kalau anda punya lukisan, gelas anggur, atau kuas lukis dan pena, kami amat tertarik. Harga bukan masalah.”
__ADS_1
“Coba saya cek dahulu.”
Lina duduk di kursinya, mengambil secangkir teh sambil merenung.
“Ella, coba ambil box itu. Didalamnya ada sebuah batu tinta. Ambil dan tunjukkan pada tuan ini.”
“Baik, nona.” Ella meminjam kunci dari tangan nona, pergi ke sudut ruangan, dan membuka kotak tua itu, lalu mengambil batu tinta yang tak berdebu.
“Kalau atasanmu tertarik, ia bisa mengambilnya.”
“Berapa harganya?” Orang itu tampaknya tak tahu banyak tentang barang itu, jadi ia menanyakan harganya.
“Karena ia seorang pelanggan, aku akan memberinya harga spesial. 150,000 RMB.”
Mendengar itu Ella menggigit ujung bibirnya, berpikir ternyata batu tinta ini amat berharga?”
“Bisa aku ambil foto dulu ini untuk atasanku, sembari bertanya tentang pendapatnya.”
“Silahkan.” Lina juga pandai bicara.
Lalu pria itu mengambil foto dan mengirimkannya. Setelah menerima telepon, ia membalikkan badan, “Kami beli. Bisa pakai kartu kredit atau transfer bank?”
“Oh? Tampaknya ia amat menyukai foto itu?” Lina juga amat penasaran dengan pelanggan tak dikenal itu.
__ADS_1