
Tapi sebenarnya hanyalah sebuah pemikiran saja, Lina mempunyai satu larangan yang sangat besar.
Yaitu meramal pada orang di sampingnya, pertama karena orang yang terlalu akrab, begitu mengetahui masa depannya duluan, baik atau tidak baik, jika adalah musibah, maka harus ikut campur atau tidak?
Tapi jika ikut campur, maka misteri terpecahkan, termasuk melawan kehendak tuhan, ini akan mendapatkan hukuman dari tuhan.
Jika tidak ikut campur, bagaimana tega melihat orang di sampingnya terjadi masalah?
Jadi ini adalah sebuah titik yang penuh kebimbangan, daripada begitu, lebih baik tidak meramalnya.
Tidak bisa dibandingkan dengan orang asing, orang asing walau bagaimanapun apakah akan bermasalah atau gimna, Lina bisa letakkan dirinya diluar masalah.
Jadi, walau ada pemikiran seperti ini, Lina akhirnya menahan diri.
Keesok harinya karena hari sabtu, jadi tidak perlu pergi kuliah.
Pagi sekali John sudah menemani ayahnya dan beberapa pelanggan pergi bermain golf.
Sebelum pergi berpesan, jika Lina merasa bosan, bisa pergi menemani ibunya.
Sifat nyonya Jiang lumayan baik, tapi Lina tetap ada rasa asing.
Awalnya berencana mumpung akhir pekan keluar untuk melihat-lihat, apakah ada tempat yang cocok untuk membuka toko kecil.
Bagaimanapun pikiran untuk membuka toko sudah ada dari awalnya.
Tapi….. Supir dari Keluarga Hua tiba-tiba datang, bilang mau menjemputnya pulang sebentar.
Karena maksud dari orang tua, walau tidak rela tapi tetap harus pulang.
__ADS_1
Lina hanya membawa Ella sendiri naik ke mobil, kembali ke Keluarga Hua.
Akhir pekan pada minggu ini sangat tenang, setelah Lina pulang, baru sadar semuanya tidak kembali.
Hanya ibu yang duduk di ruang tamu, di samping masih ada beberapa pembantu yang sedang membersihkan rumah.
“Ma.” Dia memanggil.
“Lina sudah pulang, cepat, duduk disini.”
Nyonya Hua menyambutnya dengan hangat, memegang tangan Lina, ini malah membuatnya sedikit tidak terbiasa.
“Mereka dimana?” Lina melihat di sekeliling tapi tidak melihat para kakaknya.
“Kakak pertamamu masih ada urusan di perusahaan, kakak kedua sedang keluar kota melakukan perjalanan bisnis, kakak ketiga mu seedang syuting di Kota Perfilman, bilang tidak bisa pulang, kakak keempatmu…… Aish, bilang pergi mendaki bersama beberapa rekan kerjanya, minggu ini tidak bisa pulang untuk makan, untung saja kamu pulang, jika tidak aku dan papamu akan sangat membosankan.”
Lina menganggukkan kepala, juga tidak banyak bicara.
Nyonya Hua menunjuk ke piring yang ada buah berwarna kuning.
Itu adalah buah yang sangat istimewa dari utara, namanya Ciplukan kuning.
Hanya sebesar kuku ibu jari, bulat-bulat, sangat lembek, masuk mulut terasa agak manis.
Di Gunung Congcui dulu tanam banyak, semua ditanam oleh nenek untuknya.
Dia memang suka memakannya, ibunya menyanjungnya begini, sudah cukup berniat.
Lina mengambil beberapa dan menaruhnya di telapak tangan, pelan-pelan memakannnya.
__ADS_1
Saat ini, Peter berjalan turun dari lantai atas.
“Lina sudah pulang.”
“Pa.” Dia menyapanya.
“Kenapa John tidak pulang bersamamu?”
Ternyata, kedudukan John sangatlah tinggi, semua orang yang ada di Keluarga Hua ingin melihatnya.
Sepertinya kedudukan dan pentingnya Lina sekarang, semua karena ada John.
Sebenarnya, juga memang begitu.
Setelah nenek meninggal, tidak ada orang yang memihaknya lagi.
Tapi dia menikah dengan orang yang punya keluarga baik, tentu saja tidak berani tidak menganggapnya.
“Dia mengajak beberapa klien untuk bermain golf.”
“Eng, minggu depan jika ada waktu luang bawa dia pulang untuk makan bersama.” Ayah Hua berkata.
Lina menganggukkan kepala, juga tidak banyak bicara.
“Setelah nenekmu meninggal, kesehatan aku dan papa juga tidak terlalu baik, akhir-akhir ini juga tidak keluar rumah…. Tunggu setelah nenekmu melewati hari ke 57, aku berencana jalan-jalan keluar negeri.” Perlahan nyonya Hua mengatakannya.
“Baik juga, dari pada kalian sedih.”
Sebenarnya Lina tahu, nenek meninggal, mereka juga tidak terlalu bersedih, memang hubungannya juga tidak terlalu baik.
__ADS_1
Tapi, ada beberapa kata, masih harus dibicarakan, munafik ya munafik.
“Lina, kamu dan John berencana kapan punya anak?” Pertanyaan nyonya Hua yang datang mendadak, membuat wajah Lina Memerah.