
Hello! Im an artic!
Apa yang diucapkan Lina Hua itu memang ada benarnya, tapi jalan pikiran Windi benar-benar berbeda dari Lina Hua.
“Lina Hua, Kota J bisa terselamatkan karena ada kita di sini, tapi kalau tidak ada? Siapa yang akan menolongnya?”
Hello! Im an artic!
Lina Hua terdiam……
“Lina Hua, kau boleh bilang aku ini egois ataupun takut mati, tapi aku benar-benar tidak suka diriku menjadi pahlawan super seperti itu. Dari kecil aku sudah sangat tidak suka dengan cerita-cerita pahlawan super, aku merasa, kalau aku menolongmu, berarti kau berhutangbudi padaku, tapi kalau aku tidak menolongmu, juga bukan masalah apapun. Jangan karena aku tidak berbuat apa-apa, kau langsung memaki-maki aku jahat dan tak setia kawan, siapapun juga tidak boleh memakiku seperti itu, tiap orang memiliki hak masing-masing, sama seperti waktu itu saat aku tidak ingin menjadi pemimpin Keluarga Feng. Apa di dunia ini yang bisa ilmu gaib hanya kita berdua saja? Bukankah rasa kekhawatiranmu itu berlebihan? Apa kau masih sama seperti Lina Hua yang dulu? Kurasa kau harus mengganti namamu menjadi Bunda Maria.”
Perkataan ini adalah perkataan paling menyakitkan yang pernah diucapkan Windi pada Lina Hua, bahkan Rika dan Ella yang mendengarnya dari belakang pun merasa sakit hati.
Rasanya pertemanan antara nona mereka dan Nona Feng akan hancur berantakan, bagaimanapun mereka bertengkar dengan sangat hebatnya.
Hello! Im an artic!
Lina Hua bukanlah seseorang yang pandai bertengkar, apalagi dengan sahabatnya sendiri, oleh karena itu ia memilih untuk diam.
__ADS_1
“Kalau kau ingin pergi, pergilah sendiri, tapi kuingatkan dirimu, jangan mempersulit dirimu sendiri, dan jangan lupa, persoalan tempo hari itu masih belum kau selesaikan. Dirimu memang hebat dan kau memang bisa hidup tanpa ada beban sama sekali, tapi bagaimana dengan John Jiang, bagaimana dengan Rika dan Ella?”
Lalu, Windi pun pergi meninggalkan rumah Lina Hua.
Sebenarnya, Windi bersikap panik seperti itu karena anak Keluarga Ling meninggal tadi malam, ia ingin berdiskusi dengan Lina Hua, tapi siapa sangka hati Lina Hua sudah tergerak dan ingin langsung mengatasinya?
Hubungan Keluarga Feng dan Keluarga Ling tidak begitu baik, meskipun mereka tidak bisa dibilang musuh, tapi mereka juga bukan teman, anak Keluarga Ling meninggal karena zombie itu, Keluarga Ling juga belum membuka mulut mereka, mana mungkin ia langsung keluar dan berlagak menjadi pahlawan di hadapan mereka.
Windi merasa, ia tak akan pernah bisa melakukan hal yang sangat memalukan seperti itu.
“Nona, pertemananmu dengan Nona Feng sudah hancur.” kata Ella pelan.
Lina Hua sama sekali tidak marah pada Windi, karena ia sangat mengenal Windi, waktu itu, Windi juga berkata serupa padanyam tapi bukankah pada akhirnya ia tetap menolongnya di tengah malam?
Oleh karena itu, Lina Hua tidak marah, ia hanya merasa jalan pikirannya dengan Windi tidak sama.
Apa yang dikatakan Windi memang benar, ia punya hak untuk tidak menolong mereka, tapi Lina Hua juga punya hak untuk menolongnya.
Kata Windi, kalau tidak ada mereka, siapa yang akan menolong Kota J?
__ADS_1
Lina Hua merasa, kalau tidak ada mereka, mungkin saja zombie itu tidak akan muncul di sini.
Di mana ada tikus, di situ ada kucing, zombie itu sudah terlalu sering memakan korban, mana mungkin Lina Hua bisa diam saja?
Yang berbaring di atas lantai itu adalah manusia yang tadinya masih hidup dan bernafas, namun pada akhirnya, darah dan daging mereka berserakan di mana-mana.
Akhirnya, Lina Hua pun memutuskan untuk bertindak sendirian, ia juga tidak ingin mempersulit Windi.
Bahkan demi menghibur Windi, Lina Hua pun mengirimkan sebuah pesan padanya.
Lina Hua: Windi, yang kau katakan itu memang benar, ini bukanlah kewajiban kita, juga bukan tugas kita, tidak apa-apa kalau kau tidak mau menolong, tapi aku mau, tapi aku juga tidak salah, semua orang memiliki pendapat masing-masing, aku tahu jelas kau ini orang seperti apa, berlagak takut mati ataupun egois, semua itu hanya sandiwaramu saja, kau juga seseorang yang berhati lemah lembut, sama seperti aku…… agak sedikit bodoh.
Windi yang awalnya masih marah, langsung tersenyum melihat pesan itu, ia tersenyum sambil meneteskan air mata.
“Kenapa kau, menangis sambil tersenyum?” tanya Andy Qin yang sedang mengambil sekaleng cola dari dalam kulkas.
“Lina Hua bilang sifatku jelek.” jawab Windi sambil cemberut.
“Ah……”
__ADS_1
“Katakan, apa sifatku tidak baik?” Windi mengangkat kepalanya menatap ke arah Andy Qin.