Pernikahan Sementara

Pernikahan Sementara
Bab 95 Terpojok Di Tembok


__ADS_3

Orang tua itu merasa tidak tenang dan tak berniat untuk berjualan lagi. Ia merapikan dagangannya lalu pergi. Namun sesaat setelah ia sampai ke perempatan, ia melihat motor terbang dari arah berlawanan.


Terbang lalu menabraknya……


“Baru saja ada tabrakan, ada orang yang terbunuh.” Orang di pasar tak tahu siapa yang berteriak. Sekerumunan orang pergi melihat.


Rika dan Lina Hua baru saja keluar dari pasar. Mereka melihat orang tua itu tergeletak berlumuran darah.


“Benar-benar terjadi.” Rika berbisik di telinga Lina Hua.


Lina Hua dengan tenang berkata, “Ini adalah takdir. Ia tak punya banyak harta di dunia. Ia sudah ditakdirkan menjadi orang miskin. Kalau ia bisa bertahan dengan hidupnya yang sulit, ia akan terlindungi. Namun ia baru saja memulai bisnis penipuan. Ia sendiri yang mempersingkat hidupnya.”


Lina Hua berjalan-jalan lalu pergi dengan tangan kosong. Ia juga baru saja melihat kecelakaan, jadi ia tak berniat untuk membeli apapun.


Setelah naik mobil, Rika menyetir pulang ke Villa Spring Mansion.


Lina Hua terdiam melihat ke luar jendela.


Dia punya kemampuan ini sejak muda, bahkan nenek juga tidak mengetahui hal itu.


Itulah ramalan, tak perlu melihat latar belakang horoskop dan tanggal lahirnya, hanya perlu melihat orang itu sekilas atau mengocok dadu, kau bisa memprediksi kemalangan dan keuntungan yang akan datang.


Ia mempunyai satu tong stik bambu yang tidak terlihat, tidak bisa dilihat oleh orang lain.


Hanya Lina Hua yang dapat melihatnya. Benda itu diberikan saat ia berumur sepuluh tahun, ia bersama neneknya pergi ke Gunung Wu Tai untuk sembahyang, lalu kepala kuil setempat memberi benda itu padanya.


Saat itu, ia tak mengerti. Setelah beberapa lama, ia baru tahu kalau benda itu bisa digunakan untuk meramal.


Stik bambu yang baru saja diundi orang tua itu adalah yang ke-79.

__ADS_1


Orang tua itu tak bisa melihat apa yang tertulis, juga Rika, tetapi Lina Hua bisa melihat.


Stik bambu itu tertulis dengan jelas—empat kalimat sajak.


Hidup ini tak dipenuhi berkat. Hidup yang penuh dengan penderitaan. Jangan bermimpi untuk menjadi kaya. Berhati-hatilah menjalani kehidupan.


Saat itu, Lina Hua juga menyimpulkan kalau pria ini ditetapkan untuk tidak mempunyai harta dan tak bisa menikmati hidupnya.


Jadi uang 92,000 yang ia terima dari si gendut itu adalah yang terbanyak dari penipuan belakangan ini.


Namun, belum juga keluar dari pasar, ia malah ditabrak motor.


Tak usah ditanya, ia tak mungkin hidup lama.


Lina Hua pernah tinggal di Gunung Congcui. Ia jarang meramal.


Ia menjadi lebih berhati-hati. Lagipula, hal semacam ini takhayul, ia takut orang sekitarnya terkena dampaknya.


Ia juga mempunyai suatu firasat bahwa waktu nenek sudah dekat.


Kejadian hari ini membuatku terhubung dengan orang tua itu, akulah yang meramalnya.


Rika dan Ella tidak banyak tahu tentang ini. Mereka tak mengetahui bahwa sang nona amat lihai.


Malamnya ia pulang ke Villa Spring Mansion. Lina Hua sedang membaca buku. Ia merasa haus, bersiap untuk pergi ke lantai bawah mengambil air minum.


Rika sedang sibuk beberes. Ella juga sedang memasak di dapur.


Saat John Jiang pulang, ia melihat Lina Hua sedang meminum teh di ruang tamu.

__ADS_1


Ia melepas jaketnya, “Lina, kamu belum tidur?”


“Belum.”


“Hari ini kamu pergi keluar? Rambutmu terlihat seperti dari salon.” Ia menengok lalu melihatnya dengan penuh perhatian.


“Ah, aku tadi pergi minum teh bersama kakak keempat.”


“Lain kali ajak aku minum teh juga. Aku juga suka minum teh.” Ia tersenyum sambil menggodanya dengan sengaja.


Ia tak membalasnya, lalu lanjut membaca buku.


John Jiang dengan tebal muka mendekatinya.


Lalu Lina Hua mencium bau anggur yang menyengat.


“Kamu minum ya?” katanya cemberut.


“Ya, minum sedikit dengan klien.” jawabnya jujur.


Lina Hua tak suka dengan bau anggur, ia terbangun merasa jijik.


Tapi baru beberapa langkah, ia diteriaki John Jiang.


“Lina.”


Ia membalikkan kepalanya, melihat pria itu mengikutinya.


Tanpa sadar Lina Hua bersandar ke dinding di belakangnya

__ADS_1


John Jiang menghalangi jalannya dengan menyandarkan tangannya pada tembok.


Jadi ini rasanya…… terpojok di tembok?


__ADS_2