Pernikahan Sementara

Pernikahan Sementara
Bab 840 Bukan Kebetulan Biasa


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Stasiun live yang sering dia lihat itu, telah diblock, katanya telah melanggar aturan bimbingan dibawah umur.


Lalu ada iklan resmi keluar, kira-kira dari isi iklan adalah banyak pembawa acara live internet yang tidak beres mengenai pandangan terhadap dunia, pandangan terhadap kehidupan dan pandangan terhadap penilaian norma, berdampak buruk terhadap anak kecil, dapat berdampak tidak baik terhadap dunia.


Hello! Im an artic!


Setelah Windi Feng melihat ini, respon pertama adalah langsung menelepon Andy Qin.


Andy Qin sedang rapat di perusahaan, dan banyak orang juga.


“Ada apa, sedang rapat ini?” Katanya dengan serius.


“Andy Qin, websitenya Bintang Jiang mereka, kamu bukan yang tutup?”


Hello! Im an artic!


“Jangan aneh-aneh, aku sedang berbisnis, mana ada aku mempunyai kekuasaan sebesar itu, kamu terlalu menganggapku hebat deh.”


“Eh? Iya juga ya…”


Windi Feng awalnya ingin menipu dia supanya mengaku, Andy Qin dengan rendah diri juga mengakuinya, tidak tahu kenapa dengan sepatah dua kata langsung tercuci otaknya.


Diri sendiri sudah merasa bukan salah Andy Qin, sebenarnya dia sendiri juga tidak seperti yang dikatakan Andy Qin itu.


Terlalu mengagumi Bintang Jiang, anak kecil memang sangat berbakat.

__ADS_1


Kemarin memberikan dia hadiah juga karena dia berulang tahu, semua orang memberikan hadiah, Bintang Jiang dengan satu tarikan napas menyanyikan tiga lagu ciptaanya sendiri.


Windi Feng merasa ini sama saja para seniman jalan, mereka menyumpai karya sendiri, juga berusaha keras.


Kamu memberi sedikit uang, juga mereka juga susah untuk menghasilkan uang, mana terpikiran bahwa Andy Qin akan respon seperti itu?


Tentu saja kejadian semalam berubah menjadi kejadian yang paling mesra untuk mereka.


Tapi sama sekali tidak mempengaruhi, pandangan miringnya terhadap Andy Qin.


Windi Feng melihat channel itu diblock, anak kecil itu memberikan id wechatnya di weibonya, supaya fansnya menambahnya.


Windi Feng merasa anak ini merasa ini sangat rendah hati, lalu ditambah juga wechatnya.


Tidak sangka orang tersebut membalas satu kalimat, “Kakak, menambah aku harus transfer dulu lho, angpao 1.040.000


Sesuai dengan permintaan pihak sebelah, transfer 1.040.000


Setelah selesai menambah pertemanan, Windi Feng memperkenal dirinya, “Saya adalah Windi Feng.”


“Aku tahu kamu, kakak yang kemarin memberikan aku 10 pelangi.”


“Oh, iya.” Windi Feng juga sedikit merasa tidak enak hati.


Tidak menyangka dia langsung berkata kalimat ini, “Kakak anak konglomeratkan, orang tuamu kerja apa?”


“Orangtuaku orang biasa, juga tidak kerja apa-apa.”

__ADS_1


“Kalau kakak sendiri? Kamu pasti sangat banyak duitkan?”


“Engga, sangat miskin, aku menabung gaji satu bulan baru bisa memberikan kamu hadiah 3.998.000.” Windi Feng juga mulai permainan jahatnya.


Ternyata benar, mendengar Windi Feng berkata seperti itu, sikapnya langsung berubah.


“Oh, begitu… aku masih ada sedikit urusan, nanti baru ngobrol lagi.”


Setelah itu tidak ada batang hidungnya lagi, Windi Feng sedikit menghela napas, anak ini makhluk apa, nanti bakal seperti apa?


Mendengar lirik-lirik lagu ciptaannya, merasa anak ini sangat ceria, semangat dan penuh energi positif, kenapa bisa seperti ini?


Terpikir sampai di sini, Windi Feng menghela napas, langsung menghapus wechat orang itu, orang seperti ini, lebih baik jangan berhubungan dengan dia, dia sungguh jadi tidak bisa suka lagi.


Di sisi lain, John Jiang sudah berjanji dengan Lina Hua untuk ijin 3 hari, tapi data yang berada ditangan harus dikembalikan ke perusahaan.


Hanya saja tidak disangka, diperjalanan pulang, mobil John Jiang dengan mobil pickup, terjadi tabrakan kecil.


Untung saja tidak terjadi hal yang parah, tapi dia juga tidak mencari tahu apa yang terjadi.


Mendengar John Jiang kecelakaan mobil, kaki Lina Hua langsung gemataran.


Kemarin malam tiba-tiba gempa bumi, papan besi jatuh, hari ini terjadi kecelakaan mobil, semua ini, apa sungguh kebetulan saja?


“Nona, anda jangan khawatir, sudah tidak kenapa-kenapa, tuan sudah dalam perjalan pulang, supir yang mengantar dia pulang.”


Baru saja selesai bicara, John Jiang masuk ke rumah.

__ADS_1


Lina Hua langsung menghampirinya, memeriksa wajahnya, “Aku lihat, luka di mana?”


__ADS_2