
Eric mengenakan jubah mandi putih, dengan santai dia bersandar dikursi tepi kolam renang.
Sambil memegang segelas whiskey, sungguh sangat menikmati.
Dia meminumnya seteguk kecil dan menaruh gelas itu disamping.
“Bethany, coba lihat udah jam berapa, Kanada dengan kita waktunya beda 13 jam. Aku disini sekarang udah jam 10 malam, kamu disana harusnya masih 9 pagi… tapi kamu malah mau tidur, aneh-aneh aja.”
“Kemarin malam aku minum terlalu banyak, apa pedulimu?”
Kata dia sambil hendak mematikan telponnya…
“Eh, tunggu, aku beneran ada urusan sama kamu, jangan tutup dulu.”
“Apa lagi? Kamu cuman mencariku saat ada masalah saja kan.” Tatapan Eric penuh dengan amarah.
Dia dari kecil memang sudah sering adu mulut dengan kakak keduanya, mereka berdua itu seperti musuh, tapi disaat yang sama juga seperti sahabat, penuh benci dan cinta.
Mungkin karena umur mereka yang tidak berbeda jauh.
Ferdy jauh lebih besar dari mereka berdua, jadi mereka tidak bisa bermain bersama dengannya.
Eric tahun ini berusia 26 tahun, Bethany berusia 22 tahun, kebetulan sama dengan umur Lina.
“Ini memang bukan urusan baik, tapi bukan urusan buruk juga.”
“Gak peduli gak peduli.”
__ADS_1
“Kalau kamu bantu aku, nanti aku beliin kamu jam yang waktu itu kamu mau.” Eric berpikir bahwa satu-satunya cara dia akan dibantu adalah dengan memberikannya imbalan.
Dan benar saja, ketika dia mendengar Eric menyebut jam, dia langsung menjadi tenang, “Yaudah, kalau gitu kasitahu aku dulu ada apa.”
Eric duduk, wajahnya terlihat bersemangat.
“Bethany, coba tebak hari ini aku bertemu siapa?”
“Siapa?”
“Lina.”
“Lina? Siapa?”
Sangat jelas, gadis ini tidak paham sama sekali dengan situasi di negaranya sendiri, dulu pernah ada kabar kakak keduanya akan tunangan.
Orangtuanya meminta dia untuk pulang menghadiri pernikaham, tapi dia merasa bahwa itu tidak menarik.
Jadi nama Lina sama sekali tidak familiar untuknya.
“Itu lho, perempuan yang dijodohkan oleh orangtua kita untukku.”
“Oh… aku baru ingat, yang waktu itu kamu kabur dari pernikahan itu kan?”
“Iya iya, benar.”
“Aduh, pasti canggung banget dong.”
__ADS_1
“Jangan sela omonganku dulu.”
“Yaudah lanjutin.”
Mendengar gosip dari kakak keduanya, Bethany pun makin tertarik mendengarnya.
Naik dari tempat tidur, dia terus mendengar apa yang sedang diucapkan olehnya.
“Aku tadi bertemu dia dengan John, aku kira wanita adalah selingkuhannya kan, jadi aku memperhatikannya baik-baik… emang canggung sih, ternyata itu adalah si Lina.”
“Ada perbedaan gak?”
“Ada lah, dulu gosipnya kamu masih ingat gak?”
“Ehm… ingat dikit sih, katanya dia dari keluarga Hua dan mukanya jelek tiada banding… ngomong juga gagap, oh iya, katanya juga gak berpendidikan, belum pernah sekolah sekalipun, kalau gak salah dia juga botak, rambutnya sedikit banget, jadi tiap kali dia memakai topi biarawati gitu.”
“Wah, ini semua siapa yang bilang? Coba kamu suruh dia datang kedepanku, biar aku hajar dia.”
“Kenapa? Kakak kedua… memangnya bukan begini?”
“Ya bukanlah, rumor itu hanya penuh omong kosong belaka… Rumor in benar-benar terlalu keterluan, kalau aku tahu kondisi Lina yang sebenarnya, pasti aku gak akan kabur dari pernikahan itu.”
“Jadi, Lina itu sebenarnya kayak gimana orangnya?”
“Cantik, seperti bidadari dari surga.” Eric tampak sangat mengaguminya.
Setelah 3 detik, terdengar tawaan dari dalam telpon itu…
__ADS_1
“Ketawa apaan?”
“Kak, gimana rasanya… sakit hati tidak?” wajah Bethany penuh ejekan dan terlihat sangat bahagia.