Pernikahan Sementara

Pernikahan Sementara
Bab 39 Tidak Takut Kamu Kotor


__ADS_3

John bukan tipe pria tampan pada pandangan pertama, bukan tipe pria dengan alis tebal dan mata yang lebar.


Matanya agak sipit dan naik keatas, mirip dengan Lina.


Rambutnya pendek, rambutnya tipis, bersih dan rapi.


Hidungnya tidak terlalu mancung, dan bibirnya pas, tidak tebal ataupun tipis.


Kelima panca inderanya yang tidak seimbang ini, kadang membuat orang merasa sedikit nyaman melihatnya.


Terutama ketika memandangnya dari samping, garis rahangnya terlihat begitu sempurna.


Udara seolah-olah berhenti selama 10 detik, hanya ada napas kedua orang itu.


Setelah sesaat baru Lina berkata, “Kamu selalu begini gak sopan.”


John tersenyum, menunjuk ke kanvas itu, “Kamu merasa pemandangan ini terlalu sepi ya, sekarang ditambah angsa-angsa ini kan kelihatan lebih hidup.”


“Enak aja, konsep seni nya jadi berubah kan sekarang.”


Lina menatapnya, dan mengambil kembali kuas dari tangannya.


Tapi dia juga tidak menghapus angsa yang sudah digambar oleh John.


“Kamu suka melukis?” tanya John.


“Lumayan.”


“Kamu bilang lumayan, benar-benar terlalu rendah diri, kelihatan dari lukisanmu ini paling sedikit kamu punya pengalaman belasan tahun.”


“Kamu paham tentang lukisan?” Lina merasa bahwa John tidak mungkin asal ngomong.


Dari lukisan ini dia bisa melihat pengalaman Lina dalam melukis selama 15 tahun, bukanlah sesuatu yang gampang.

__ADS_1


“Ngerti dikit-dikit aja.”


John memberanikan diri duduk disampingnya.


Dan dengan santai dia mengambil cangkir kopinya dan meminumnya.


“Eh? Itu punyaku.” Lina mengerutkan keningnya.


“Gapapa, aku gak takut kalau kamu kotor.”


“Tolong… aku yang takut kamu kotor… oke?” suasana Lina langsung berubah.


Pria ini juga benar-benar… melewati batas.


Bukannya keluarga Jiang adalah keluarga elit?


Tapi kenapa dia bisa menghiraukan detil-detil sekecil ini?


Bukannya dia adalah pria terpelajar?


“Jangan takut, aku gak berpenyakitan.” Canda John.


Cangkir ini adalah produk terbatas dari sebuah merk yang terkenal, Lina memesannya dari luar negeri dan hari ini baru sampai.


Luarnya berwarna merah muda, dengan kaca yang berkilau.


Didalamnya, ada gambar cakar kucing.


Entah mengapa, Lina dari dulu sangat menyukai kucing.


Tapi siapa yang tahu, baru digunakan sehari, sudah dinodai oleh pria ini, benar-benar… sial.


Melihat Lina yang kesal, John sengaja mengubah topik pembicaraan, “Hari ini aku ketemu sama kakak perempuan.”

__ADS_1


“Bukannya kamu anak tunggal?” Lina mengira dia sedang membicarakan kakak kandungnya John.


“Maksudku kakakmu.”


“Oh…” reaksi Lina sangat polos.


“Dia sudah menandatangani surat penyerahan tanah itu, aku juga memberikannya surat perjanjian 1 triliun.”


“Baguslah kalau begitu, tidak ada yang dirugikan.”


“Iya, dia bilang, minggu depan adalah ulang tahun ibu, dia minta kita pulang.”


Lina terdiam seribu bahasa.


John mengamati ekspresinya, reaksinya terhadap ulangtahun ibu, sangatlah acuh tak acuh.


“Kamu mau pulang sama aku tidak?” John bertanya sekali lagi.


“Yaudah.” Kata Lina dengan sedikit terpaksa.


“Biar aku yang siapin hadiahnya.”


“Baiklah, nanti keluarin uang setengah.”


“Gak perlu, biar aku aja.”


“Gak boleh gitu, tiap orang harus menanggung pengeluarannya masing-masing. Nantinya pengeluaran kedua keluarga kita, juga harus ditanggung masing-masing, lebih adil.” Kata Lina dengan serius, dia tidak suka berutang pada orang.


“Kamu harus ya bilang sedetil itu?” John tak berdaya.


“Iya, kan dulu sudah kita bahas.”


“Berarti nanti kalau kita punya anak, uang susu juga perlu kita bagi setengah? Aku rasa merawat istri dan anak itu adalah tanggung jawab seorang pria…” John mencoba mengutarakan pikirannya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, baru Lina bereaksi dan menatap dia dengan kesal, “Siapa yang mau punya anak sama kamu?”


__ADS_2