
Hello! Im an artic!
Setelah Linda mendengarkan perkataannya, ia semakin berkecil hati.
“Melahirkan seorang putra bukanlah hal yang gampang, umurku juga sudah tua, lalu kita pun belum memiliki program hamil. Jika saja mau melahirkan anak kedua, anak kita yang pertama sudah berumur 8 tahun, kemudian untuk 7 tahun kedepan bukankah akan sangat percuma? Kemungkinan kita juga sudah tidak hidup lagi.”
Hello! Im an artic!
Desmond mencium pipi istrinya, dan dengan lembut menghiburnya.
“Istriku, kita tidak boleh menyerah, kau masih sangat muda. Lihatlah beberapa artis wanita papan atas itu, di umur lebih dari 50 tahun masih mampu mengandung bukan? Tidak peduli seberapa buruknya kita, kita masih bisa meminta seseorang untuk menjadi ibu pengganti.”
Linda menganggukan kepalanya. Ia mengeluarkan ponselnya, dilihatnya sekilas tentang pengaturan dan pembagian kerja dalam group kantornya.
“Orang tua ku sangatlah tradisional, pemikiran mereka masih sangat kuno, mereka juga tak mengenal bayi tabung dan ibu pengganti. Aku hanya tidak ingin meributkannya, tetapi kita sangat beruntung memiliki Fidelia, bukanlah tidak memiliki anak sama sekali. Kakak kedualah yang lebih kasihan, ia sukses dengan cepat, dalam hati ingin sekali untuk mengejarnya, tapi aku tidak ada rasa ingin memasukkan uang hanya untuk kantongku sendiri, memang ada manfaatnya? seorang anak pun tak punya, besok uang itu mau diberikan ke siapa? ”
Hello! Im an artic!
“Ya, Lisa juga mengalami kesulitan.”
Samuel hanya mengatakan sepatah kata.
“Ngomong-ngomong, Kasihan Lika, aku tidak habis pikir masih begitu muda sudah…”
__ADS_1
Linda sebenarnya masih sedikit lebih baik dibanding Lisa, dia memiliki sedikit hati nurani, jadi masih belum terkena oleh beberapa kepentingan dan keegoisan. Maka dari itu memikirkan penyakit yang dialami saudari perempuan yang keempat itu juga merupakan hal yang membuatnya iba.
“Mau bagaimana lagi, setiap orang memiliki kehidupannya sendiri, mari kita jaga dan rawat baik-baik diri sendiri.”
Samuel menghibur dengan perkataanya.
Tidak seperti Lisa, Linda sangatlah baik kepada suaminya, Samuel, tidak hanya saling memiliki kepercayaan, tetapi juga memiliki hubungan suami dan istri yang saling mencintai, mereka juga hampir tidak pernah berdebat.
Samuel juga orang yang sangat lemah lembut, tidak peduli di perusahaan atau di rumah, dia juga selalu mendengarkan Linda dan memberikan wajah penuh kasih.
Lisa tidak memiliki kasih sayang kepada suaminya, dan sikapnya sangat buruk.
Di waktu luangnya, Lisa akan pergi ke beberapa klub malam kelas bawah dan mencari daun muda dengan nilai tinggi. Terkadang, ia juga akan menemukan beberapa mahasiswa muda untuk berkencan. Dapat dikatakan ia menggunakan seluruh uangnya untuk mengisi kekosongan hatinya dan kebutuhan cintanya.
Semalam, kota itu nampak terbungkus oleh sesuatu yang berwarna seperti putih perak. Ketika Lina bangun di pagi hari, melihat pemandangan di luar villa itu hatinya ikut meleleh. Dikibaskanlah rambutnya, dengan ringannya tanpa alas kaki ia menginjakkan kakinya di atas karpet. Kemudian ia melihat pemandangan salju di luar jendela.
Saat turun untuk sarapan, Ella sengaja menambahkan sehelai selendang dan meletakkannya di pundaknya.
“Nona, flumu bisa kambuh lagi di hari bersalju. Kamu harus tetap menjaga kehangatan tubuhmu.”
“Baiklah, bagaimana dengan keadaan Rika disana?”
“Rika berkata bahwa Nona keempat baik-baik saja, ia sanggup makan dan tidur, jadi anda tidak perlu khawatir.”
__ADS_1
Lina menganggukan kepalanya.
Ella kemudian mulai menghidangkan sarapan satu demi persatu. Bubur, acar, dan pangsit kuah sayur yang sangat lezat. John juga memiliki nafsu makan besar, ia mampu memakan dua mangkuk pangsit kuah sekaligus, hanya untuk merasakan bahwa perutnya dipenuhi dengan makanan yang lezat.
“Lina, kamu ada jadwal apa hari ini?”
Lina berpikir sejenak.
“Aku akan pergi ke rumah sakit sebentar dan membeli seikat bunga untuk saudari keempat, karena bunga sebelumnya telah layu, kemudian aku akan membawakan dia beberapa buku menarik untuk menghilangkan kebosanannya.”
“Lalu?”
“Setelah itu tidak ada lagi, siangnya mungkin langsung pulang.”
“Begini saja lah, kamu pergi mengatasi urusanmu di rumah sakit setelah itu kabari aku, aku akan mengantarkanmu pulang.”
“Tidak usah repot-repot, ku suruh Rika mengantarku kembali pulang kerumah.”
“Tidak, kita tidak pulang kerumah, kubawa kamu pergi ke suatu tempat.”
John mengatakannya sambil tersenyum dengan penuh misteri.
Lina tampak kaget, Ella disampingnya tertawa, ia selalu merasa bahwa nona adalah orang yang sangat pintar, namun untuk masalah cinta ia tampak seperti anak kecil, terkadang hal itu membuatnya sangatlah menggemaskan.
__ADS_1