Pernikahan Sementara

Pernikahan Sementara
Bab 262 Harapan Sederhana


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Oke, baguslah.” Suara Lina terdengar sangat jelas, entah kenapa, Eric merasa senang ketika mendengar suaranya.


“Andi bilang, saudariku memang awalnya berada di Kathmandu, namun hanya dua hari disana dan pergi lagi, dua belas jam yang lalu ada orang yang melihatnya di Pokhara, orang suruhan kita dan Andi pergi kesana mencarinya, semoga segera ditemukan.”


Hello! Im an artic!


“Bagus.” Sejujurnya, perasasan Lina sedikit tidak tenang karena penyakit yang di derita Lika, oleh karena itu, dia tidak terlalu tertarik mendengar cerita Eric. Apalagi sebelumnya dia pernah membantu meramalnya, Bethany pasti akan ditemukan, tidak perlu terlalu khawatir.


“Aku menelponmu karena aku ingin berterimakasih padamu, ramalanmu sungguh tepat.”


“Sama-sama, tapi aku ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.”


“Bicaralah.” Eric penuh dengan perasaan bahagia.


Hello! Im an artic!


“Tolong jangan katakan pada siapapun aku bisa meramal, itu hanya hobi untukku, aku tidak ingin seluruh orang mengetahuinya.”


“Baik, aku akan menjaga rahasia ini.”

__ADS_1


“Ok.”


“Apa kamu ada waktu kosong untuk beberapa hari ini? Aku ingin mengajakmu makan.” Dengan ragu-ragu Eric mencoba mengatakannya.


“Tidak ada waktu kosong dalam dekat ini, ada sedikit masalah dalam keluargaku.”


“Baiklah, aku tunggu sampai kamu punya waktu kosong.”


Setelah mematikan telepon dari Eric, Lina pun pergi ke Rumah sakit, hatinya selalu tidak tenang dengan keadaan Lika. Ketika Lina pergi, kebetulan Lili juga ada disana. Setelah tiga bersaudara itu ngobrol sebentar, Lili di dampingingi Manajernya pergi kembali beraktifitas, karena ada wawancara.


Rika dan Ela pergi menyiapkan makan malam. Lina ada diruang VIP dengan tenang menemani Lika.


“Lina.”


“Apa aku akan segara mati?” Lika bertanya dengan agak serak.


“Jangan bicara sembarangan, mengapa kamu bertanya begini?” Lina agak khawatir mendengar pertanyaan itu.


Dengan bibir agak pecah dan pucat,Lika berkata pasrah: “Hari ini ibu dan ayah datang, kemudian sore hari, kakak pertama dan kakak kedua datang, kemudian kakak ketiga, meraka semua datang, apakah aku menderita penyakit kronis?”


“Tidak, aku memberi tahu mereka kalau kamu demam, mereka khawatir jadi kesini menjenguk kamu.”

__ADS_1


“Tapi aku melihat ibu menangis, biarpun dia bisa menahannya, namun matanya merah, aku tahu dia ingin nangis.” Lika bertanya dan menjawabnya sendiri.


“Ibu sayang padamu, dia agak menyesal dengan sikapnya terhadap Benard yang membuat kalian pisah, jadi sangat merasa bersalah. ” Lina menjawab dengan cepat, khawatir Lika memikirkan yang aneh, jadi dia mecari alasan untuk menyakin kannya.


Setelah mendengarkan penjelasannya, Lika kembali tenang, kemudian dia memberi tangannya: “Tarik aku, aku ingin duduk sebentar.”


“Iya.” Lina menyandarkan Lika di tempat tidur.


“Tolong ambilkan jeruk untukku.” Dia menunjuk ke keranjang buah, saat itu Lika tiba-tiba bernafsu makan.


Lina tersnyum dan membantunya mengambilkan buah jeruk untuknya.


“Lina, menurutmu, apakah penyakitku ini bisa merubah keputusan ayah dan ibu untuk merestui aku dan Benard? Apalagi aku merasa tidak adil, kakak pertama dan kakak kedua pun tidak menikah dengan orang kaya, suami mereka orang biasa, lantas mengapa membuatku merasa bimbang begini?” Setelah Lika ada sedikit harapan, diapun banyak berbicara.


Lina tersenyum “Mungkin, kakak pertama dan kakak kedua tak secantik kamu.”


“Hahahaa, jangan usil, bicara yang baik.” Lika dibuat geli olehnya.


“Menurutku, saat itu ibu dan ayah hanya ingin mencarikannya menantu, berfikir bahwa dapat membantu meringankan beban keluarga, namun faktanya suaminya bekerja keras untuk perusahaan ini. Kalau kakak kedua, dengar-dengar karena kedudukan ayahnya, setelah menikah satu tahun, ayah suaminya meninggal karena sakit. Oleh karena itu, keluarga kakak kedua jadi keluarga biasa, dengan begitu, sebenarnya mereka bukan orang biasa, beda dengan Benard.” Lina menganalisa dengan bukti dna fakta yang ada.


Lika mengangguk setelah mendengarnya: “Apa yang kamu bilang benar, sekarang aku tahu kenapa putri dan pangeran kuno menyesalkan kehidupannya setelah mati. Kalau bisa memilih, aku lebih baik tidak lahir ke dunia dan dikeluarga orang kaya, aku ingin menjadi orang biasa dan sederhana saja, terkadang sederhana itu kebahagiaan yang sempurna, dalam hidupku, aku hanya ingin biasa-biasa, namun tidak bisa.”

__ADS_1


Lika adalah orang yang luas pengetahuannya, dia sering berbincang masalah kehidupan dengan Lina, apalagi untuk saling mengungkapkan isi pikiran dan hatinya.


“Bagaimana denganmu adik kelima, kalau kamu bisa memilih, kamu mau lahir dikeluarga yang bagaimana, menjadi orang yang bagaimana? ” Lika dengan penasaran melihat dan menunggu jawaban Lina.


__ADS_2