
Setelah Lina menerima telepon, buru-buru bangun.
Kebetulan John juga belum tidur, setelah selesai bertanya dengan jelas, lalu buru-buru membuka mobil mengantar Lina semalam pulang ke Keluarga Hua.
Penyakit nenek Keluarga Hua sudah lama, sebenarnya juga tahu sudah waktunya.
Maka orang Keluarga Hua juga tidak mau bersusah-susah pergi ke rumah sakit, nenek sendiri juga tidak mau ke rumah sakit.
Sekalian menyuruh dokter ke rumah, memberi suntikan dan menggunakan tabung oksigen.
Waktu Lina mereka ke sana, sudah mau jam 11.
Orang Keluarga Hua semuanya pun sudah datang, Lika juga ada, melihat Lina, dua orang itu tidak menyapa.
Semua orang berkeliling di ruang belakang rumah, raut muka nenek sangat jelek, menghisap oksigen.
Suster yang mengurus nenek, bercerita sambil menangis, “Sebenarnya baik-baik saja, waktu makan malam, nenek hanya makan setengah mangkok bubur, jam 9 lewat mengeluh sakit dada, lalu saya mengipasi dia, kemudian terlihat raut wajahnya tidak bagus, kemudian lagi, susah nafas.”
“Ibu, kamu sudah menderita.” Peter Hua memegang tangan nenek.
Beberapa tahun ini Peter Hua, bisnisnya tidak bagus, tetapi sangat berbakti, terhadap nenek sangat berbakti.
Bagaimana dengan Lina, walaupun tidak dimanja, tetapi ikut dengan nenek, tidak menderita sama sekali, juga termasuk enak.
Nenek sudah setengah hari menggunakan oksigen, baru membaik.
__ADS_1
Setelah dia melihat sekitarnya, terakhir pandangannya berhenti di Lina.
Mengangkat tangan ke arahnya……
“Nenek sepertinya menyuruhmu ke sana.” John berbisik di telingan Lina.
Lina berjalan pelan-pelan, sampai ke samping ranjang nenek.
Nenek sudah tidak dapat mengatakan apa-apa lagi, dia memegang tangan Lina.
Saat melihat dia, matanya semua airmata ……
Lina berusahan menahan, tidak menangis keluar.
“Dokter Wang, bagaimana keadaan nenek saya?”
“Jujur, keadaannya tidak bagus, ini adalah penyakit lama, penyakit orang tua ini bukan satu dua hari, sekarang seperti menunggu satu batang lilin yang terbakar sampai akhir … sampai ke pembuluh darah … tadi saya baru menyuntik obat untuk menguatkan jantung, juga tidak tahu bisa bertahan sampai kapan, kalian harus bersiap-siap, menyiapkan persediaan untuk pemakaman, karena dia kapanpun … akan meninggal.”
Setelah mendengarkan perkataan dokter, hati semua orang di sana sedih.
Yang terutama Lina, sangat sedih sampai tidak bisa mengatakan apa-apa.
Sepertinya nenek ingin mengatakaan sesuatu, tetapi membuka mulut saja tidak bisa.
Lina sudah menemani sebentar, lalu menegakkan badan sebentar.
__ADS_1
Suster yang menjaga nenek, menarik Lina ke kamar kecil di sebelah kamar opname.
“Nona kelima, nenek akhir-akhir ini selalu tidur malam untuk mengerjakan sepatu, ini … masih ada jahitan terakhir, tetapi nenek menyuruhnya mengatakannya, takut orang lain yang melihat mencari masalah … sepasang sepatu ini mungkin akan menjadi sepasang yang terakhir, ntar kalau kamu punya anak, pakaikanlah.”
Suster mengambil 1 tas kain kecil, pelan-pelan membuka.
Di dalamnya ada sepasang sepatu kain kecil yang sangat unik.
Dijahit sendiri oleh nenek, waktu nenek muda juga nona muda di keluarga orang kaya, maka jahitan sangat bagus.
Di atas kain berwarna biru, dijahit sepasang kupu-kupu yang seperti bergerak.
Tetapi sayang, hanya ada satu sepatu, dan belum selesai.
Lina mengambil sepatu, dalam hati sangat berat…
“Nona kelima pasti tahu, yang paling dirindukan nenek adalah anda, anda dari kecil di sampingnya … berbeda dengan orang lain, beberapa hari yang lalu nenek membicarakan terus, sangat ingin melihat anda punya anak, tetapi badan sudah tidak mengizinkan, menyuruh kamu menjaga baik-baik diri sendiri, tinggal bersama dengan Keluarga Jiang dengan baik, lain kali baru ada tempat berlindung.”
Sepasang tangan Lina memegang sepatu, airmatanya seperti mutiara yang putus dari benang, tidak berhenti menetes,
John sudah mencari sekeliling, baru di kamar yang kecil ini menemukan Lina.
Waktu dia masuk, suster sudah keluar, Lina memegang sepatu anak kecil, tidak bergerak.
“Linlin.” Dia berkata dengan lembut.
__ADS_1
Lina mengangkat kepala, wajahnya penuh airmata, “John, bolehkan saya meminjam bahumu?”