
Hello! Im an artic!
Orang yang meninggal itu bermarga Du, bernama Wade Du, istri sudah meninggal beberapa tahun lalu, biasanya hidup sendiri, hanya putrinya Janie Du yang menjaganya.
Dia tinggal bersama putrinya di daerah kecil, sudah menikah, suami adalah pekerja listrik, putrinya juga baru kelas 1, ekonomi keluarganya biasa saja.
Hello! Im an artic!
Dulu setelah Eric sudah memeriksa, karena saat itu banyak masalah, maka waktu periksa, tidak ada petunjuk lalu berhenti.
Setelah sekarang Lina mengingatkan kembali, dia menyuruh orang untuk memeriksa kembali, ternyata, benar ada hasil.
Setelah orang tua meninggal, Janie ribut tidak lama, selalu di kantor obat Eric menangis mencari media.
Kemudian setelah di tes orang tua meninggal karena penyakit jantung, bukan karena makan obat perusahaan Eric, dia tidak mendapatkan ganti rugi apa pun.
Hello! Im an artic!
Setelah memeriksa rekeningnya, dan juga bank suaminya, memang tidak ada dana besar yang masuk.
__ADS_1
Tetapi setelah masalah ini berlalu, sesudah diperiksa akhir-akhir ini suaminya selalu berjudi, sudah kalah 600 ribuan.
Untuk ekonomi Janie, tidak dapat mengeluarkan uang 600 ribuan untuk suaminya berjudi, tetapi tempat judi itu bisa mengeluarkan bukti, suami Janie Kenneth Wu memang benar kalah 600 ribuan, semuanya terlunasi.
Uang sebanyak itu, dari mana datangnya?
Terakhir, usaha tidak sia-sia, Eric sesudah memeriksa mendapatkan hasil yang diinginkan.
Sore ini, Janie setelah pulang kerja, waktu melihat Eric, mukanya langsung pucat.
Anaknya sedang mengerjakan pr, Eric duduk di ruang tamu, di samping anaknya.
Di belakang Eric, masih ada 2 bawahan, badan tinggi besar, pakaian jas.
“Eric, kamu mau ngapain di rumah saya?” Janie sudah terkejut.
“Takut apa, saya hanya datang menanyakan kabar saja, lihat kamu bagaimana?” Eric memelototi wanita itu.
“Kamu segera pergi, kalau tidak saya laporkan ke polisi, kamu ini memaksa masuk rumah orang kamu……” Janie mengangkat hp dengan gemetaran.
__ADS_1
“Ableson kasih keuntungan apa ke kamu?”
Eric bertanya begini, Janie terkejut sampai tidak berani lapor polisi, sekujur tubuh gemetar.
“Saya tidak mengerti apa yang kamu bicarakan, siapa Ableson, saya tidak kenal.” Dia dengan yakin bilang tidak kenal.
Eric juga sabar, duduk di kursi rumahnya menilai mereka, “Awalnya kamu rebut, saya selalu merasa kamu ingin minta uang, masih ingin memberimu ganti rugi, sekarang saya baru menyadari, saya bodoh, ternyata tidak menyadari, kamu disuruh orang, tetapi suamimu tidak tahu masalah kamu dan Ableson kan, kalau dia tahu, kamu tebak…… apa akan memaafkanmu?”
“Eric kamu jangan asal ngomong, segera pergi dari rumah saya, cepat pergi.” Janie membuka pintu, dengan marah mengusir orang.
Eric meneruskan, “2 bulan yang lalu reuni sekolah, kamu bertemu Ableson, dengar-dengar waktu sekolah kalian dulu ada cinta, karena takut orang tahu, kalian tidak pernah ke hotel waktu pacaran, tetapi di rumah sewaan kamu sendiri, kemudian waktu ayahmu makan obat pas penyakit jantungnya kambuh, tidak sengaja diketahui oleh Ableson, dia yang memberimu ide, untuk rebut, menjelekkan nama perusahan saya, dan juga memberi sejumlah uang besar, tetapi sangat pintar tidak dimasukin ke bank. Tetapi di…… rumahmu.”
Setelah selesai berbicara, Eric mengetuk-ngetuk meja, 2 orang di belakang dari kotak persembunyian di bawah ranjang, mengambil 1 kotak kecil.
Waktu membuka kotak, di dalamnya semua adalah emas batang yang bersinar……
Setelah Janie melihat sudah terbongkar, jatuh di tanah, bengong, dia kira masalah ini sudah lewat, Eric juga tidak akan memeriksa dia lagi.
“Tetapi…… Bagaimana kamu bisa tahu hubungan saya dan Ableson?” Eric mengambil sebatang emas untuk bermain, dengan pelan-pelan bertanya ke Janie.
__ADS_1