
Mulut Ella juga sangat cepat, belum menunggu Lina berbicara, dia sudah berebut untuk membuat onar.
“Tuan muda, nona kita, minggu depan di kampus ada pesta penyambutan tahun ajaran baru, bakat yang akan ditunjukkannya adalah menghancurkan batu di dada, lompatan udara di lingkaran api.”
John juga tertawa, melihat-lihat Lina, dalam pandangan penuh kelembutan yang manis.
“Istriku, ternyata kamu punya banyak bakat, lalu kenapa kamu tidak pertunjukkan salah satu pada suamimu?”
Lina sangat cerdas, “Karena pertunjukkan ini seumur hidup hanya bisa dilakukan sekali saja, tiga tahun yang lalu aku ada satu rekan seprofesi selesai pertunjukkan, sekarang rumput di kuburannya sudah setinggi satu meter.”
Kali ini Rika dan Ella tertawa lebih hebat lagi.
Bagaimanapun ini adalah momen lucu Lina untuk pertama kalinya.
John sangat menyukai Lina yang ceria, merasa jika begini tidak ada jarak yang yang terlalu jauh.
“Kampus kalian mau pesta penyambutan tahun ajaran baru?”
“Eng.”
“Kamu akan pentas?”
“Tentu saja tidak.”
“Eng, kita lebih baik low profile sedikit…. supaya tidak membuat orang lain punya niat lain.
Lina menutup mulut sambil tertawa.
“Sore apa yang dilakukan di rumah?”
__ADS_1
“Melukis.”
“Coba aku lihat.”
“Tidak.”
“Pelit amat, bukankah cuma lukisan? Aku juga bisa… Ella membawakan papan melukis, sekarang aku tunjukkan padamu.”
“Baiklah, tuan muda.”
Ella perlahan sudah bisa menerima majikan pria ini, karena dia merasa sikap John juga lumayan baik pada nonanya.
Apalagi dibandingkan Eric pria sampah itu sungguh lebih baik banyak tuan mudanya.
Jadi saat John memerintahkan dia melakukan apapun, dia juga akan melakukan dengan senang.
Ella turun dan memeluk papan melukis, Rika menyiapkan kuas melukis.
Masih memakai kemeja dan celana panjang yang mahal, walau terlihat tidak menyatu.
Tapi Lina malah merasa begini sangat menarik.
Jarang ada mood sebagus ini, juga tidak ingin menyurutkan antusiasmenya.
John melukis Rika dan Ella dalam versi abstrak dikomik.
Semacam lukisan yang sangat mirip orang asli, tapi juga sangat lucu dan berlebihan.
Selesai melukis, dia menunjukkan papan lukisnya, Rika dan Ella tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
“Aduh, ini adalah kami berdua?” Rika berteriak.
“Benaran agak mirip, tapi kenapa begitu jelek?” Ella membengkokkan kepalanya semakin dilihat semakin tidak beres.
“Lina, kamu bicara sejujurnya, mirip tidak?”
“Eng, sedikit, lukisan abstrakmu lumayan, dan yang terpenting waktu melukismu juga sangat cepat.” Lina memberi komentar.
“Dulu saat aku belajar di Cambridge, masih pernah menjadi seniman jalanan, mengandalkan melukis potret pada orang dalam seminggu bisa menghasilkan 1200 pounsterling, bagi seorang pelajar luar negeri, sudah cukup banyak.”
“Memang, tak terpikirkan kamu masih ada pengalaman seperti ini.” Lina merasa agak salut padanya.
Bagaimanapun anak orang kaya, mau apapun tinggal bicara saja, uang yang banyak sampai tidak akan habis dipakai.
Tapi dia malah bersedia melakukan semua ini, pantas untuk dihormati.
“Orang selama hidup harus mencoba merasakan sesuatu yang berbeda, dengan begitu baru tidak sia-sia datang ke dunia ini, sudahlah, kalian ngobrol dulu, aku pergi mandi dulu.”
Selanjutnya John naik ke lantai atas, sebelum naik ke atas, masih memberikan lukisan pada Rika dan Ella untuk dijadikan kenangan.
“Nona, kamu ini tuan muda melukis kami, mirip orang bodoh.” Rika masih merasa sulit dimengerti dengan lukisan komik ini.
Lina malah tersenyum tapi tidak berbicara.
Sebentar saja pesta malam penyambutan ajaran baru sudah mau tiba, malam hari jam 6 dimulai.
Lina mendapat undangan juga hadir, masih duduk dibarisan paling depan, duduk di samping guru penbimbing.
Saat giliran Lexie gadis tercantik disekolah naik ke panggung, seluruh ruangan heboh, bisa dilihat dia sangat populer.
__ADS_1
Sebuah piano tripod hitam di atas panggung, Lexie melirik Lina yang ada di bawah panggung.
Memegang mikrofon pelan mulai berbicara, “Ada sebuah permintaan yang agak berlebihan, ingin mengundang teman kita Lina dari departemen sejarah untuk duet main empat tangan dengan saya ciptaan Richard Claydman (Vanessa Smile), apakah bersedia memberi kehormatan?”