
Hello! Im an artic!
Eric sebelumnya tak pernah menyukai kucing, ia juga tak menyukai wanita yang memelihara kucing. Ia merasa itu merepotkan dan tak masuk akal. Semua berubah setelah ia bertemu dengan Lina.
Karena saat itu demi menarik perhatian Lina, ia sengaja mencari cara agar dicakar Edo.
Hello! Im an artic!
Kemudian ia juga membeli Eda yang sejenis dengan Edo. Sayangnya, ia tak punya waktu untuk mengurusnya. Jadi, ia dirawat oleh para bibi pembantu.
Sekarang sekilas saja ia langsung bisa mengenali kucing hitam itu. Mungkin karena ia pernah dicakar Edo. Mungkin aku tak akan mengenalinya jika tak pernah dicakar olehnya?
Edo juga sangat pintar. Eric menggendongnya, dia juga tak marah, hanya diam saja di lengannya.
Pura-pura menjadi baik-baik……
Hello! Im an artic!
Suasana Eric sedang sangat baik. Dia masuk sambil menggendong Edo, lalu mengambil foto dengannya.
Edo amat menurut. Eric takut ia merasa lapar, jadi dia meminta bibi pembantu mengambil banyak makanan kucing dan sekaleng ikan.
Edo menggerakkan mulutnya, dia mengeong lalu lari ke lantai atas.
Lalu, ia dan temannya Eda menggila. Dua kucing itu mengejar satu sama lain di vila Eric.
“Tuan muda, kucing liar milik siapa ini, dia tak akan membuat Eda kita terinfeksi kan?”
__ADS_1
Bibi pembantu amat perhatian. Ia sudah merawat Eda sejak lama, jadi ia sangat menyayanginya. Ia khawatir peliharaannya akan diganggu oleh kucing liar.
Eric mendengarnya, segera ia meluruskan, “Bibi, kamu salah. Dia bukan kucing liar. Ini Edo, kucing amat mahal milik temanku. Dia sejenis dengan Eda, bahkan dia masih lebih bernilai daripada Eda milik kita. Lain kali kalau dia datang, kamu ingat, harus mengurusnya dengan baik.”
“Ah? Teman tuan muda sedang mampir?”
“Tidak.”
“Jadi kucing ini, datang dengan sendirinya?” Bibi terkaget.
Sebenarnya bukan hanya bibi, tapi juga Eric yang sudah daritadi memikirkannya juga amat kaget. Karena Spring Mansion berjarak lebih dari 20 mil.
Edo bisa sendirian datang kemari. Benar-benar…… aneh.
Ia yakin ia tak salah lihat. Itu pasti kucing milik Lina, karena Edo punya tanda yang amat terlihat jelas.
Eric mengirim fotonya ke Wechat Lina.
Lina: ?
Eric: Dia Edo?
Lina: Ya, bagaimana dia bisa ada di rumahmu?
Eric: Sebenarnya, aku juga tak tahu. Saat aku pulang, aku lihat dia tak bisa masuk ke dalam rumah. Di luar amat dingin, jadi aku membawanya masuk ke rumah. Setelah makan dan minum ia bermain dengan Eda. Kamu tak usah khawatir.
Lina: Aku tak khawatir. Edo kucing yang pintar, dia bisa mencari rumahnya.
__ADS_1
Eric: Hah, kucing dan pemiliknya memang sama-sama lihai.
Lina: Kau pernah mengatakannya.
Eric: Ha ha, aku tak sadar pernah mengatakan itu.
Setelah beberapa lama chatting, Eric tak bisa menahan rasa senangnya. Ia juga mengirim foto kucing hitam itu ke teman-teman terdekatnya.
Rony amat suka menggosip. Saat dia melihatnya ia langsung berkata pada John, “Ini seperti kucing milikmu……”
John mengecek, benar saja itu Edo, ia langsung panik. Edo amat baik padanya, dan ia hanya ingin digendong olehnya.
Sekarang baru sadar, kalau anak kecil ini digoda oleh Eric, ia merasa kecewa.
Jadi, John membiarkan Andy main beberapa ronde. Ia bangun dan berjalan menghampiri Lina.
“Lina, mengapa Edo pergi ke rumah Eric?”
“Eh…… Sebenarnya, aku juga tidak tahu.” Lina menunjukkan pembicaraan Wechat dengan Eric di ponselnya, memastikan kalau ia juga tidak tahu.
“Hewan kecil ini, aku tak akan pernah memberikannya sekaleng ikan lagi, juga snack keju dengan pencernaan ikan kecil.” John mengungkapkan isi hatinya.
Lina tertawa melihatnya seperti ini.
“Kamu masih bisa tertawa? Kucing kita telah berkhianat……”
“Jadi tuan John, bagaimana keadaanmu? Apakah kamu cemburu karena seekor kucing?” Untuk pertama kalinya, Lina merasa kalau John bersikap kekanak-kanakan, seperti anak taman kanak-kanak.
__ADS_1