
Lina Hua sudah lama mempunyai keinginan untuk pergi kuliah.
DIa tak ingin mendapatkan diploma. Tak masalah jika ia tak mempunyai diploma, ia hanya ingin bertemu dengan professor sejarah agar bisa mempelajari Lima Dinasti dan Sepuluh Kerajaan yang dapat membantunya memahami lebih banyak tentang barang antik. Barang antik bukanlah barang biasa, melainkan barang yang mempunyai nilai sejarah penting.
John Jiang membantu Lina Hua mendaftarkan diri di tiga universitas terbaik di kota itu.Besok adalah hari pendaftaran ulang, yang juga merupakan hari pertama kegiatan perkuliahan.
Mahasiswa lain akan daftar saat 12 September, sementara Lina Hua daftar tanggal 3.
Agar tidak terlihat mencolok, John Jiang hanya mengendarai Audi A8 hitamnya, tak membawa Rolls Royce yang terlihat mewah itu.
Begitupula Lina Hua, ia hanya mengenakan jeans berwarna agak pudar dengan cardigan berwarna krem.
Rambutnya digerai sepinggang, dipadu dengan Topi B di kepalanya.
Ia ingin mukanya sedikit terhalang karena tak ingin menarik perhatian.
John Jiang mengantarnya ke kantor tempat daftar ulang. Setelah menandatanganinya, ia pamit lalu pergi.
Pagi itu Lina Hua memutuskan untuk berdiam di kampus, ia akan membaca buku di perpustakaan, lalu berkeliling di area kampus.
Dia menghabiskan paginya di sudut terpojok perpustakaan itu.
Hampir tidak ada yang memperhatikan tempat itu, lalu dengan semangat membaca buku.
Setelah John Jiang selesai dari kesibukannya, ia melihat jam tangan, waktu menunjukkan pukul 11.
Ia mengirim pesan Wechat pada Lina Hua.
John Jiang: Lina, sudah makan belum?
__ADS_1
Lina Hua: Belum.
John Jiang: Bagaimana suasana lingkungan kampusmu?
Lina Hua: Disini pemandangannya sangat indah.
John Jiang: Kalau begitu cepat makan. Kalau kau sudah mau pulang, beritahu aku, nanti kujemput.
Lina Hua: Tak usah, kau sibuk. Sore ini biar Rika yang menjemput.
John Jiang: Telpon aku jika ada masalah. Jaga dirimu baik-baik.
Lina Hua: Tak usah khawatir. Aku ada di kampus, bukan di pasar barang selundupan.
John Jiangspontan tertawa membaca kalimat ini.
Karena John Jiang pemimpin tim yang amat serius saat ia bersama dengan timnya.
Semua orang amat menghormatinya, juga takut padanya.
Karena ia sangat rajin bekerja, ia juga amat menekankan reward and punishment.
Lina Hua diam di perpustakaan sampai pukul 11.30, lalu ia merasa lapar.
Ia bangun lalu menaruh buku itu di tempat asalnya, kemudian ia berjalan ke kantin yang tak jauh dari sana.
Tidak pergi pun sebenarnya juga tak apa-apa, ia pergi dengan sedikit rasa takut.
Banyak mahasiswa memenuhi kantin, memang banyak jumlah murid di universitas negeri.
__ADS_1
Kantin ini juga terkenal dengan makanannya yang sedap.
Untuk pertama kalinya, Lina Hua mengantri untuk membeli makanan.
Semuanya sudah diatur oleh John Jiang, kartu untuk membeli makan juga sudah ia genggam.
Ia tak tahu ada berapa saldo di kartu tersebut.
Saat ia membeli sepiring mie goreng, dia baru tahu kalau saldo di kartu ada 10,000 yuan.
Tentu saja uang sejumlah itu amat banyak untuk seorang mahasiswa.
Lina Hua akhirnya membeli sepiring mie goreng dan sebotol air mineral.
Harga makanan di tempat ini juga amat murah. Mie goreng hanya 8 yuan dan sebotol air 2 yuan. Total yang ia keluarkan hanya 10 yuan.
Setelah membayar, Lina Hua melihat meja makan sudah terisi penuh, hampir tak ada tempat untuk duduk.
Ia memutar sekali lagi sambil menutupi mukanya, lalu pergi keluar untuk mencari tempat kosong.
Lagipula ini bulan September. Cuacanya tak begitu dingin.
Ia bertemu dengan mahasiswa yang berinisiatif memberikan tempat duduk, “Hey, kau duduk saja disini. Aku sudah selesai makan.”
Lina Hua menundukkan kepala, lalu duduk.
Lalu saat ia menampakkan wajahnya, tiga laki-laki di depannya menjadi terkejut.
Wajahnya……. amat cantik…… seperti bidadari jatuh dari surga.
__ADS_1