
Ternyata, orang ini tidak bisa dipuji, kemarin malam baru berpikir orang ini lumayan, hari ini minta balasan.
Lina dengan dingin menjawab, “Kamu mau apa?”
“Nada begini, saya minta apa kamu bisa kasih?”
“Saya ada apa.”
“Yang saya mau, kamu pasti ada.” Dia sengaja membuatnya misterius.
Tetapi ngomong sampai sini, ternyata ada sedikit ambigu.
John identitas ini, tidak kekurangan uang atau kekuasaan, mau angin dapat angin mau hujan dapat hujan.
Masih mau apa?
Jangan-jangan mau……
Lina berpikir lagi, merasakan mukanya ada sedikit pedas.
Kalau John benar memberikan permintaan yang kurang ajar seperti itu, maka lain kali dia benar-benar akan jarang mengubrisnya.
Setengah jam
John mengirim wechat, dia membuka dan melihat.
Di atasnya tertulis —— untuk berterima kasih kepadaku, kamu temani aku nonton film, mau tidak?
Sejujurnya, Lina tidak terpikir, permintaan John begitu mudah?
Menonton film itu permintaan apa?
Memang juga, Lina sendiri tidak suka menonton film, maka terhadap dia, menonton film pasti tidak di dalam rencananya.
Tetapi John sudah mengatakannya, dia harus menemani, sebenarnya juga permintaan orang tidak keterlaluan.
__ADS_1
“Boleh.” Setelah dia menyusun kata lalu mengirimkannya.
“Kalau begitu setelah pulang kerja saya pulang ke rumah jemput kamu.”
“Tidak perlu repot, saya akan suruh Rika membuka mobil mengantar ke sana saja, kamu mengirimkan alamat bioskopnya.”
Lina dari dulu sangat mandiri, tidak mengharuskan lelaki yang menjemputnya.
John juga menghormati opininya, tidak memaksa.
Mengirimkan alamat bioskop, dan 2 tiket film.
Waktu melihat tiket film, Lina tidak mengatakan apa-apa.
Dia mengira John akan menonton film percintaan, atau paling tidak beberapa film besar amerika.
Mana tahu, ternyata —— Cara melatih naga anda 3
Ini film kartun kan ya?
Lina terpaksa menjawab dengan 1 emoticon ok.
Selanjutnya, dua orang tidak berhubungan lagi, sibuk masing-masing.
Sudah sampai malam jam 6.30, Rika mengemudikan mobil mengantar Lina ke pusat kota, bioskop yang tidak jauh dari bank pribadi Keluarga Jiang.
Disini orang tidak sangat banyak, Lina dengan luar biasa memakai satu set baju olahraga.
Baju lengan pendek, celana sepertujuh, masih memakai topi tenis, mengurai rambut panjang, terlihat berbeda.
Dandanan ini sangat low profile, tidak ingin menarik perhatian orang.
Kalau tidak, jika difoto oleh beberapa infortemen yang tidak beresmaka akan tidak baik.
Akhir bulan agustus Kota J, masih ada sedikit panas, masih banyak pasangan yang memegang es krim dan minuman dingin, menunggu film dimulai.
__ADS_1
Rika dan Lina di sini sudah menunggu tidak sampai 2 menit, John sudah datang.
Dalam tangannya sudah ada hagendas yang baru dibeli, masih ada satu basket popcorn dan coca cola.
Yang Rika kaget adalah, tuan muda masih membelikan bagiannya.
“Terima kasih tuan muda.” Dia berterima kasih.
“kamu mau menonton bareng kita?” John malah tidak banyak pikir, cuma berpikir kalau Rika sendirian di sini pasti bosan.
“Saya tidak ikut, saya menunggu kalian di dalam mobil.”
Rika juga bukan orang yang tidak bisa melihat keadaan, setelah mengambil es krim lalu kabur.
John membawa Lina dan juga beberapa tumpuk snack, masuk ke dalam bioskop.
Lina sudah bertahun-tahun tidak masuk bioskop lagi, dia selalu menghindari tempat orang banyak.
Maka mulai merasa tidak nyaman, tetapi setelah film diputar, sudah lebih baikan.
Dia yang tidak suka makan snack, malah mulai makan popcorn.
Waktu selesai menonton, dia sudah habis makan setengah.
Dia sendiri pun kaget……
Benar-benar 2 jam, dua orang selesai menonton dan keluar dari bioskop.
“Bagus tidak?” John menanyakannya.
“Lumayan.”
“Kadang-kadang film mengisi jiwa kita, karena dunia ini gelap, makanya kita baru pergi menonton untuk mencari kebaikkan.” John tiba-tiba menghela nafas.
“Oh? Kamu merasa dunia ini gelap?” Lina menoleh ke arahnya dengan minat.
__ADS_1