
Hello! Im an artic!
“Masalah ini bukanlah hal yang sangat besar, kamu tidak perlu khawatir untuk cepat-cepat menjawabku, aku hanya memberikan saran yang tepat untukmu, toh pada akhirnya kamu mau mendengarkan atau tidak juga urusanmu sendiri dan tidak masalah buatku. Kalau kamu memang ingin melakukannya, aku bisa bantu kamu untuk menghubungi dokter serta rumah sakit kecantikan, kalau masalah uang tidak cukup aku juga bisa meminjamkannya padamu. Kamu juga jangan merasa sungkan, karena telah membantu mencari barang antik, sebagai balasannya, kita impas kamu juga tidak ada minta apa-apa.” Lina menambahkan beberapa kalimat itu hanya demi menghindari adanya beban yang muncul dalam hati Jessica.
Ia berpikir agak lama, menganggukkan kepalanya. “OK, biarkan aku untuk berpikir sejenak, terimakasihLina, aku tahu semua ini demi yang terbaik untukku. ”
Hello! Im an artic!
Saat pulang dari sekolah ke rumah, Rika dan Ella semuanya tidak ada ditempat. Yang satu pergi menemani Lika ke rumah sakit, yang satunya lagi pergi berbelanja kebutuhan rumah. Lina tiba-tiba merasa lapar, baru teringat kalau siang tadi belum menyantap makan siang, setelah diamati ternyata waktu sudah menunjukkan jam 1 siang. Dia bingung apakah mau memasak mie sendiri atau keluar mencari makanan dengan menggunakan mobil.
John akhirnya pulang. dia pulang bermaksud untuk mengambil berkas yang tertinggal di ruangannya pagi tadi. Tidak menyangka melihat sesosok Lina yang sedang kebingungan sendirian berpikir tentang makan siangnya.
“Hei Lina,kamu tidak pergi sekolah?”
“Tadi sudah pergi ke sekolah, pulang sebentar.”
Hello! Im an artic!
__ADS_1
“Oh, kamu sudah makan siang kan?”
Dia pikir Lina sudah selesai makan, jadi dia hanya bertanya untuk memastikannya. Lina dengan jujur menggelengkan kepalanya.
John kaget, “Sekarang sudah jam 1 lebih kamu belum makan apa-apa?”
Ia mengangguk.
“Yak ampun, bodohnya… kamu mau makan apa, aku yang buatkan.”
“Kamu bisa masak?”
Dari awal pindahan dan tinggal bersama selama ini di villa Spring Mansion, John tidak pernah satu kalipun memasak. Bisanya Ella dan Rika yang melakukannya, dan kedua gadis itu memiliki keahlian yang sangat baik jadi mereka tidak perlu turun tangan melakukan semuanya sendiri.
“Merendahkan aku ya? Sewaktu aku tinggal dan belajar di luar negeri dulu, sengaja pernah belajar langsung dari koki Michelin.”
Begitu menyeselesaikan perkataannya, John langsung melangkah cepat menuju kulkas. Setelah dibuka dan dilihat ternyata hasilnya tidak memuaskan. Sebenarnya kulkas itu kosong karena akhir-akhir ini semuanya sibuk mengurus permasalahan tentang Lika. Akhirnya tidak sempat membeli sayuran, jadinya baru tadi Rika pergi berbelanja.
__ADS_1
John mondar-mandir, akhirnya ia mendapatkan beberapa telur. Kemudian dia memiliki ide yang cerdas dan menggunakan telur-telur ini untuk memanggang sepiring kue tar untuk Lina.
Katanya akan jadi sepiring, akhirnya hanya ada enam potong, tapi itu sudah cukup untuk Lina. Lina memandang kue tar yang panas dan cerah itu, kemudian dengan berhati-hati segelas susu panas diberikan padanya, dan tiba-tiba di suatu tempat di hatinya merasakan seolah terisi oleh sesuatu.
Ia juga lupa untuk memperingatkan diri sendiri sebelumnya, jika ingin menjauh dari pria ini, jangan hanya karena dalih memperingatkan diri kemudian terjebak oleh cinta dan tersakiti.
“Cepat dan makan selagi panas. Ada urusan lain di perusahaanku. Aku pergi sekarang, telpon dan hubungi aku kapan saja.”
John sebenarnya sedang panik dan cemas. Perusahaan menunggunya untuk mendapatkan dokumen dan tender. Tetapi dengan cerobohnya ia sempatkan membuatkan kue tart untuk Lina. Seperti sedang mabuk, jika orang dari kantor tahu itu, dia bisa gila. Sejujurnya pentingkah kontrak 300 juta ataukah enam potong kue tarlah yang lebih penting?
Setelah John pergi dengan tergesa-gesa, Lina dengan sadar betul melihatnya sedang dalam kecemasan, tetapi dia masih membuatkan kue tart itu dengan sabarnya.
Untuk menghargai hasil karya orang lain, bahkan dengan sedikit adanya dorongan untuk memakannya, Lina tetap tidak akan memakan habis semuanya,. Meski begitu harus dikatakan bahwa kue tart ini rasanya sangat enak dan tidak kalah rasanya seperti yang ada di restoran-restoran.
Kemudian untuk sesaat, Lina memiliki kekaguman kecil pada John yang mampu membuatkan makanan penutup untuknya. Kebaikan John bukanlah diberikan dengan secara tiba-tiba, tetapi layaknya air sungai yang mengalir panjang serta turunnya hujan musim semi yang tiada hentinya membanjiri ladang yang luas.
“Nenek, apa yang akan kulakukan, apakah lelaki ini benar-benar layak untuk kupercayai?”
__ADS_1
Lina lagi-lagi mengalami kesulitan.