Pernikahan Sementara

Pernikahan Sementara
Bab 157 Terharu Gak


__ADS_3

“Mana bisa?” Lina sangat tidak enak


“Gak apapa, sama-sama murid, bisa bertemu juga jodoh, hehe, tapi kamu boleh gak bicarakan keluar, aku takut orang lain menertawakan aku dan gak mau berteman denganku.”


Suara memohonnya begitu ikhlas, dia berharap Lina bisa merahasiakan pekerjannya.


“sebenarnya kmau bisa jadi guru private, pelajaran kamu begitu bagus.” Lina memberikan saran.


“Wajah aku gak cocok, Haha, orangtua biasanya gak mau sama aku.” Dia tertawa, tapi sangat sedih


Jessicaingin seperti murid lainnya, bisa menjadi guru private, dan juga lebih gampang mendapatkan uangnya.


Tapi anak kecil di kota sini terlalu susah diajarin, dan juga tampang dia tidak terlalu bagus juga.


Jadi gak menunggu comment dari orang tua, anak-anak biasanya akan bilang, guru ini sangat jelek, aku gak mau.


Jadi dia juga tidak berani mencoba lagi.


Hanya bisa pas saat istirahat siang atau sabtu minggu, dia mencari bebepara kerjaan shift untuk mencari tambahan.


Tempat rebusan yang dia kerja sekarang juga kasih dia makan siang, jadi dia bisa menghemat juga.


Lina yang begitu dingin pun juga merasa kasihan padanya, sama-sama sebagai orang, yang dilewatin oleh Jessica sangat lah susah, ini juga merupakan berita yang sering diberitakan setiap hari.

__ADS_1


Jessica membayarkan untuk Lina, Lina juga tidak memaksa untuk membayarnya.


Mereka sempat berbicara sebentar, ketika mau pergi, Lina melihat dia sekilas, tapi akhirnya dia juga tidak berbicara dan pergi.


Dia juga bukan orang yang meekspresikan emosinya lewat kata-kata.


Dia lebih terbiasa memikirkan diam-diam.


Ketika pulang ke sekolah, di pintu samping, dia sekali lagi dihalangi oleh Eric.


Tapi kali ini Eric lebih merendah, dia memarkirkan mobilnya lebih jauh, dia berjalan ke sini, dan tidak sok keren.


Dia beda dengan John, John suka pakai jas.


Eric suka sok muda, jadi dia suka berpakaian ala-ala muda, mungkin dia gak mau dirinya menjadi tua.


“Lina.”


Dari dulu dia selalu memanggil Linlin, tapi kali ini dia tidak begitu lagi karena Lina tidak mau mempedulikannya.


Lina meliriknya, tapi tidak menghentikan langkahnya, dia terus berjalan.


“Lina, kamu tunggu sebentar.”

__ADS_1


Lina mengerutkan dahinya, dan melihatnya, dia malas mengucapkan 1 kata pun.


Dari ekspresinya mengungkapkan, apa mau mu?


“Lina, kamu jangan tegang, aku gak menundamu terlalu lama, aku hari ini mau bilang ke kamu, kalau aku sudah bukan aku yang dulu lagi.”


Lina hanya dia mendengarkanya, sama sekali tidak ada rasa apa-apa.


“aku memutuskan berubah untukmu, kehidupan aku yang lalu itu terlalu berlebihan, hehe, aku memutuskan untuk kembali ke jalan yang benar, beberapa hari lalu, aku memutuskan untuk mencari papaku, dan bilang ke dia aku akan kerja ke perusahaan keluargaku, papaku juga memberikan sesuatu yang sulit untukku, kalau aku bisa menyelesaikannya, baru boleh kembali, aku tahu semua ini susah, tapi aku ingin mencobanya, aku tahu aku gak punya otak bisnis sehebat John, tapi kalau ada keteguhan hati, aku pasti bisa dan menjadi orang yang aku mau itu.”


Kata-kata itu begitu positif, dia mengira Lina akan terharu setelah mendengarnya.


Siapa tahu…….


Lina hanya menjawab, “kamu mau jadi orang seperti apa, gak ada hubungannya denganku.”


Kemudian langsung berbalik pergi.


Eric menghela nafas, dan bergumam, “Linlin kecilku, benaran dingin seperti gunung es.”


Eric mencari dia, sudah sangat diam-diam, tapi tetap terlihat oleh orang lain juga.


Dan berita ini pun menyebar, di sekolah gosip mulai menyebar dan semakin parah.

__ADS_1


Ketika Saniyah terluka, Lexie langsung mencari teman baru, ketika mendengar gosip itu, dia sedikit senang.


Setelah membeli minuman berenergi, dia lalu ke lapangan basket mencari Freddie.


__ADS_2