Pernikahan Sementara

Pernikahan Sementara
Bab 108 Siapa Yang Berani Menindas?


__ADS_3

Sebenarnya masalah ini semuanya juga tidak terlalu memikirkannya, juga tidak akan percaya gadis kecil yang baru datang adalah seorang peramal yang hebat.


Lagi pula tempat seperti di kampus, semuanya masih sangat ilmiah, menolak hal takhayul.


Dan terhadap wanita yang sudah menindasnya, dia hanya tertabrak sebentar, juga tidak membalasnya.


Karena melihat raut wajah, sudah bisa tahu kalau wanita itu akan bertemu kesialan….. Ternyata memang…….


Malam hari saat pulang ke rumah, Lina selesai mengganti baju, di lantai bawah menggunakan aroma terapi, sambil merangkai bunga.


Ella berjalan keluar dari dapur, memegang sekotak kue bunga di tangannya.


“Nona, anda mau makan sedikit kue.”


“Kue bunga dari mana?” Lina bertanya padanya.


“Nona keempat yang memberikannya… Bukankah anda menyuruhku untuk mengantarkan sedikit masker buat nona keempat? Nona keempat sangat senang, jadi membalasnya dengan ini, bilang ada keluarga muridnya yang berada di Yun Nan, kebetulan membawa banyak untuknya, dia makan seorang diri juga tidak habis, menyuruhku memberikan padamu mencicipinya, kue bunga mawar ini katanya di tempat mereka adalah produk istimewa, sangat tradisonal.”


Lina menganggukkan kepala, sangat berhati-hati mengambil sepotong dan memakannya.


“Eng, aromanya lumayan, kakak keempat sebenarnya juga bukan orang yang sudah di ajak berhubungan, hanya saja tidak ada orang yang mengerti dirinya.”


“Iya, aku juga merasa nona keempat orangnya lumayan baik, nona ketiga orangnya juga lumayan baik…… Hanya saja nona pertama dan nona kedua sedikit…….” Ella belum selesai bicara.


Sangat mudah dilihat dan jelas sekali, dia dan Rika tidak menyukai Rinda dan Lisa.


Bukan hanya karena sifatnya yang suka mendesak orang, lebih banyak lagi mata mereka tertutup oleh harta dan kekuasaan.


Dalam hatinya dari awal sudah tidak ada tali persaudaraan lagi.


Lina tidak menyambung kata-katanya, saat ini, pintu terbuka, John pulang.

__ADS_1


“Makanan enak apa yang dimakan, wangi sekali?” Dia membuka mantelnya, memberikan pada Rika yang ada di samping.


“Kue bunga, mau makan?”


“Mau.”


John berjalan kemari, menaikkan lengan bajunya, mengambil handuk basah untuk mengelap tangan, juga tidak segan-segan mengambil sepotong kecil kue bunga.”


“Eng, aromanya lumayan, kelihatannya makanan vegetarian juga lumayan enak.”


Lina tersenyum dan tidak berbicara.


Dia melihat beberapa bunga daisy kecil dan babysbreath di dalam vas bunga.


Walau sederhana, tetapi sangat enak di pandang.


“Kamu yang membuatnya?”


“Bagus.”


“Terima kasih.”


“Besok juga buatkan satu untukku, taruh di dalam kamarku, bisakah?”


“Bisa.” Lina tetap tersenyum.


“Lina, aku dengar…. Hari ini di kampus kamu ditindas oleh orang ya, kamu masih bisa tersenyum?” John bertanya padanya.


“Apakah kamu menaruh mata-mata di kampusku? Bahkan masalah sekecil ini pun kamu bisa mengetahuinya?”


“Bagaimana mungkin? Aku mana ada waktu luang seperti itu? Aku yang tidak sengaja mengunjungi forum di kampusmu, melihat orang lain menulisnya.”

__ADS_1


“Para anak kecil itu, terlalu santai, suka bergosip.” Lina tidak merasakan begitu.


“Jika ada yang menindasmu, beritahu aku, aku akan membantumu.”


“Tidak usah, tidak ada orang yang berani menindasku.”


Rika juga tidak bisa menahannya lagi, “Tuan muda tenang saja, nona kami sangatlah hebat… Dia bukanlah teddy, dia adalah seekor mastiff tibet yang tidak bersuara……–begitu ada orang yang berniat jahat, akan mati dengan tragis.”


“Benarkah? Kalau ada waktu luang coba tunjukan sisi mastiff tibetmu.” John menjadikannya lelucon.


“Jangan, aku takut gigitannya melukaimu.”


“Tidak masalah, aku bisa suntik vaksin.”


Selesai bicara, Rika juga tersenyum, Ella juga tersenyum.


Dia meliriknya, “Benar-benar tidak bisa serius.”


“Diantara kita suami istri mana ada begitu banyak urusan serius, kamu masih sangat muda juga jangan selalu cemberut….. Banyak tersenyum, begitu tersenyum sangat cantik.” John membujuknya.


Saat ini, tidak tahu darimana Edo keluar.


Lina mengulurkan tangan ingin memeluknya, malah menyadari dia sudah memanjat masuk ke dalam pelukkan John.


Lalu berbaring dengan sangat malas….


John Jian mengelus punggungnya dengan hati-hati.


Melihat sinar mata John yang hangat, dalam sekejap, Lina mempunyai pikiran yang menakutkan.


Dia ingin membantu meramal John, mencoba melihat berkah dan bahaya setiap waktu dalam kehidupannya ini.

__ADS_1


__ADS_2