
Hello! Im an artic!
Nafas Lika ada sedikit lemah, setelah tadi bertengkar dengan Lisa, masih ada sedikit pusing.
“Kamu ngomong apa, kamu orang seperti apa masa saya tidak tahu? Kalau kamu orang yang gila harta, waktu kamu tahu saya orang Keluarga Hua pasti langsung menempel lebih dekat tidak akan putus dengan saya, maka tidak perlu jelaskan lagi, saya mengerti…… mengenai harta, tidak perlu buat, tunggu saya mati…… semua kasih kamu. Kamu ambil uang itu lalu cari istri lagi, hidup dengan baik, kalau ada anak, harus kasih dia sekolah di luar negeri. ”
Hello! Im an artic!
“Tolong jangan ngomong lagi, selain kamu aku tidak mau orang lain. ”
Benard merasa, tidak pernah sesakit ini, kalau Lika mati, dia mana ada pikiran untuk cari orang lain, mungkin akan mengikutinya mati.
Kedatangan Lisa membuat suasana hati Lika sangat tegang, malam itu panas beberapa kali.
Setelah Lina mendengar, ingin mencari Lisa.
Hello! Im an artic!
Tapi ditahan oleh John, takut dia ntar memperburuk kondisi.
John dan Lina, dan juga Benard 3 orang di rumah sakit menunggu sampai tengah malam jam 2.
Keadaan Lika sudah stabil, dokter menyuntikkan obat penenang, dia baru tertidur.
__ADS_1
“Lain kali, jangan biarkan Lisa masuk ke kamar kakak keempat. ” Kata Lina dengan sangat marah.
“Iya, saya juga tidak akan membiarkannya, tidak ada lain kali, saya tidak akan melepaskan dia. ” Benard juga sudah memutuskan.
“Kakak keduamu itu orangnya…… bener-bener deh…… tidak tahu kenapa, ke adik kandung sendiri aja bisa begitu? “John pernah bertemu Lisa, tapi Lisa sangat sopan ke John, tidak sama dengan Benard, benar-benar hanya melihat martabat orang.
“Dimata dia hanya ada uang, tidak ada rasa kasih saying, hanya mau membuat pergi Benard, membuat marah kakak keempat sampai mati, lalu membagi saham dia di perusahaan. ” Lina mengerti, yang dilihat Lisa hanya saham dan harta Lika setelah meninggal, masih ada rumah dan perhiasan.
“Dia sudah sangat banyak uang, rumah sakit operasi plastik Keluarga Hua beberapa tahun ini setidaknya ada untung beberapa miliar, beberapa tahun ini Lisa tidak perlu ngomong, dia sendiri seharga 3-5 miliar ya. ” John menghitung.
“Orang semuanya rakus punya, ini jauh dari yang dia mau. ” Jawan Lina dengan tenang.
“Baiklah, Lika sudah tidak apa-apa, Linlin kamu juga tenangan, kalau mau cari perhitungan dengannya bukan sekarang, kamu masih perlu tidur dulu. ”
Malam yang mencemaskan sudah berlalu……
Siang ini
Penyakit jantung nyonya Xie kambuh, langsung masuk rumah sakit, Keluarga Xie juga sangat sibuk.
Ferdy dan Fenny suami istri juga sibuk di kantor, juga harus mengurus nyonya besar.
Eric juga disuruh menjemput keponakannya yang sedang belajar piano.
__ADS_1
Tempat les piano itu Eric pernah datang, guru itu, eh, dia juga ada wechat.
Waktu Eric datang, kelas sudah selesai.
Dabria memakai kemeja hitam, seperti gaya pramugari, muka juga cantik, kalau tersenyum sangat manis, anak-anak suka.
“Guru Dabria, paman kedua saya sudah menjemput. ”
“Baik, saya antar. ”
Dabria menggandeng tangan Katie, dengan pelan berjalan ke pintu.
“Presiden Xie. ” Dabria tersenyum dengan cerah.
“Guru Dong. ” Eric dengan sangat sopan, menganggukkan kepala.
“Kenapa muka bu guru merah? ” Katie mengangkat kepalanya melihat gurunya, berkata.
Muka Dabria lebih merah lagi, “Orang yang tidak pernah berpacaran, ketemu cowo ganteng tidak enak hati, teman saya bilang saya seperti secarik kertas putih, apapun tidak mengerti, sangat bodoh.”
Bisa dibilag, Dabria yang cute dan tidak berpengalaman seperti ini, lebih bisa menarik perhatian Eric.
Tetapi…
__ADS_1