
Hello! Im an artic!
Sebenarnya raja neraka ingin bertanya, tapi begitu bertemu tiba-tiba tidak ingin bicara, akhirnya berubah pikiran dan pergi.
Mimpi Lina Hua juga berubah sekejap, mulai memimpikan pergi memetik sayuran saat kecil bersama Rika dan Ella.
Hello! Im an artic!
Mimpi ini malah sangat aman, saat bangun dipagi hari, Lina Hua masih sengaja menceritakan pada semuanya.
Rika dan Ella tertawa, Ella terpikirkan sebuah hal yang menarik, “Nona apakah kamu masih ingat, saat itu kita bertiga juga tidak mengenali, dan memetik sekeranjang daun hijau, akhirnya nenek melihat dan tertawa, berkata selain dua lembar dandelion yang bisa dimakan, sisanya tidak bisa dimakan, jenis rumput dan masih ada yang beracun sedikit, akan sakit perut kalau memakannya.”
“Benar, saat itu nenek masih sangat muda.” Lina Hua ada sedikit rindu pada hari-hari yang dihangati nenek.
Rika juga memotong berkata, “Nenek berkata, syukurlah kalian hanya memetik untuk bermain, kalau kalian menjualnya, mungkin akan ditertawakan orang, lagipula sampai babi juga tidak suka makan daun hijau itu.”
Hello! Im an artic!
Selesai berkata, ketiga orang tertawa bersama.
John Jiang juga penasaran, “Dua lembar satu-satunya itu juga pasti dipetik oleh Lina keluarga kami kan?”
“Tuan, tidak bisa begini, kamu ini jelas-jelas merendahkan kami berdua.” Ella cemberut.
“Kamu jawab iya atau tidak?” John Jiang bersikeras.
__ADS_1
Rika menutup mulut, “Sungguh ditebak benar oleh tuan, nona berkata pernah melihat orang memakan dandelion di televise, dan memetik untuk bertanya pada neneka apakah bisa dimakan, kalau bisa, nanti akan sudah tahu.”
“Dari kecil pintar begini, aduh, nyonya Jiang, kenapa aku tidak mengenalmu saat aku kecil?” John Jiang melihat Lina Hua tertawa.
“Sudahlah, tuan Jiang, jangan membunuhku, cepat pergi kerja, sudah mau terlambat.”
Lina Hua mendesak, John Jiang juga sudah makan, mengambil mantel dan berdiri, sebelum pergi masih tidak lupa mencium pelan.
Kedua gadis kecil sudah terbiasa dengan kemesraan kedua suami istri, maka juga tidak protes dan tidak malu.
Setelah John Jiang pergi, Rika melihat Lina Hua sekias, dan berkata, “Nona, aku ingin izin.”
“Boleh, tapi kamu harus beritahu padaku kenapa kamu mau izin?”
Wajah Rika menjadi manis, Lina Hua malah tidak suka pada orang itu, tapi juga tidak tega membuat Rika kecewa.
“Pergilah, tapi hanya memberikan kamu libuar semalam, besok harus kembali.”
“Ah? Besok sudah kembali ya, bukankah didalam rumah ada Ella?”
“Nona, aku ada dirumah, tidak apa-apa, kamu biarkan kakak Rika pergi, pacarnya sangat sulit datang sekali, pacaran jarak jauh juga menderita.”
Ella juga membantu Rika bicara, awalnya mengira Lina Hua akan mengizinkan, lagipula biasanya begitu memanjakan mereka.
Sayangnya, Lina Hua berkeras sekali.
__ADS_1
“Tidak boleh, hanya sehari, besok sebelum siang kamu harus kembali, aku ada urusan yang mau diurus olehmu.”
“Baiklah……Terima kasih nona.” Rika jelas-jelas sedikit kecewa, tapi juga tidak berani protes pada Lina Hua.
Naik keatas berdandan, berganti pakaian dan pergi dengan buru-buru.
“Nona, anda bukan orang yang susah diajak bicara, ini sebenarnya kenapa?”
Ella merasa, hari ini Lina Hua keras tidak seperti biasanya, hanya memberikan libur sehari pada Rika, sungguh ada sedikit……
“Karena aku tidak suka pacar Rika itu.” Lina Hua sangat jujur.
“Eh……Ini ya, kita sebagai orang disamping masih sungguh tidak bisa bilang apa-apa, aku merasa kakak Rika sangat suka lelaki itu, dan dia akan sangat senang kalau setiap lelaki itu mencarinya, walau tertidur, juga mau bangun menemaninya mengirim Wechat, sungguh patuh sekali.”
“Wanita ya, sekali jatuh cinta pasti tidak peduli.”
“Aku tidak bisa, nona, hei hei, aku masih sadar.”
“Ah benarkah? Kamu dalam sebulan ini juga tidak boleh izin, tidak boleh keluar kencan dengan Rony Gao lagi.”
“Aduh……Nona, jangan begitu mengerjai orang.” Ella mulai manja.
Lina langsung tertawa……
Saat ini bel pintu berbunyi, Lina Hua paling dekat dan berdiri pergi buka pintu, dia terpaku pelan saat melihat orang yang datang.
__ADS_1