
Lina belum tertidur lelap, selama terdengar suara dia pasti akan bangun.
Jadi ketika jam 2 subuh dia menerima SMS, dia langsung mengerutkan keningnya.
Dia membuka pesan itu, dan langsung berkata, orang gila.
Kemudian dia menekan nomor Eric, dan memblokirnya.
Pria ini benar-benar tidak bisa membiarkannya tenang…
Untung saja yang dia nikahi bukanlah dia, kalau tidak… tidak ada lagi hari yang bahagia untuknya.
Pukul 6 pagi, Lina mengganti pakaiannya dan pergi ke ruang makan.
Baru duduk, dia melihat John juga turun.
“Pagi.” Sapa John.
Lina menunduk dan berkata, “Pagi.”
“Gimana tidurnya kemarin malam?” tanya John dengan sengaja.
Lina juga tahu dia sengaja bertanya ini, jadi dia berkata dengan sedikit tak acuh, “Biasa.”
John memakan buburnya, menatap ke Lina dan berkata, “Kalau kamu merasa bosan dirumah, kamu boleh pergi ke rumah lama, main mahjong sama mamaku.”
“Gak tertarik.”
__ADS_1
Walaupun Lina bereaksi dengan tak acuh, tapi John juga tidak marah.
Lina meletakkan teh lemon yang sedang dipegangnya, lalu berkata dengan serius, “Aku dengar dari orang rumah, katanya hari ini mau memberi keluarga kalian kepemilikan dari tanah.”
“Tanah yang mana?” tanya John, tampaknya dia belum mengerti.
Lina menatap mata John, tapi sepertinya dia memang bukan berpura-pura.
“Itu tanah keluargaku di dekat danau sana, awalnya untuk keluarga Xie, tapi karena sekarang aku menikahimu dan uang pun kalian yang keluarkan semua, jadi tanahnya diberikan untuk keluargamu.”
“Ah, tanah yang didekat danau itu toh, gapapa, sekalipun kamu gak kasih tanah itu aku juga tidak akan merendahkanmu.”
Lina lalu membela diri, “John, kamu sudah menghabiskan uang banyak demi keluargaku, jadi keluargaku juga sudah seharusnya membalas kebaikanmu, hari ini kakakku akan datang mencarimu untuk menyerahkan dokumen-dokumen tanah itu.”
“Baiklah.”
Melihat Lina sangat memperdulikan masalah ini, John hanya bisa mengangguk.
Tanah milik keluarga Hua itu, walaupun tidak seharga 1 triliun, tapi itu sangat berharga, sekarang tanah di kota sudah sangat sulit dibeli.
Tanahnya itu, mau untuk dibangun gedung atau lainnya, semuanya bisa dijadikan investasi yang berharga.
“Aku udah selesai makan, kamu makan pelan-pelan aja.”
Lina makan dengan sangat cepat, setelah selesai makan dia langsung berbalik badan hendak naik keatas.
“Istriku, kamu tambah kontakku kedalam Wechatmu dulu.”
__ADS_1
Lina tidak menduga akan permintaan dari John ini.
Dia menoleh pada John dengan terkejut.
“Ngapain lihat aku? Jangan bilang kamu gak punya.” John tertawa.
“Bukan.”
Lina mengeluarkan HP nya, membuka barcode nya dan pergi menghampirinya.
Lalu John menambahkan dia ke kontaknya, dan mengingatkannya, “Jangan lupa terima permintaan temanku ya.”
Lina tidak bersuara dan hendak naik keatas.
John berkata pada diri sendiri, “Umurnya belum tua, tapi sikapnya sudah sangat merepotkan.”
Tapi, dia tidak takut.
Kemudian John pergi ke perusahaan, dan Lina juga bukanlah orang yang tiap hari hanya berdiam di rumah.
Setelah makan siang, Lina mengganti pakaiannya dan naik mobil pergi keluar.
Dia pergi ke pusat pembelanjaan barang antik di kota, dia mau melihat mungkin ada barang bagus yang bisa dia beli.
Mobilnya adalah Audi A8, hitam, yang Rika yang menyetirnya.
Ella duduk bersama Lina dibelakang, tapi tak terduga baru keluar dari Spring Mansion, ada orang yang menghentikan mereka.
__ADS_1
“Nona, sepertinya dia dari keluarga Xie.” Rika menoleh kebelakang dan memberitahunya.
Belum sempat Lina menjawabnya, Eric sudah berjalan kedepan mobilnya, dan berteriak kearah kursi belakang, “Lina, aku mau memberitahumu sesuatu.”