
Melihat gaya Lina yang panik seperti ini, sungguh terlihat begitu menggemaskan.
Tampaknya dia memang tidak berpengalaman dalam percintaan, makanya wajahnya langsung menjadi merah dan panik.
Lalu John terus mencandainya, menunjuk kearah kanvas, “Lukisan ini bagus, jual ke aku ya?”
“Tidak dijual.” Lina langsung menolaknya.
“Aku bayar 3 kali lipat dari harga pasaran.”
“10 kali lipat pun aku tetap gak jual.” Kata Lina dengan kesal.
“Jadi nama lukisan ini apa, coba simpulkan kasitahu padaku?” tanya John sambil melihat lukisan hitam putih itu.
Sangat jarang melihat wanita yang melukis lukisan hitam putih.
Lina melukisnya berdasarkan pemandangan yang dilihatnya, sungguh menakjubkan hasilnya.
Terutama orang yang paham dengan lukisan, mereka pasti tahu ini dilukis dari tangan pelukis yang berbakat.
Ketika membahas nama lukisan itu, nada Lina menjadi jauh lebih damai, “Aku belum tentuin.”
“Aku bantu kamu pikirin, gimana?”
Lina tidak bersuara… tidak bersuara berarti dia menyetujui gagasannya.
__ADS_1
Ini pertama kalinya dari beberapa hari ini, John berkomunikasi sedalam ini dengannya.
“Namanya Seekor Angsa, gimana?”
“Ah pergi kamu.”
Lina sangat kesal mendengar nama ini, lukisan seindah ini, lukisan hitam putih seindah ini.
Berani-beraninya pria ini menamai lukisan ini dengan nama sekotor itu.
John hanya tertawa dengan sangat senang.
Lalu dia melihat Lina benar-benar kesal, baru berkata, “Yaudah yaudah, serius ya, aku rasa namanya… Pulang Ke Utara, gimana?”
Lina berpikir-pikir, lalu bertanya, “Kenapa dinamai Pulang Ke Utara?”
Pulang Ke Utara, arti namanya sangat bagus, dan mudah, betul-betul adalah ciri khas dari Lina.
Tapi…
Angsa ini kan dia yang lukis sendiri, lukisan ini awalnaya kan tidak ada angsa satupun?
Pria ini sengaja mau ikut campur dalam lukisan ini ya?
“Kamu yang lukis angsa ini, namanya juga kamu yang tentuin, sekalian aja tulis nama pelukisnya John, gimana menurutmu?” tanya Lina dengan sedikit kesal.
__ADS_1
John bertepuk tangan, “Makasih istriku.”
“Siapa istrimu, John kamu cepat pergi keluar deh.”
Lina dengan kesal mendorongnya dan John pun pergi keluar.
Ini pertama kalinya kedua orang ini memiliki hubungan yang begitu intim.
Walaupun diusir keluar, tapi John merasa sangat senang.
Bar Light of the Night
Eric beberapa hari ini tidak tidur dengan nyenyak, kerjaannya hanya mabuk dan tidur.
Pikirannya menggebu-gebu terus ingin merebut kembali Lina.
Awalnya dia sudah berusaha mendekatinya, tapi pada akhirnya hanya dipermalukan oleh Lina.
Ini benar-benar membuatnya kesal…
Jadi dia hanya bisa berkumpul bersama temannya dan pergi minum bareng.
Beberapa temannya juga tahu dia menjadi emosi karena masalah perempuan, dan mereka sudah terus menasehatinya.
Ada yang mencandainya, “Eric, kamu pernah mendengat tentang “Mawar Merah” dari Eason Chan? Sebenarnya pria-pria seperti kita ini sama, sudah memiliki mawar merah baru mengingini mawar putih, sudah ada mawar putih baru mengingini mawar merah. Selalu berada dalam siklus ini… kamu kali ini karena tidak bisa mendapatkannya baru kamu merasa sangat kecewa. Faktanya, kalau kamu sudah mendapatkan Lina, kamu juga akan menemukan bahwa dia ternyata adalah sesuatu yang biasa. Namanya juga wanita, semuanya sama, setelah waktu yang lama, kamu juga akan merasa bosan. Bahkan jika kamu bersama Anne Hathaway sekarang, kamu juga akhirnya akan merasa dia adalah seorang wanita biasa saja. Mana ada yang namanya perempuan seperti dewi.”
__ADS_1
Eric dengan stress mengambil segelas bir dan menghela napas, “Masalahnya adalah, sekarang aku gak bisa dapetin, kalau masalah bosan, itu adalah urusan nanti.”
“Tapi Eric, kamu benaran mau merebut istri dari John? Orang itu… bukan orang sembarangan.” Kata salah satu temannya memperingati.