Pernikahan Sementara

Pernikahan Sementara
Bab 414 Pertarungan Kelas Berat


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Karena Benard di rumah sakit menemani Lika jadi bisa terhindar dari bencana ini, hanya waktu dia menerima telepon, segera meminta bantuan Lina.


Raut muka Lina sangat marah hingga putih, tapi tidak berdaya, untung pemadam kebakaran di sekitar segera memadamkan api, puluhan polisi itu, tidak ada yang meninggal, tapi ada 7 orang luka terbakar, salah satunya luka bakar parah, perlu masuk dalam pengawasan UGD, atasan Benard, kirinya terbakar, telinga melepuh.


Hello! Im an artic!


Dan Harrison sekarang malah tidak ada kabar……Windi marah sampai mau memarahi mereka, tapi sayang, di kehidupan ada begitu banyak kecelakaan.


“Linlin, sekarang gimana, setelah ketahuan orang itu tidak akan mudah dicari lagi.” Windi menghela nafas, merasa semuanya sia-sia, tapi Lina malah tenang, “Dia tidak akan balik, kita hanya perlu mengawasinya saja, kamu jangan lupa, roh yang dipeliharanya belum dibawa pergi, apa dia mungkin melepaskannya di sini?”


“Kali ini dibuat kesel oleh beberapa polisi ini.”Windi sekali pikir atasan Benard yang bodoh itu, merasa kesal.


Lina malah tidak berkata apa-apa, hanya jika ntar ada kabar lagi, tidak akan memberitahukan lagi, bukan tidak percaya ke Benard, tapi tidak mau ketahuan, masalahnya ini berhubungan dengan nyawa orang.


Hello! Im an artic!


Setelah penjahat psikopat itu ketahuan, pastinya akan bersembunyi di tempat yang lebih aman, polisi hanya bisa mencari terus, Lina dan Windi punya cara sendiri.


Qing Feng Windi selalu mengawasi Harrison, benar di malam hari kedua, dia dengan diam-diam jam 11.30 malan kembali ke dalam pabrik makan freezer.

__ADS_1


Qing Feng punya mantra pelindung, maka tidak ada orang yang tahu, melihat Harrison menuju ke ruang freezer di pabrik itu, ruang freezer sangat banyak, yang Harrison pergi adalah guadang no 17.


Setelah Qing Feng memberitahukan kabar ini ke Windi dan Lina, memang tidak jauh dari mereka berdua jadi segera ke sana.


“Saya suruh Qing Feng saya menahan psikopat itu di depan pintu, saya sekarang ke sana, kamu di mobil tunggu saya.” Windi bilang ke Lina.


Lina menganggukkan kepala dengan pelan, bukan dia takut mati, tapi sudah berjanji ke John tidak akan menggunakan kekuatan itu lagi, juga tidak akan mengambil resiko, karena Windi adalah keluarga feng, pasti ada kemampuan.


Lina juga tidak khawatir Windi akan ada masalah, dan juga, dan juga, kalau Windi ada masalah, dia juga tidak akan diam saja.


Windi datang dengan perlengkapan, maka memakai baju yang bersih dan enak, baju panjang hitam, dalam pergelangan tangan juga pake sarung.


Dalam tas, disiapkan Windi beberapa mantra, mahoni, kunci pemanggil roh. Tujuan hari ini sangat jelas, pertama, menangkap Harrison, kedua, menolong roh-roh yang ditangkap.


Waktu Windi masuk, dalam tangan Harrison menggendong kotak hitam sedang mau jalan keluar, dua orang berseberangan.


“He he, mau pergi ke mana?” Windi langsung menahannya di pintu ruangan freezer no 17.


Harrison memang mirip dengan foto, sangat ganteng, kenapa tidak kelihatan seperti orang yang jahat dan kejam.


Dia menggendong kotak hitam, melihat sekilas Windi.

__ADS_1


“Makanya saya bilang kenapa begitu cepat polisi bisa mencari saya, ternyata ada master.” Dia sangat tenang.


Windi mengulurkan tangan menarik rambutnya di pinggir telinga, sangat sexy, “Tidak tinggi tidak tinggi, tinggi kakak saya hanya 165 cm.”


Harrison itu melihat sekilas ke tas yang di Windi, tahu kalau cewe ini tidak mudah, berencana mau kabur, dan menyembunyikan kotak itam itu ke tasnya.


Secara spontan mengambil sebuah tongkat polisi, menyerang ke arah Windi.


Tongkat polisi itu menyerang kepala Windi, menutupi muka.


Windi juga sabar, menangkis tongkat polisi yang ditahan orang itu, langsung melemparkan mantra putih dan berteriak, “diam.”


Orang itu langsung tidak bisa bergerak, tongkat polisi juga diam di udara.


Windi tertawa, berjalan ke belakang badannya mengulurkan tangan mengambil kotak hitam itu, baru menyentuh tasnya, merasa perutnya sakit, mundur beberapa meter.


Ternyata, cowo ini secara tidak sadar bisa melepaskan diri dari mantra, membalikkan badan menendang, langsung ke arah perut Windi.


Dia menekan perutnya, “Tiba-tiba sudah mengerti mantra saya, seru neh.”


“Sebenarnya tidak ada masalah dengan kamu, untuk apa ikut campur?” cowo itu melihat sekilas ke Windi, dalam matanya ada aura membunuh.

__ADS_1


__ADS_2