
Hello! Im an artic!
Di dalam foto terdapat gambar tangan seorang pria dan wanita, kedua tangan jari-jari saling bergenggaman, di jari manis dilingkari cincin bergambar mawar emas, gaya foto ini diambil telihat sangat artistik.
“Bodohnya hari ini membelikan aku cincin Tiffany&Co, katanya cincin adalah cincin seumur hidup.”
Hello! Im an artic!
Ella tidak bisa menahan sikapnya, langsung memberi komentar, “Jadi cincin saja itu sudah seumur hidup? Siapa yang menentukan?
Rika langsung membalas dengan sinis, “Itulah kenapa biasanya suruh kamu banyak baca buku, tapi kamu engga dengar, dalam ilmu kedokteran jari manis ada urat yang langsung sambung kejantung, jadi kenapa menggunakan cincin disini berarti mencintai dengan sepenuh hati, sebagai janji mencintai sangat dalam, jadi pria dan perempuan menikah baru harus menggunakan cincin, ngerti gak?”
Ella membalas, “Jadi mohon bertanya kamu sudah daftar ke KUA?”
Kalimat ini langsung menancap hati Rika, tapi tentu saja dia tetap tidak ingin dipermalukan. “Ini bukannya lebih muda, kapanpun bisa pergi, buku nikah hanya 18.000 tapi cincin Tiffany@Co puluhan juta?”
Hello! Im an artic!
Ella, “Karena tidak menikah, tidak resepsi pernikahan, kalau begitu tidak termasuk janji apapun, kamu harusnya sedikit membuka mata deh?”
Rika sangat marah, juga tidak membalasnya, lagian tidak ingin membuat hatinya sendiri tidak senang ditengah malam.
Sedangkan Ella sangat marah karena Rika sendiri tidak insiatif bertanya kepada Lina Hua.
__ADS_1
Jadi Ella tidak tahan lalu chat secara pribadi kepadan Rika.
Ella, “Kamu pergi beberapa hari, ternyata kamu bertanya-tanya nona bagaimana? Kamu masih ada hati nurani?”
Rika, “Nona adalah nyonya kecil keluarga Jiang, orang yang duduk dengan tenang mempunyai ribuan miliyaran, masih perlu aku tanya? Tentu saja hidup sangat baik?
Ella, “Kamu mengatakan ini aku sangat tidak setuju, perasaan jika ada uang pasti akan hidup sangat baik? Kalau begitu kamu masih belum melihat berapa banyak nyonya kecil yang kaya raya seharian wajahnya basah karena menangiskan?
Rika, “Itu orang lain, tapi tuanku selalu bersikap baik sekali terhadap nona, bagaimana nona bisa tidak bahagia?”
Ella, “Sudahlah, anggap saja aku tidak bertanya, aku percaya pengetahuan nona tidak sama dengan kamu, tidak akan begitu merindukan aku.”
Kalimat baru saja diketik setengah, Ella dan Rika pada akhirnya masih ada rasa emosi yang besar.
Rika juga tidak suka dengan Ella yang sangat terus terang, sangat menyakitkan hati, jadi sudah tidak begitu saling berkontak.
Momen barusan juga memblock Jeskry Wu, momen ini dipost untuk orang lain lihat.
Dia sendiri yang menggesek kartunya untuk membeli cincin, melihat Jeskry Wu sama sekali tidak respon apapun, rasa senang sedikit juga tidak ada, bahkan hanya pakai sebentar saja, lalu dilepaskan.
Menjelaskan dia sendiri tidak suka menggunakan barang-barang seperti itu, terlihat sangat kemayu.
Rika merasa sangat sedih, dia tahu semua itu hanya alasan saja.
__ADS_1
Orang lain yang di luar negeri, tidak peduli orang sepenting apapun, walaupun CEO besar sekalipun tetap memakai cincin nikahnya, bagaimana bisa jadi terlihat kemayu?
Tapi, sekarang sudah seperti ini, sudah tidak bisa kembali lagi, jalan yang dia pilih sendiri, walaupun harus berlutut, dia tetap akan jalan sampai akhir.
Rika mengambil ponselnya sekali lagi, sekali lagi mengirim pesan ke Jeskry Wu, “Kapan pulang?”
Jeskry Wu tidak balas, Rika tidak merasa tenang, lalu dia meneleponnya.
Setelah berdering begitu lama, pihak sebelah baru mengangkat telepon, di dalam telepon terdengar suara yang sangat ribut, banyak sekali suara laki-laki dan perempuan, ada juga suara yang musik yang sangat amat keras hingga memekakkan telinga.
“Ada apa?”
“Kamu kapan pulang?”
“Masih ada urusan yang masih belum diselesaikan, kamu tidur dulu.”
“Kamu lagi di Club?”
“Iya.”
“Kalau begitu… Kamu cepat balik.”
“Aku tutup dulu.” Jeskry Wu langsung menutup telepon, Jeskry Wu berkata dia melakukan pekerjaan demi ayah angkatnya, jadi membuka beberapa usaha Club, harus dia urus sendiri, jadi Rika tidak bisa menahan dia,
__ADS_1
Awalnya dia ingin ikut pergi, tapi setelah pergi satu hari langsung tidak bisa tahan dengan suasananya.