Pernikahan Sementara

Pernikahan Sementara
Bab 16 Tidak Memberikan Muka


__ADS_3

John sambil berjalan sambil memanggil namanya seolah sudah sangat kenal.


Dari awal John merasa tidak terrtarik berbicara dengan mereka, setelah berbicara beberapa patah kata akhirnya dia mencari alasan pergi kebelakang untuk melihat nenek.


Tidak disangka, begitu sampai di depan pintu langsung terdengar pembicaraannya dengan neneknya.


Tertangkap, Lina sedikit malu dan tidak mengatakan sepatah kata pun.


Tapi Nyonya besar merasa senang.


Dia melambaikan tangannya, memberi tahu kepada pelayan, “cepat bawakan kursi untuk anak ini.”


“Bagaimana kabarmu, nenek?”


“Yah, akhir-akhir ini badan nenek dalam keadaan sehat. Kalian berdua memiliki jodoh. Lina mengatakan padaku bahwa Keluargamu memperlakukannya dengan sangat baik.”


“Oh? Itu yang dia katakan?” dengan tatapan lucu John melirik Lina.


Wajah Lina tanpa ekspresi dan berpura-pura tenang.


“Sebelumnya, ketika kakek nenekmu masih hidup, mereka juga melakukan kontak dengan kami. Keluarga Jiang kau memiliki pembawaan dari Keluarga yang baik dan memiliki karakter yang baik. Aku lega bahwa Lina bisa masuk ke Keluargamu.”


Sebagai seorang nenek dari keluarga besar, kata-kata yang dikatakannya sangat enak di dengar dan menyenangkan.


Tentu saja dia hanya berharap cucu perempuannya akan memiliki kehidupan yang lebih baik di Keluarga Jiang.


“Terima kasih nenek, tetapi kau benar. Karena Lina dan aku memiliki jodoh ini, aku akan memperlakukannya dengan baik.”

__ADS_1


Apakah ini janji di depan Nyonya besar?


“Mia, pergi dan ambil kotak brokatku.”


“Baiklah.”


Dia meminta pelayannya yang bernama Mia untuk pergi ke kamarnya yang lain, mengambil kotak brokat merah tua berukir. Yang sangat halus.


Ketika orang yang mengerti melihatnya, mereka tahu itu adalah benda yang bagus.


Dengan gemetar, wanita tua itu mengeluarkan kunci berwarna kuning tembagam, dan membuka kotak brokat itu.


Kemudian dia mengeluarkan sepasang kunci emas yang baru.


Dia meletakkannya di tangan Lina. “ini, ambillah.”


Melihat wanita tua itu ingin memberi sesuatu, Lina dengan cepat menolaknya.


“Ini bukan untukmu. Kunci emas kecil ini dibuat oleh pengrajin lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Karena membuatnya sangat sulit jadi hanya ada sepasang. Aku ingin memberikannya kepada cicitku ketika kau menikah dan memiliki anak di masa depan. Sayangnya aku tidak dalam kesehatan yang baik sekarang. Mungkin aku tidak bisa menunggu hari itu. Ambillah dan wakili aku berikan ini kepada anakmu.”


Wanita tua itu bertekad untuk memberikannya, dan Lina tidak bisa menolak.


“Ambillah, Nona. Ini adalah keinginan hati dari Nyonya besar.” Pengasuh di sebelah mereka semua ikut berkata.


Lina dengan mata merah menerima dua kunci emas kecil itu.


John juga tersentuh dan berkata, “terima kasih, nenek, nenek harus sehat selalu. Ketika bayi kami lahir, nenek bisa memeluknya dan dia akan secara langsung berterimakasih kepada nenek.”

__ADS_1


Wanita tua itu hanya tersenyum dan tidak banyak bicara.


Dia tahu penyakitnya sendiri.


“Sudah malam. Kalian berdua harus pergi ke halaman depan untuk makan malam. Kau tidak bisa tinggal di sini hari ini. Setelah makan malam, kembalilah lebih awal sebelum matahari terbenam.”


“Nenek.” Lina masih enggan berpisah.


“Silakan datang dan temui aku lagi kapan-kapan.” Wanita tua itu menepuk tangan Lina.


Akhirnya, dia pergi.


Lina tidak begitu terlihat senang berada dirumah Keluarga Hua, dia tidak begitu banyak bicara, hanya mengucapkan beberapa patah kata dan pergi lebih awal setelah makan.


Dalam perjalanan pulang, John menerima panggilan.


Dia juga sengaja menyalakan speaker.


Terdengar suara seorang pria berteriak, “wah wah, John, kau sudah menikah. Kau juga tidak ingin memberi tahu teman-teman, bukankah begitu tidak sopan. Kau harus mengadakan pesta malam ini dan mengundang kami minum, atau kami teman-temanmu ini tidak akan mengenalimu lagi dimasa depan.”


“Baiklah, traktir kalian minum.”


“Adik ipar yang baru menikah ini kamu juga bawa supaya kami bisa melihatnya.”


John tidak berani menyetujuinya, tapi tanpa sadar diam-diam melihat kearah Lina.


Lina segera menolak dengan suara dingin, “Aku tidak akan pergi. Kalau mau pergi, pergi saja sendiri.”

__ADS_1


Huh, ini sangat memalukan….


__ADS_2