
Hello! Im an artic!
“Tuan sudah pulang.” Ella segera berlari menghampiri, memberikan sandal jepit kepada John Jiang.
“Dia sedang memainkan piano?”
Hello! Im an artic!
“Iya, Nona sedang tidak ada mood.” Ella sengaja merendahkan suaranya.
Berhasil juga menarik perhatian John Jiang, dia mengerutkan keningnya penasaran,”Kenapa?”
Hatinya bertanya-tanya, bukan karena aku mendiamkan dia kan, jadi dia sedikit tidak baik.
“Atau karena Rika, kak Rika tiba-tiba keluar, mematikan handphonenya, juga tidak meminta izin kepada Nona, tidak tahu dia kemana? Aku menelponnya terus, juga tidak bisa terhubung. Benar, yang paling menakutkan adalah Giok Budha yang aku pakai bertahun-tahun ini hilang juga, Nona bilang tidak bagus, takutnya Rika akan ada masalah.”
Hello! Im an artic!
“Ada masalah ini?”
John Jiang mengerutkan keningnya, kemudian tidak sempat memikirkan kekesalan, langsung berlari kelantai atas.
Piano yang dimainkan Lina Hua sedikit dingin, itu adalah musik yang terkenal, tetapi artinya sedikit menyedihkan, tetapi sangat berarti.
John Jiang berdiri didepan pintu beberapa menit.
__ADS_1
Sampai Lina Hua mengangkat kepala melihatnya,”Kamu sudah pulang?”
“Lina Hua, kamu sedang memainkan lagu apa, dulu tidak pernah didengar ?”
John Jiang tersenyum dan masuk, sampai disamping dia, lalu seperti biasanya, tidak ada jarak apapun.
Lina Hua berkata,”Ini hanya tulisan biasa, kemudian diubah menjadi lagu, sangat enak didengar, aku sangat suka.”
“Benar? Aku tidak pernah mendengarnya, bisa kamu mainkan sekali lagi?” John Jiang melembutkan suaranya.
Lina Hua tidak ada alasan apapun menolak, dia menganggukkan kepalanya, dengan lincahnya memainkan sekali lagi.
John Jiang sangat tegas membacakan liriknya, sampai dua baris terakhir terdengar sangat enak.
“Tanyakan padaku ada berapa kecemasan, sama seperti aliran air yang ada disungai besar mengalir ke arah utara.”
“Sayangnya, bukan raja yang baik.” Ini perkataan Lina Hua.
John Jiang mengulurkan tangannya,meletakkannya dibahu Lina Hua,”Dia hanya salah melahirkan seorang raja, sebenarnya dia tidak bijaksana, dia urutan keenam, sayangnya…… ada masalah, dia terpaksa menjadi raja, jadi akhirnya seperti itu, tetapi juga karena dia orangnya seperti itu, makanya bisa menuliskan kalimat seperti itu. Seperti apa akan menjadi apa, aku merasa orang dulu menulis puisi disaat setelah kesedihan kesenangan, akan menulis kalimat akhir, seperti dia.
“Masih ada yang lainya.” Jawab Lina Hua.
“Benar, Nona Jiang benar-benar pintar, tahu isi hatiku.”
“Jangan sembarangan.” Lina Hua menundukkan kepala.
__ADS_1
“Lina Hua, masalah giok budha itu, aku sudah dengar dari Ella, ada larangan apa tidak?” Tanya John Jiang.
Ternyata membahas giok budha, Lina Hua kembali tidak mood.
“Giok Budha itu sangat eratm\=, tidak akan tiba-tiba putus, aku hari ini tidak tenang terus, tetapi…….Rika tidak minta izin, lalu hilang, dan handphonenya juga tidak aktif.”
“Sangat mudah, pakai saja gps, aku akan suruh orang mencarinya.”
John Jiang berdiri mengambil handphone, malah dihalang oleh Lina Hua.
“Jangan…….”
“Kenapa?”
“Tidak mau dicari, berikan dia kesempatan sendiri.” Kalau Lina Hua ingin mencari sudah dicari dari awal, tetapi dengan emosi Rika seperti itu, tidak boleh begitu, takutnya kalau sudah dicari, akan terjadi masalah.
Rika sangat kuat, percaya diri, Lina Hua tidak ingin menghancurkan dia.
“Kamu masih memikirkannya?”
“Dia tidak akan ada bahaya dengan nyawa, hanya saja…… aku tidak bisa katakana, pokoknya perasaan itu tidak enak.”
Lina Hua sebenarnya memainkan alat musik, sudah tidak dengan hati.
John Jiang juga sudah mendengarnya, hari ini sepertinya tidak begitu baik.
__ADS_1
“Lina Hua, kamu masih menyimpan rahasia dengan aku.”
Lina Hua kaget, mengangkat kepala perlahan, dia tidak tahu John Jiang kenapa tiba-tiba berkata demikian, apa maksudnya.