
Sebenarnya hati John berbunga-bunga, tetapi tampangnya masih tenang.
Memegang jas langsung duduk di seberang Lina, “Ah, coba kamu bilang.”
“Saya ingin masuk universitas terkemuka di Kota J, tetapi karena syarat saya kurang, sekolah tidak mau terima.”
“Tunggu …… coba kamu bilang sekali lagi, saya mau memastikan.”
John mengira dia salah dengar, maka menyuruh Lina mengulang sekali lagi.
“Saya bilang, saya mau masuk universitas terkemuka di Kota J.”
“Kamu …… mau masuk sekolah?”
“Iya benar.”
“Kamu sudah umur berapa?”
“22.”
“Maksudnya kamu mau ke universitas? Sekolah malam?”
“Tidak, saya mau S1.”
“Linlin, jangan becanda …… kamu sudah 22 tahun, apalagi kamu tidak pernah mengikuti tes apapun.” John merasa hal ini sangat aneh.
Lina sangat tenang, “Ya begini, makanya saya bilang ada sedikit kesulitan, maka baru minta tolong padamu.”
John tidak bisa menahan tawa, “Linlin, kamu memberitahu aku, kenapa kamu mau pergi sekolah?”
“Di rumah tidak ada kerjaan, alasan ini cukup?” Lina tidak suka membagi cara pikiran sendiri, memberitahukannya orang lain.
Maka dia tidak berencana memberitahukannya kepada John, kenapa mau sekolah.
__ADS_1
“hm, oke cukup, biarkan saya pikir dulu.”
Setelah bicara John bangun lalu menelepon beberapa telepon.
Tidak sampai 10 menit, dia membalikkan badan kembali.
“Oke, minggu depan kamu bawa ktp untuk mengurus prosedur masuk sekolah…… tapi saya masih ada satu syarat.”
“Kamu bilang.”
Lina mengira, orang ini akan mencari kesempatan untuk memeras, atau mau mencari keuntungan.
“Kamu tidak boleh tinggal di asrama sekolah, musti pulang rumah.”
Lina terbengong, ini masih termasuk permintaan?
Dia juga tidak berencana untuk tinggal di asrama kok?
Di rumah sangat nyaman, tidak pulang tinggal, berdempetan dengan orang, itu bukan sifatnya.
Hanya menganggukan kepala dengan datar, “Boleh.”
“Ok pergilah, Bagaimanapun di rumah ada mobil, saya lihat Rika mengemudikan mobil lumayan, antar jemput kamu pasti tidak masalah…… uang sekolah apapun itu kamu tidak perlu setor, saya yang urus.”
“Saya sendiri.”
“Sudah bilang tidak perlu kamu, kepala sekolah itu pernah menerima sumbangan kita Keluarga Jiang, perpustakaan, bioskop semuanya kita yang sumbang, istri saya mau masuk sekolah, dia masih berani menerima uang?”
Dalam hati Lina sangat hangat, juga ada sedikit senang.
Walaupun masalah ini bukan hal yang sulit, tetapi, John senang mengurus masalah ini, dia masih harus utang budi sama dia.
John menundukkan kepada melihat jam, “Sekarang sudah tenang, cepat tidur, sudah malam.”
__ADS_1
“Baiklah, kamu juga cepat istirahat.”
Lina ada sedikit malu, bangun lalu naik ke atas.
John mengeluarkan laptop, melanjutkan rapat kecil di ruang tamu.
“Ella.”
“.”
“Masakin dia semangkok biji teratai dan sup jamur putih.”
“Iya, hei hei, nona semakin peduli denga tuan muda.” Ella becanda sambil menjulurkan lidahnya.
“Jangan bicara sembarangan, ini karena dia baru membantu saya.” Lina ada sedikit malu.
“Tahu tahu, anda tidak perlu menjelaskannya.”
Lina juga tidak banyak bicara lagi, menyuruh Ella memasak dessert lalu memberikannya ke John.
Waktu berbaring di atas ranjang, dia masih memikirkan 1 masalah.
John orangnya lumayan…… hm, lumayan, dibandingkan dengan sibodoh Keluarga Xie itu menang 100 kali.
Untung waktu itu si bodoh itu kabur, dia baru bisa bertemu John.
Membawa perasaan puas, Lina masuk ke dalam mimpi……
Pagi-pagi hari ini
Dia bangun ada sedikit siang, waktu turun, sudah jam 6.50.
John sudah pergi kerja.
__ADS_1
Lina sarapan seorang diri dengan tenang.
John mengirim wechat, “Linlin, kemarin saya sudah membantumu, bagaimana kamu berterimakasih kepadaku?”