Pernikahan Sementara

Pernikahan Sementara
Bab 268 Kehangatan Telapak Tangan


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Lina tidak pernah menyangka seumur hidupnya akan menemukan pemandangan seperti ini.


Di lereng bukit bagian belakang dikelilingi dengan pohon plum, angin salju dan membuat bunga-bunga plum tampak merah lebih indah. Lapisan salju itu terbalut dengan balutan bunga warna merah, ratu bunga apapun kalah cantik dengan pemandangan kala itu.


Hello! Im an artic!


Satu-satunya bunga indah yang dapat dilihat dari pegunungan pada musim saat ini, hanya pohon plum. Seluruh bagian bunga itu terbaalut cantik oleh salju, dan berkilau di bawah sinar matahari. Keindahan itu seperti dunia fantasi, banyak orang yang tidak percaya akan kenyataan keindahan itu.


“Bagaimana? Indah bukan?” John memandang Lina yang berdiri berdampingan, melihat ekspresi Lina saat itu, dia tahu bahwa Lina sangat terpana.


Lina mengangguk, dan tidak sabar untuk berjalan menuju pohon plum terdekat. Dia mengulurkan tangan dan menyentuh bunga-bunga yang di bawah.


“Salju dan pohon memang plum selalu berebut populer saat musim semi, tapi pemandangan kali ini, salju harus mengakui kekalahannya terhadap pohon plum.” Lina tidak bisa menahan diri untuk membacakan makna sajak tersebut.


Hello! Im an artic!

__ADS_1


John menatap lembut dan tersenyum lega.


“Ada berapa pohon plum di sana?” Lina penasaran, memandangi beberapa pohon plum merah yang tak terhitung jumlahnya.


“1200 buah.”


“Sebegitu banyak kah? Apakah keluargamu ada yang menyukai bunga plum?” Lina merasa bahwa jika bukan karena kesukaan mereka, bagaimana mungkin memiliki waktu luang untuk menanam pohon sebanyak ini, lagipula, ini merupakan salah satu yang tidakdapat menghasilkan nilai jual.


John mengangguk, “Yah, ibuku menyukainya. Ibuku terpengaruh oleh kakek nenekku ketika aku masih kecil. Nama nenekku adalah Mei Chen. Kakekku sangat mencintai nenekku sehingga dia menanam banyak pohon plum di halamannya. Ibuku sangat menyukai bunga plum sejak dia masih kecil. Ayahku sangat bahagia ketika ibuku melahirkanku, dia bilang dia ingin memberi hadiah dan bertanya apa yang ibuku inginkan. Ibuku sempat ragu dan berpikir lama, akhirnya ia meminta taman pohon plum, jadilah ini. ”


“Kalau begitu kakek-nenekmu pasti juga suka di sini,” Lina bertanya sambil tersenyum.


“Maaf.” Lina merasa sedikit canggung.


“Tidak apa-apa. Mereka meninggal sudah agak lama. Kakekku terkena kanker usus, kemudian setelah ssatu tahun kepergian kakek, nenekku juga meninggal, saat itu aku baru berusia tiga tahun, jadi tidak terlalu ingat kejadian itu.”


“Lalu, kakekmu hanya memiliki satu anak perempuan, yaitu ibumu kah?”

__ADS_1


“Tidak, ada paman lain, yang beberapa tahun lebih muda dari ibuku, sudah lama berimigrasi ke Inggris. Bibiku adalah campuran Cina dan Inggris, dan mereka juga terbiasa dengan negara-negara asing. Pamanku pengusaha property, bibiku katanya keturunan bangsawan, tetapi mereka sudah lama tak berkomunikasi. Bagaimanapun juga, mereka sudah memiliki keluarga masing-masing, dan jarak pun memisahkan lumayan jauh.”


Lina mendengarkan John dengan serius tentang urusan keluarganya, dia seperti merasakannya sendiri. Mereka hanya berjalan di tengah jalan di taman plum, menyaksikan pemandangan indah pegunungan. Sampai wajah Lina sedikit pucat, John pun cemas dan bertanya padanya, “Yuk, kita kembali, sepertinya kamu kedinginan?”


“Biasa saja kok.” Dia menundukkan kepalanya dan menggosok tangannya.


John melepas syal hitam di lehernya dan mengenakannya untuk Lina.


“Tidak…” Baru saja ia ingin menolak, mengatakan tidak, tetapi gerakan John jauh lebih cepat daripada penolakannya, kehangatan yang dirasakan ditengah-tengah tangan kecilnya. John kemudian mengambil halus tangan Lina, meletakkanya di dekat mulutnya, John memberikan hembusan napas hangat pada tangan Lina. Lina merasa berdegup. Dia benar-benar baru pertama kali diperlakukan seperti ini. Wajahnya memerah.


“Sudah, aku tidak lagi kedinginan.” Lina menarik kembali tangannya.


John menggenggamnya dengan erat, memasukkan tangan Lina ke dalam saku mantelnya, dan terus memeluknya dengan tangannya.


“Baiklah, ayo kita kembali turun, kita makan hotplate daging angsa.” dia tersenyum lembut.


Lina benar-benar merasa bahwa hari ini adalah hari yang indah, bunga-bunga plum indah, gunung-gunung bersalju cantik, dan perhatian John.

__ADS_1


Sambil menyantap hidangan, Bibi Li bertanya ingin tahu, “Nona Muda, apakah Anda sedang hamil?”


Lina menundukkan kepalanya lebih rendah, saat itu John mengangkat sudut mulutnya dan ingin tertawa.


__ADS_2