
“Sudahlah, jangan membuat masalah. Kita jalan-jalan yuk.”
Lina Hua tak suka mencari masalah, terlebih lagi ia takut membuat keributan di pasar.
Lagipula kedua orang itu juga tak berguna. Ia tak ingin berurusan dengan orang bodoh.
Walaupun Rika amat marah, namun sebenarnya ia juga tak berani bertindak.
Mendengar perkataan kakek tua itu, pria gendut itu menawar harga, berpikir bahwa barang itu murah.
Dengan uang kontan 9,200 yuan, ia membeli mangkok milik kakek itu.
Kemudian mereka pergi mengendarai Mercedes Benz.
“Nona, apakah mangkuk itu antik? Berapa harganya?” Rika penasaran.
Lina Hua menjawabnya sambil berjalan.”Mangkuk itu bukanlah barang antik. Kuperkirakan harganya sekitar 8 – 10 yuan. Tulisan dibawah mangkok itu mungkin dicetak sebulan yang lalu. Tapi hanya orang-orang bodoh ini, mereka pikir mereka yang paling pintar, merasa bahwa barang itu murah.”
“Ah, kakek yang terlihat begitu sederhana dan jujur, tak disangka ia juga seorang pembohong. Beginilah hidup……”
Rika mungkin sudah terlalu lama tinggal di Gunung Congcui, jadi tak mengetahui kalau orang-orang di kota amat menyeramkan.
__ADS_1
Lina Hua berpikiran terbuka, “Banyak hal yang terjadi di dunia ini.”
Saat Lina Hua melewati pria tua itu, ia juga tak menyangka bahwa ia seorang penipu.
Setelah melihat si gendut itu pergi, ia mengambil satu mangkuk lagi dari kantung dibelakangnya.
“Nona, maukah kau membeli mangkok? Keramik dari jaman dinasti Ming. Harganya juga tak seberapa…… Aku membutuhkan uang untuk mengobati anak kami. Kalau kau ingin membelinya, kau bisa menawar harga.”
Lina Hua tersenyum dan berkata, “Kakek, aku tak akan membeli mangkuk. Namun aku bisa melihat nasib dan meramalmu.”
“Meramal?” Kakek itu kaget ketika mendengar ia bisa meramal.
Lina Hua mengambil satu tong stik bambu berwarna kayu dari tasnya. Tong itu berukuran setelapak tangan dan terlihat menarik.
“Ini……Kau tidak berbohong kan?” Orang tua itu menjadi waspada.
“Tenang saja, aku tak meminta uang sepeserpun. Aku hanya sekedar lewat, merasa hanya ingin meramal nasibmu.”
“Baiklah.”
Sesaat setelah mendengar kalau itu gratis, ia mengambil tong bambu itu dan mengocoknya sesuai permintaan Lina Hua. Dalam beberapa detik, keluar sebatang stik bambu.
__ADS_1
Orang tua itu mengambil dan melihat di stik itu tak ada tulisan apapun.
“Kamu……?” Ia pikir kalau ia sedang ditipu.
Tak disangka, Lina Hua mengambil stik bambu itu, lalu sambil tersenyum bertanya pada orang tua itu.
“Keluargamu terdiri dari empat orang, ada dua orang anak.”
“Benar.”
“Istrimu tampaknya sedang tak sehat. Apakah dia tak bisa bangun dari ranjangnya?”
Selesai bertanya, orang tua itu kaget. Bagaimana ia bisa mengetahui tentang hal itu?”
Lina Hua masih tersenyum, “Kek, ada beberapa hal yang akan terjadi. Jika kau tidak berlaku jujur, kau akan mati. Istrimu sedang tidak sehat dan kedua anak laki-lakimu punya penyakit mental. Melihatmu barusan tidak berpikiran jernih saat melihat uang, dalam waktu dekat mungkin kau akan ditabrak mobil. Berhati-hatilah.”
“Beraninya kau mengutukku?” Orang tua itu tak senang mendengar perihal kecelakaan itu.
“Tidak, aku hanya ingin mengingatkanmu. Terserah kamu percaya atau tidak.”
Selesai berbicara, Lina Hua mengambil stik bambu itu lalu pergi dengan Rika.
__ADS_1
Orang tua itu merasa sedikit takut. Barusan orang itu berkata kalau ia tinggal di Quanzhong. Kedua anaknya menderita cerebral palsy dan kaki istrinya juga tidak dalam kondisi yang baik. Dia sudah lama terbaring di ranjang. Situasi di rumah amat sulit. Awalnya, ia menjual mangkok keramik itu dengan harga murah. Kemudian ia datang ke kota dengan trik ini untuk menipu. Setelah beberapa lama mereka menjadi terbiasa, tak peduli pada hati nurani mereka.
Namun perempuan itu baru saja mengatakan…… akan ada kecelakaan mobil? Apakah ia hantu?