
Hello! Im an artic!
“Menurut kamu?” Lina Hua malah bertanya balik.
“Aku tahu pasti bukan demi terpisah, tapi tetap tidak dapat menebaknya.”
Hello! Im an artic!
John Jiang memang sudah berpikir lama, tapi masih belum bisa menebak tujuan Lina Hua, dia memang begini, walau kamu lebih banyak mengerti, juga tidak bisa melihat semuanya dengan jelas.
“Sebenarnya aku tidak ingin memberinya kesempatan untuk berbicara.”
“Tidak ingin mendengarkan penjelasannya?” John Jiang merasa ragu dan kesal.
“Bukan, hanya tidak ingin dia mengatakan sesuatu padaku, kata-kata itu bukan yang ingin aku dengarkan.”
Hello! Im an artic!
“Misalnya…..”
“Ucapan perpisahan.”
“Ucapan perpisahan?” Tidak sampai begitu juga kan? Ini baru berpacaran berapa lama….walau Rika agak ceroboh, juga tidak akan mungkin begitu cepat memutuskan untuk meninggalkan rumah, bagaimanapun juga selama bertahun-tahun berada di sisinya.
“Dia akan, ini bukan masalah ada hati nurani atau tidak, ini adalah perkembangan masalah yang tidak bisa terhindarkan.”
__ADS_1
“Aku merasa belum tentu.”
John Jiang tetap merasa reaksi Lina Hua terlalu berlebihan, bagaimana mungkin Rika mendadak langsung meninggalkan rumah?
Tapi Lina Hua juga tidak menjelaskannya, bagaimanapun John Jiang adalah orang biasa, dalam melihat masalah bagaimana mungkin bisa sama dengannya dan Windi Feng?
Ketika jam tujuh, Lina Hua tiba di rumah Lika Hua.
Benard Bai sudah berangkat kerja, Lina Hua membeli banyak buah, untuk dimakan Lika Hua
Kakak beradik duduk di ruang tamu mengobrol dengan sangat akrab, kebanyakan topik pembicaraan mengenai anak.
Lika Hua sudah mendekati hari melahirkan, mengelus Baby yang ada dalam perut, wajah penuh cinta kasih, “Baby, kamu cepat katakan pada tante, terima kasih padamu, tante, tanpa bantuanmu, maka aku tidak ada kesempatan untuk datang ke dunia ini, kamu yang sudah menyelamatkan mamaku, seumur hidup kami akan baik pada tante.”
Lika Hua meniru suara anak kecil, sebenarnya juga berterima kasih pada Lina Hua dengan cara halus.
“Kakak keempat, semuanya satu keluarga, tidak perlu ucapkan kata-kata seperti ini?”
“Tidak separah yang kamu bayangkan.”
“Kamu jangan membohongiku.”
“Sungguh tidak separah itu, kamu jangan ada tekanan.”
“Pokoknya, dalam hatiku tidak tenang, jika kamu karena diriku, jika sampai terjadi apa-apa bagaimana aku menghadapi John Jiang?”
__ADS_1
“Jangan berpikir sembarangan, kita masih hidup dengan baik-baik saja.”
Lina Hua mengulurkan tangan, diletakkan pada belakang telapak tangan Lika Hua, ditepuk-tepuk, mencoba menghiburnya.
“Lina Hua, aku tidak tahu harus mengatakan apa, pokoknya aku, aku dan anak akan berterima kasih padamu seumur hidup……”
“Kakak keempat, sebenarnya aku juga tidak tahu menolong kalian kembali, sebenarnya baik, atau buruk, karena detik saat kamu kembali, kehidupanmu sudah benar-benar diubah. Mengenai perkembangan kedepannya bagaimana, siapapun tidak dapat memperkirakannya, tidak tahu berkah atau bencana, jadi, aku juga tidak bisa mengatakan, kalau pasti hal baik.”
“Tidak, bagiku, aku hidup lebih lama sehari maka sudah beruntung, jadi walaupun nanti bertemu bencana, aku juga pasrah, mati tanpa ada penyesalan.”
“Jangan selalu mengatakan kata mati, masih hidup dengan baik-baik saja.”
Di tubuh Lika Hua, masih ada jimat pelindung jiwa dari Lina Hua, dia tidak turun tangan melepaskannya, siapapun juga jangan berharap bisa membunuh Lika Hua.
Jadi dia tidak akan mati, hanya saja kedepannya mengalami hal apa, inilah yang belum diketahui.
Sebenarnya Lina Hua sangat khawatir, sangat takut seperti di film (The Butterfly Effect), semakin diubah semakin tragis, jika seperti itu lebih baik tidak turun tangan.
Pada saat ini.
Eric Xie bersiap-siap berangkat kerja, tapi di tengah jalan, menerima sebuah panggilan telepon.
“Tuan Eric Xie, apakah kamu mengenal Cecil Liang?”
“Kenal.”
__ADS_1
“Eng, kalau begitu datang ke kantor polisi sebentar, bantu kami mengidentifikasi mayat.”
Selesai mendengar kata-kata ini Eric Xie, benaknya berdengung sejenak, langsung tidak ada kemampuan untuk berpikir.