Pernikahan Sementara

Pernikahan Sementara
Bab 180 Malam Hari Yang Mengoda


__ADS_3

Mendengar suara John, matanya baru bergerak sedikit.


Kemudian mengangkat kepala melihat ke arahnya, dia ingin mengatakan sesuatu tapi, dia menggoyangkan mulut, dan memendam kata-katanya kembali.


Melihat kondisi Lina, John tidak peduli Lina marah atau tidak, dia langsung memeluknya.


John kali ini memeluknya dengan sangat erat.


John memakai jas dari batu safir, di tubuhnya tercium harum mint.


Tidak seperti pria lain yang sengaja memakai parfum yang murahan dan berminyak itu.


Lina menyandarkan kepalanya ke dadanya, dan mungkin karena harum mint, membuat dia pelan-pelan menutup matanya.


Kemudian dia tertidur lagi.


Kali ini mimpi buruknya hilang sama sekali, Lina tertidur sampai pagi.


Subuh jam 5.30


Lina membuka matanya, kemudian dia kaget.


Karena dia sadar sedang terbaring di pelukan seorang pria.


Dan pria ini, adalah John.


Dia gak membuka bajunya, masih memakai kemeja dan celana panjangnya, dan dia tidak memakai selimut.


Malah dia menyelimuti Lina dengan rapat, takut dia dingin.

__ADS_1


Awalnya kira dia sudah diapa-apain, tapi John saja gak membuka bajunya, kalau bilang diapa-apain berarti fitnah donk.


Lina berusaha mengingat kejadian semalam, kemudian dia teringat, John masuk karena mendengar teriakan mimpi buruknya.


Dan memeluknya erat-erat, memberikan dia sebuah rasa aman.


Jadinya dia bisa tidur dengan nyenyak.


Setelah itu, hatinya ada sebuah rasa misterius, tapi rasa seperti apa, dia sendiri saja tidak tahu.


Dia hanya merasa, John ini, tidak seperti yang dia pikirkan dulu.


Dia melihatnya dari jarak dekat, John masih tertidur.


Hembusan nafas yang pelan itu seperti menyapu hidung Lina.


Bulu mata yang begitu lebat, kulit yang tidak terlalu putih, tapi begitu halus.


Ketika melihat dia sadar, Lina langsung bangun dan lepas dari pelukannya.


Kemudian dengan sedikit malu dia berkata, “Kamu kenapa tidur di ranjang aku?”


“Semalam kamu mimpi buruk, aku lihat kamu panik dan pucat, jadi terus memelukmu.”


“Aku tahu, yang aku bilang, ketika aku tertidur, kenapa kamu gak balik ke kamar sendiri tidur?” Lina melihat ke arahnya.


John menutup matanya, mencoba menikmati kenyamanan yang diberikan oleh bantal.


“karena aku takut kamu mimpi buruk lagi.”

__ADS_1


Lina terdiam….


John benar juga, kalau misalnya dia pergi, dan Lina melanjutkan mimpi buruknya, bagaimana donk?


“semalam…. Aku ada ngomong apa enggak? ” Lina tidak begitu ingat kejadian ketika di bangun itu, ada merancu atau tidak.


John mengangguk.


“Aku berbicara apa?”


“Seperti ini membunuh diri sendiri atau apa, lumayan menakutkan.” John berusaha mengingat kembali.


Ekspresi Lina terlihat muram.


“kamu mimpi apa? Kok bisa kaget seperti itu?” John kemudian memeluk bantal dan sambil duduk, dia tidak ingin berbaring lagi.


Dia melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 6.


“Gak ada apa-apa, hanya mimpi saja.” Lina tidak bermaksud menceritakannya, soalnya beberapa tahun ini, mimpi tentang ritual pengorbanan ini, dia sudah memimpikannya ribuan kali.


Dia gak merasa itu adalah sebuah mimpi atau sebuah kebetulan, dia ingin mencari tahu, tapi sampai sekarang masih belum ada info sama sekali.


Tapi hal ini gak perlu diketahui oleh John


John tersenyum sambil melihatnya, “Kalau enggak gini saja, aku pindah ke sini saja tidur bersama kamu, biar kamu gak takut lagi. Katanya yinyang itu harus serasai, kamu sendirian tidur di kamar yang sebesar ini, sepertinya yinyang sudah tidak serasi laig, kau bisa memberikan aura yang ke kamu, tanpa perlu biaya, gimana?”


“Menurut kamu.” Lina melototinya


Tapi tebakan John benar, Lina juga merasa badannya belakangan ini terlalu banyak aura yinnya.

__ADS_1


John adalah pria, badannya membawa aura Yang, jadi ketika dia memeluknya, dia baru bisa tertidur dengan damai.


John melanjutkan berbicara, “Lin, semalam aku sudah membantumu, kamu gak bermaksud mencium ku, sebagai ucapan terima kasih?”


__ADS_2