
Hello! Im an artic!
Setelah Lina usai menyantap hidangannya, dia mengantar Ella ke rumah sakit dan menemani Lika sebentar. Saat hari menjelang siang, John mengemudikan Porsche 911 putih yang terbilang sederhana untuk menjemputnya.
Lina mengenakan sweater berwarna hitam berleher tinggi dilapisi jaket putih bagian luar, Nampak sangat sederhana dan indah. Bagaimanapun juga, bodinya yang kurus dan cantik membuatnya terlihat imut, apalagi dipoles dengan sepatu musim dingin silver yang ia kenakan. Mengenakan topi merah kecil, bulat, dengan pola burung yang telah disulam, sangat chic.
Hello! Im an artic!
Setelah masuk ke mobil, dia penasaran akan pergi kemana.
“Kemana kita akan pergi?”
“Rahasia.”
“Kamu bukan mau menjualku, kan?” Lina bertanya serius padanya.
Hello! Im an artic!
“Jangan khawatir, tidak ada yang akan membelinya. Lagipula, kalau kita menjual dengan perhitungan timbangan, kamu tidak seberharga Rika dan Ella.” John menggodanya. Lina pun tertawa dan sedikit memukul manja.
__ADS_1
Hhhhmmm… Rika dan Ella memang tidak gemuk, tetapi mereka sedikit berisi, jika dibandingkan dengan Lina yang kurang dari 45 kg. Sementara Rika dan Ella masing-masing 56kg dan 60 kg. Kalau dihitung-hitung, memang sedikit rugi kalau ada yang membelinya.
Sepanjang perjalana, Lina memandangi ranting-ranting pohon yang dihinggapi embun salju membeku, membuatnya mau tidak mau mengeluarkan ponsel nya, memfoto mengabadikannya.
“Kamu sepertinya tidak terlalu sering menggunakan ponsel, WeChat juga seperti nya jarang, bahkan hampir tidak pernah posting di beranda social media, tidak banyak selfie juga.”
“Iya, memang.” Lina merasa bahwa yang John katakan memang benar.
“Kenapa? Tidak menyenangkan?”
“Tidak, aku hanya tidak ingin terlalu bergantung pada ponselku,karena kalau terlalu mengandalkan pada satu hal atau sesuatu, itu mengerikan dan akan melemahkan emosional diri.” Lina menjawab serius.
“Tidak, semua memang harus disiplin. Karena jika kamu tidak bisa mengendaLikan dirimu sendiri, hal lainnya pun akan hancur.”
John sedikit tidak sependapat dengan Lina, tetapi dia tidak ingin berdebat. Pertama, dia tidak ingin karena masalah sepele ini mempengaruhi suasana hatinya. Kedua,dia percaya bahwa semua orang adalah individu yang mandiri, sangat normal jika setiap orang memiliki pendapat dan perilaku sesuai pemikiran masing-masing. Bukan sebuah keharusan untuk membuat orang lain setuju dengan pendapat masing-masing.
Empat puluh lima menit perjalanan jalan tol dan dua terowongan gua sudah dilewati. Hanya sebuah gunung yang tidak tinggi, tidak rendah yang dapat ku lihat dari kejauhan. Dan ketika dia sampai di depan pintu, dia melihat sebuah plakat kayu di sederhana, dengan penjelasan dua kata — Manor Mei.
“Di mana ini?” Lina tidak tahu, apakah ini sebuah hotel atau resort? Atau mungkin sebuah pemandian air panas? Atau tempat bermain Ski?
__ADS_1
Dia menerka-nerka, tetapi ternyata tidak ada satupun yang dapat dijawab nya dengan benar. Dan ternyata ini adalah Villa pribadi milik Keluarga John, sangat sederhana dan terplosok, sehingga mungkin tidak diketahui oleh orang luar. Lokasinya tersembunyi, ia berada di pinggiran kota hampir mencapai pedesaan.
Ketika Lina dan John masuk, mereka menemukan pasangan paruh baya keluar untuk menyambut mereka.
“Paman, Bibi Li, ini adalah menantu kalian, Lina.”
“Wah, Cantik sekali. Aku ingin segera melihatnya saat ibu mu menceritakan tentangnya.” Bibi Li menggoda ramah.
Lina mengangguk dan tersenyum, menyapa.
“Paman, kita akan makan bersama disini, bisakah merebuskan angsa untuk kami?”
“Ide bagus. Suasana dingin begini ditemani dengan hidangan daging angsa besar! Hahaha, tunggu sebentar ya, satu jam akan terhidangkan.” Pasangan itu beranjak dengan sangat bahagia.
John mengajak Lina mengelilingi Villa, dia berjalan sambil menceritakan kondisi keluarganya, “Paman dan Bibi Li telah bekerja di rumah kami selama bertahun-tahun. Paman Li adalah sopir ayah, Bibi Li Ibu sepersusuanku, setelah ibuku melahirkanku, ASI nya tidak keluar sedikitpun. Dan kebetulan pada waktu itu Bibi Li juga baru saja melahirkan putrinya, aku seperti tidak membiarkan kesempatan ini begitu saja. Pasangan itu luar biasa, orang tua ku selalu memperlakukan mereka dengan baik. Ayah membeli perkebunan ini untuk mereka rawat setelah pensiun. Dan ketika keluarga kami memiliki waktu luang, kami pasti akan datan kemari untuk kumpul bersama, meluangkan waktu untuk duduk, menogbrol santai, atau makan bersama. Ayahku sering mengatakan, jangan karena sibuk bekerja sehingga mengabaikan waktu yang menyenangkan dan berarti. Dan aku, setuju akan hal itu.”
Setelah Lina mendengar semua cerita John, ia merasakan kehangatan yang ada di Keluarga Jiang. Kehangatan itu jarang ditemukan di keluarga berkelas lainnya.
“Hei? Lihatlah, Lina. Kita sudah sampai.” John menunjuk tempat yang tidak jauh dari pandangannya.
__ADS_1
Lina mengangkat kepalanya, melihat tempat yang John tunjuk. Kagum dan terharu dengan kejutan ini. Tidak ada kata yang mampu dismapaikannnya. Sekalipun, dia tidak pernah begitu terkejut.