Pernikahan Sementara

Pernikahan Sementara
Bab 717 Tragedi Kembali Terulang


__ADS_3

Hello! Im an artic!


AwalnyaWindi Feng sama sekali tidak berpikir kesana, lagipula dulu sudah pernah ada kejadian itu sekali, dia merasa Lina Hua tidak akan begitu bodoh.


Siapa tahu dia rupanya menggila lagi, berkata sampai akhir yaitu terlalu temperamen, tidak bisa melihat perpisahan, terutama orang dalam keluarganya.


Hello! Im an artic!


Saat nenek Lina Hua meninggal, dia juga tidak ada pemikiran seperti ini, ini kenapa?


Karena nenek termasuk panjang umur dan dikuburkan dengan bahagia, juga tidak menyesal karena sudah menjalani seumur hidup.


Tapi Lika Hua tidak sama, dia baru berumur dua puluh lebih, kehidupan masih punya kemungkinan yang tidak terbatas, masih belum melewati hari-hari yang sangat banyak itu.


Terutama, didalam perut Lika Hua masih ada seorang anak yang kasihan, ibu anak pergi begini, sungguh dua nyawa dalam satu badan, ini sungguh membuat Benard Bai menderita sekali.


Hello! Im an artic!


Windi Feng terlambat selangkah, saat dia sampai kedepan pintu, Lina Hua sudah mengunci pintu kamar.


“Lina Hua kamu orang bodoh ini, cepat buka, cepat sedikit.” Windi Feng panik sekali.


“Kenapa?” John Jiang berjalan kemari.


“John Jiang, kamu cepat meminta dia keluar, cepat sedikit……” Windi Feng hampir menangis, tapi tidak mengatakan alasannya.

__ADS_1


Orang keluarga Huang dan orang tua Benard Bai juga sangat kebingungan, tidak tahu ini situasi apa.


Lili Hua mengusap air mata, bertanya dengan suara serak, “Untuk apa adik kelimaku masuk kedalam? Apakah ingin bertemu dengan Lika Hua untuk terakhir kalinya?”


“Dia bukan, aduh……Lina Hua sudah menggila, tidak boleh, John Jiang, kamu cepat sedikit, kamu cepat bilanglah.”


Windi Feng sungguh tidak tahu harus bagaimana menjelaskan, tapi juga tahu masalah ini sangat penting.


“Lina Hua, kamu keluar dulu.” John Jiang berkata.


Didalam tidak ada suara apapun……


“Lina Hua, kamu pikirkan yang dulu terjadi itu, apakah kamu masih mau mengulang tragedi lagi? Kamu berbuat begini itu sama saja dengan memberontak……Apakah kamu tahu?”


Windi Feng tahu sudah terlambat, sifatnya itu, pasti……Tidak bisa mengontrolnya, tragedi yang dulu kembali terulang.


Wanita ini selamanya tidak patuh, sungguh bodoh sekali, Windi Feng marah dan juga sakit hati.


Akhirnya dia berteriak sampai putus asa, berlutut didepan pintu kamar pasien dengan wajah tidak semangat, tangannya sudah menepuk sampai kebas, juga tidak tahu sakit lagi, tapi dia tahu semuanya sudah terlambat.


Lina Hua didalam, setelah masuk dan berkata pada Benard Bai, “Kamu pergi ke toilet dan jangan keluar, sebentar lagi aku akan memanggilmu.”


Awalnya Benard Bai tidak merespon, Lina Hua langsung mendorongnya masuk kedalam toilet, juga tidak menjelaskan.


Syukurlah Benard Baik mendengarkan, bersembunyi didalam toilet dan tidak berani bergerak.

__ADS_1


Sepuluh detik setelah Lina Hua masuk kedalam, dia membuka mata batin, dan tepat melihat jiwa Lika Hua perlahan meninggalkan badan.


Seluruh orang seperti menjadi tembus pandang, dia seperti tidak tahu terjadi masalah apa.


Maka saat melayang keluar, seluruh orang tidak sadar, langsung melihat Lina Hua.


“Lina.” Dia tertawa.


Ada air mata diatas wajah Lina Hua.


“Lina, kenapa kamu menangis?” Lika Hua sedikit bingung.


Lina Hua menunjuk ke atas ranjang pasien, Lika Hua memalingkan kepala melihat dirinya, kemudian tiba-tiba sadar, “Aku……Sudah meninggal?”


Lina Hua menganggukan kepala.


Lika Hua tersenyum pedih, lalu berkata dengan suara rendah, “Bagus juga, begini juga bagus, kalau aku pergi juga tidak akan merasa takut lagi, hanya kasihan anakku……Tidak ada kesempatan melihat ayahnya.”


“Kakak keempat……”


“Lina, kamu bantu katakan pada Benard Bai, jangan merindukan aku. Biarkan dia bekerja dan hidup dengan baik, orang juga tidak akan hidup selamanya, kita setiap orang akhirnya akan pergi, kamu bantu aku bujuk dan jaga dia, dia itu berpikiran sempit, aku takut beberapa hari ini dia akan kehilangan akal sehat……”


“Kakak keempat, aku tahu kamu sangat mencintai kehidupan.”


“Benar, tapi kehidupan dari dulu tidak mencintai aku, he, tidak apa-apa, terserahlah, hidup mati terus berputar, siapapun tidak bisa menghindarinya, apakah aku harus melapor kemana? Ah? Tidak benar, Lina, kenapa kamu bisa melihatku? Bukankah sekarang ini aku sebuah jiwa?” Lika Hua baru tersadar kembali.

__ADS_1


__ADS_2