
Ketika ditanya begitu oleh neneknya Sony, Lili yang lagi makan hampir tersedak, ini baru pertama kali datang, sudah ditanyakan kapan nikah?
Keluarga Wang ini beneran punya sifat yang buru-buru.
Lili tidak menjawabnya, dia menunggu Sony untuk menjawab.
“Nenek, kami gak buru-buru dan juga ingin mencoba bersama lebih lama lagi, supaya bisa menikmati proses pacaran, karena pernikahan dan cinta itu tidak sama, tapi nenek jangan khawatir, kami akan mengaturnya juga.”
“Iya ma, anak muda punya rencana mereka sendiri, apalagi sekarang mereka masih ada karir masing-masing, harus bisa mengaturnya dengan baik dulu. ” Nyonya Wang berkata kepada nenek.
Nenek pun mengangguk, dan berkata, “Boleh juga, kalian atur saja, aku hanya mau ingatkan, jangan terlalu telat, aku masih ingin menemani anak kalian saat tulang belum keropos semua,”
Lili tertawa dengan canggung, dalam hatinya memikirkan bahwa permintaan neneknya juga gak sedikit.
Akhirnya dia selesai makan, tapi ternyata neneknya masih ingin ngobrol dengannya, sehingga mengajaknya main mahjong bersama.
Bersama kakak kandung Sony, si Canace Wang, dan juga ada seorang tantenya Sony.
Demi menunjukkan kemesraan mereka berdua, Sony sengaja duduk di samping Lili terus, sambil membantunya.
Terkadang dia juga gak lupa untuk memegang tangannya, memeluk pinggangnya, kelihatan sih biasa saja di mata orang lain, tapi di mata Lili, Sony sepertinya sengaja mencari kesempatan di kesempitan.
Dan akhirnya, ketika jam 10.30 malam, nenek membubarkan mahjongnya karena sudah ngantuk.
__ADS_1
Sony mengantar Lili pulang ke rumahnya, dan di perjalanan Lili benaran sangat diam, mungkin dia masih kesal.
Sony juga diam saja, gak bertanya apa-apa.
Akhirnya setelah 40 menit, mereka sampai di bawah apartemen Lili.
“Udah sampai ya.” Sony mengingatkannya.
Lili tidak buru-buru turun, dia melirik kea rah Sony, “Sony, kamu tahu malu gak si?”
“Kenapa?” dia menjawab dengan muka tidak bersalah.
“Kan dari awal kita pasangan palsu, kamu malah main beneran? Waktu makan kamu memegang mukaku, ketika main mahjong, kamu memegang pinggangku, kalau ada nonton tadi, apakah kamu akan memegang ke dalam rok ku?”
“kalau itu harus benaran nonton dulu baru boleh.” Sony menjawabnya dengan tenang.
“lumayanlah, gak terlalu senang juga.”
Baru selesai berbicara, Lili langsung melempatkan tasnya.
Sony langsung menahannya dengan tangan.
“Keluarga kalian setajir itu, cepat balikin kerugian aku tadi karena kalah main, sekitar 23.000.” Lili terlihat sangat marah, dia mengulurkan tangannya, dan meminta uang kepadanya.
__ADS_1
“Angpao dari orangtua bukannya sudah kamu ambil tadi?” Sony bertanya
“itu kan hak aku, uang kerja tahu gak? Itupun sudah kurang, aku kalau sekali muncul di acara, 1 jam 1 juta.”
Sony sambil tersenyum sambil membuka tasnya, kemudian dia mengambil 3 ikat uang tunai dan memberikan ke Lili.
Lili langsung merebutnya dan memasukkan ke tasnya sendiri.
“cepat pergi dari sini, kita gak akan ketemu lagi, kerja sama ini sama sekali gak menyenangkan.”
“Jangan donk, kan kita sepakat kalau kamu harus menjadi pacar aku sampai proyek aku kelar, kamu gak boleh gak tepati janji.”
Lili tertawa dingin, “Apa? Videonya kan sudah dihapus, kamu mau mengancamku pakai apa lagi?”
“Ada donk, di rumah ku ada CCTV, kalau aku mengupload video kamu makan di rumah dan bermain mahjong tadi, kalau menurut fans kamu, kira-kira kita berdua ini hanya teman kah? ”
“Sial, kamu ini benaran manusia yang paling licik.” Lili merasa telah dijebak oleh pria ini.
“Oklah, cepat naik, tidur pagian ya.” Selesai berbicara, Sony sambil tersenyum sambil pergi menjauh.
Lina balik ke rumahnya dengan kondisi sangat marah, pas masuk ke dalam, dia langsung menelepon Lina.
Udah sekitar jam 11 malam, Lina sudah tertidur.
__ADS_1
Ketika melihat yang menelepon adalah Lili, dia langsung menjawabnya.
“Kakak.” Suaranya agak serak, kedengaran seperti masih belum sepenuhnya sadar.