
Hello! Im an artic!
Benard menganggukan kepala, “Saya yang bilang, dia harus tahu juga, cepat lambat pasti tahu.”
Saat Lika sudah pasti dia dinyatakan kanker paru-paru, perasaannya lebih tenang dibandingkan sebelumnya, dia adalah seorang yang pesimis.
Hello! Im an artic!
Mungkin karena dalam hati sudah tahu, sendiri akan susah lewati bencana ini, setelah pasti, hanya bisa menghela nafas.
Dia melihat gambar hasil tes, lalu melihat Lina dan Benard yang di kamar rumah sakit, lalu tersenyum.
“Sejak awal sudah tahu akan begini.” Dia tersenyum.
“Kakak keempat……” Lina ingin menghiburnya, tetapi tidak tahu mau ngomong apa buat dia merasa enakan dikit.
Hello! Im an artic!
“Linlin saya tidak apa-apa, kamu tidak perlu ngomong apa-apa.”
__ADS_1
“Lika, kamu tenang, pernikahan kita sesuai rencana, tunggu kamu lebih sehatan, kita foto untuk wedding.”
“Saya masih belum kasih tahu ayah dan ibu.”
“Tidak apa-apa, tidak peduli mereka setuju atau tidak, saya pasti harus menikah denganmu.” Benard memegang erat tangan Lika, memberitkan dia rasa aman, apalagi sekarang ini.
Sebenarnya waktu dokter periksa, biasanya tidak kasih pasien denger, karena takut tidak bisa terima.
Tetapi Lika berbeda, dia orang yang sangat logik, menerima semua hal yang tidak baik.
Maka, terakhir, Lina, Benard dan juga Lika 3 orang, memanggil dokter utama untuk periksa di kamar pasien.
“Saya kenalkan dulu beberapa hal mengenai penyakit pasien.” Dokter melihat 3 orang, mengambil data, mulai menjelaskannya, pertama mereka menjelaskan, “Pasien mengidap kanker paru-paru, apalagi kanker kelenjar paru-paru, sebenarnya ini adalah yang terburuk, karena kanker kelenjar paru-paru lebih berisiko dibandingkan dengan kanker paru-paru biasa. Walaupun dengan obatpun hanya bisa 65%. Akan ditambah dengan obat lainnya. Kanker kelenjar paru-paru ini, lebih banyak yang mengidap adalah wanita, biasanya umurnya sudah tua, dokter melihat Lika sekilas, dia hanya umur 26 tahun.
“Ada yang terpenting, awalnya pasien, juga bisa dibilang, bisa ada banyak cara penyembuhan, penyebaran kanker kelenjar paru-paru ini lambat, jadi kalau bisa dikontrol dengan baik, mungkin bisa 3-5 tahun, mungkin sampai 8-10 tahun baru mulai menyebar, seperti yang saya katakan, ini adalah hasil yang baik, hanya perlu pasien mengontrol makanan, perasaaan, mengikuti treatment kita, saya percaya, tidak akan ada masalah.”
Lika dengan tenang mendengarkan, bertanya ke dokter, “Saya bisa hidup berapa lama?”
“Anda perkirakan, biar saya kira-kira tahu.” Lika lanjut tanya.
__ADS_1
“Dengan keadaan seperti ini, mungkin 6-8 tahun tidak ada masalah.” Dokter membenarkan kacamatanya, memberikan deadline.
Setelah mendengar Lina merasa sedih, 6-8 tahun, ini sama seperti umur kucing atau anjing.
Tetapi Lika malah dengan muka tenang, mungkin bagi dia, ini adalah kejutan terbesar, dia menoleh ke Benard, “Bagus, ternyata saya bisa hidup begitu lama, sangat bagus.”
“Lika, kamu akan hidup lama.” Benard memeluknya, dengan lembut menghiburnya.
Lika menyandar di pelukan Benard, dengan suara kecil bergumam, “Bagus sekali, masih ada 6-8 tahun, saya rasa sudah cukup.”
“Kalau begitu pasien istirahat dulu, ntar kita akan kasih beberapa saran treatment, ntar setelah diskusi keluarga, baru diputuskan.” Setelah dokter pergi, Lina juga ikut keluar, matanya merah, tapi takut Lika melihatnya menangis, akan lebih sedih, makanya menangis sebentar di koridor.
Mengambil hp, malah tidak tahu mau kirim kasih siapa? Terakhir, dia mengirim ke John.
“Dokter bilang, kakak keempatku hanya bisa hidup sekitar 6-8 tahun.”
Setelah John menerima pesan tersebut, langsung menelpon balik.
Linlin, kamu masih di rumah sakit?”
__ADS_1