
Hello! Im an artic!
“Tidak ada, hanya mengantuk saja, apakah kamu sudah bisa keluar, aku sudah mau tidur.” Nada bicara Lina berubah menjadi sangat dingin.
“Baiklah, istirahat lebih awal.”
Hello! Im an artic!
Setelah diusir keluar, John masih bingung, kenapa ini? atau lagi haid? tidak benar juga, jarak dari bulan lalu sepertinya masih belum sampai sebulan.
Sebenarnya Lina sendiri juga tidak tahu kenapa, hanya merasa sangat sumpek.
Mungkin karena masalah ayahnya, membuatnya sekali lagi merasa kecewa terhadap pria, kecewa terhadap cinta.
Meski John sekarang sangat baik padanya, mungkin tunggu dia berumur 50tahun, dia juga akan sama seperti ayah, pergi mencari gadis yang lebih muda untuk berpacaran?
Hello! Im an artic!
Saat John turun, Memberikan sayur liar kepada Ella.
“Ini adalah sayur liar yang segar, kamu harus masukkan dalam kulkas, besok bikin sup buat Lina.”
“Baik, tuan muda.”
“Hari ini Lina kenapa, sudah terjadi masalah apa?” John bertanya pada Ella.
__ADS_1
“Ahh? tidak ada.” Ella pura-pura tidak tahu.
“Tapi aku melihatnya tidak seperti biasanya.”
“Ah…mungkin karena…tidurnya tidak nyenyak.” Ella mencari alasan.
John juga tidak banyak bicara, hanya menganggap Lina kurang istirahat, perasaannya tidak baik.
Keesok pagi, saat John turun ke lantai bawah untuk sarapan, menemukan Lina sudah pergi.
Rika juga tidak ada, hanya ada Ella yang sudah mempersiapkan sarapan.
“Dia dimana?”
“Sepagi ini?”
“Eng, dia bilang ingin menghirup udara pagi yang sejuk.”
“Baiklah…” John tidak melihat Lina, merasa kecewa, awalnya ingin melihat apakah dia sudah baikkan belum, sayang sekali dia tidak memberinya kesempatan.
Dalam kampus Universitas Nasional
Saat istirahat siang, Jessicadatang mencarinya, agak bersemangat, “Lina, hari ini aku pergi ke pasar barang antik yang pasar pagi, membeli sedikit barang, kamu lihat apakah masih bisa?”
“Pergi, ganti tempat lain membicarakannya.”
__ADS_1
Tidak ingin teman yang lain tahu masalah membeli barang antik, jadi Lina membawa Jessica ke balkon sekolah di lantai paling atas.
Jessica dengan hati-hati mengeluarkan satu saputangan kecil dari dalam sakunya.
Kemudian perlahan dibuka diatas telapak tangannya.
Ternyata sebuah botol tembakau bercorak, walau warnanya agak redup, tapi garisnya sangat jelas, di simpan dengan sangat baik.
Lina memakai sarung tangan, mengambil dan menelitinya dengan sekasama.
“Barang ini apakah kamu dapat dari pasar barang antik?” Lina bertanya pada Jessica.
Jessica menganggukkan kepala, “kalau dipikir-pikir juga sangat kebetulan sekali, ada seorang kakak, membawa setumpuk barang kecil, ingin dikemas dan dijual, tapi karena setumpuk barang bekas yang tidak bagus dan agak rusak, jadi tidak ada orang yang menanyakan harga, aku juga tidak sengaja saat membolak-balikan barang, menemukan ini, kelihatannya seperti barang dinasti Qing, tapi karena adanya tidak ada anda resmi, jadi merasa juga tidak terlalu berharga, hanya merasa menarik, aku membeli satu.”
“Kamu membeli dengan harga berapa?” Lina tersenyum bertanya.
“Tawar nenawar sampai lama sekali, akhirnya beli dengan harga 1880, hanya saja kakak itu harus menjual semua barang rusaknya padaku, semuanya dijual padaku 5000, tapi yang lainnya tidak berharga, tapi aku memikirkan barang ini kalau harga pasaran juga berkisar antara 3000-5000?” Jessica siswi berbakat di departemen sejarah, walau pengalamannya tidak sebanyak Lina, dan pandangan tidak setepat Lina, tapi… bisa mengenali barang yang berusia tua seperti ini, dan dia tidak akan membeli barang palsu dan barang imitasi tinggi, ini juga salah satu alasan yang membuat Lina memilihnya jadi pembeli.
Lina tahu, “Kamu untung, barang ini paling tidak berharga 30ribu.”
“30ribu?” Jessica membuka mulut lebar, merasa terkejut.
“Dulu ada satu botol tembakau bercorak dari masa Qian Long saat di pelelangan di lelang dengan harga tinggi senilai 1,04juta, tentu saja punyamu ini bukan milik kerajaan, kerajinan tangannya juga tidak terlalu halus, tentu saja harganya tidak bisa mencapai miliaran. Tapi botol tembakau kamu ini punya satu keunggulan”
“Keunggulan apa?” Jessica sangat bersemangat mendengarnya, juga sangat salut dengan bakat identifikasi Lina, terlebih rasa percaya dirinya itu.
__ADS_1