
Pipi Lina seketika memerah…..
Sejujurnya, dia tidak terbiasa dipuji orang, dulu walau dirinya melakukan hal sebaik apa pun, nenek juga tidak akan mengatakan kata pujian yang berlebihan.
Dan lama kelamaan, dia juga sudah terbiasa, walau melakukan apa pun, juga tidak butuh pujian.
Bahkan tidak tahu apa rasanya?
Tadi saat John memujinya dengan serius, dia merasa malu, wajah memerah.
Lina menundukkan kepala, juga tidak tahu harus mengatakan apa baiknya.
Lagu Liszt dia latih dari kecil sampai dewasa, menutup mata juga bisa mainkan dengan sangat cepat.
Lexie ingin membuatnya malu lewat piano, mengkhayal saja, seumur hidup juga tidak mungkin.
Dan bagi John, dia begitu kaya, sebenarnya bisa memilih kado yang mahal sebagai hadiah, untuk menyanjung Lina.
Tapi dia tidak, dia hanya membeli sebuket bunga segar, kehidupan butuh cara menyatakan perasaan.
Dan cara menyatakan perasaan juga tidak harus mengeluarkan banyak uang.
Terhadap sifat Lina, John memahaminya dengan sangat jelas.
Buket bunga ini, akhirnya dipeluk Lina ke dalam kamar tidur, di taruh beberapa hari, sampai terjatuh semua baru dibuang.
“Sebenarnya aku hanya melakukannya seperti biasa.”
__ADS_1
Ditahan setengah hari, Lina hanya menahan satu kalimat ini, tampangnya itu sangat imut.
Ini barulah rasa malu dan lucu yang seharusnya dimiliki oleh gadis kecil berumur 22tahun.
Membuat John hampir mengulurkan tangan, untuk mencubit wajahnya yang merah.
“Ada kesempatan aku juga mau memainkan empat tangan bersama nyonya Jiang.” Dia tersenyum.
Lina mengangkat kepala, saat melihatnya, pandangan membawa sinar yang berkilau.
“Bisa, selalu siap menemani.”
Sudah masuk kuliah seminggu lagi, pada dasarnya Lina sudah bisa menyesuaikan ritme di kampus.
Memang dasarnya dia tidak tinggal di asrama, hanya pagi hari pergi, pelajaran selesai pulang.
Rika mengendarai mobil ke pintu samping, dan sebagian waktunya akan berada di perpustakaan, sebagiannya lagi akan mendengarkan guru pembimbing membicarakan sejarah.
Sebentar saja sudah sampai hari jumat lagi, saat malam hari, John membawa mobil pulang menjemputnya.
Masih menyiapkan sebuah gaun bergaya agak dewasa untuknya.
Bilang mau mengajaknya bersama menghadiri jamuan makan malam amal pribadi.
Karena pribadi, jadi tidak mengundang media dan wartawan, jadi tidak perlu takut di foto dan lainnya.
Lina memakai gaun yang dibawakan John, berwarna merah muda pudar, tradisional, tidak terbuka di bagian bahu dan punggung, tidak ada yang spesial.
__ADS_1
Tapi untuk menghadiri acara ini sangat cocok.
Saat turun dari mobil, John berhati-hati membukakan pintu mobil untuk Lina, lalu dengan lembut memegang tanganya.
Telapak tangan yang hangat seketika menyebar ke tangan kecilnya yang agak dingin, perasaan seperti itu sedikit ajaib.
Malam ini perusahaan kita menyumbang 30juta untuk membeli alat bantu dengar dan diberikan pada anak-anak dengan gangguan pendengaran bawaan sejak lahir.
Lina menganggukkan kepala.
“Kali ini pihak penyelenggara adalah Keluarga Wang, Sony yang melakukannya, orangnya sangat rendah hati, melakukan hal baik juga tidak mau media menyiarkannya, jadi tidak ada satu media pun, kamu tenang saja, tidak akan ada orang yang bisa foto diam-diam, ini termasuk penggalangan dana pribadi.
“Baik.”
Kedua orang baru masuk, tidak menyangka sudah bertemu dengan orang yang tak ingin ditemui Eric.
Eric sebenarnya tidak tahu Lina akan datang.
Dia mengira dengan sifat Lina, tidak suka datang ke tempat seperti ini.
Dia ikut kakak dan iparnya datang, karena Keluarga Wang juga mengundang Keluarga Xie.
Dan keluarga Xie juga menyumbangkan uang, semuanya bertemu tentu akan sopan.
Jadi saat Eric melihat Lina datang, sangat tidak memperhatikan perilakunya langsung menerobos ke sana.
“Lina, kamu juga datang?”
__ADS_1
Lina melihatnya, pandangan mata sangat dingin, menganggukkan kepala, tidak mengatakan sepatah kata pun.
“Gaunmu hari ini, sedikit kuno…. tidak seperti gayamu?” Eric menarik dagunya, meneliti gaun Lina.