Pernikahan Sementara

Pernikahan Sementara
Bab 339 Takdir


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Mendengarkan pertanyaan Lina, wanita berambut merah pendek itu terlihat senang.


“Ini sangat lucu, bukankah ini seperti cara seorang pria berbicara? bagaimana kamu…”


Hello! Im an artic!


“Aku tidak bercanda. Aku benar-benar merasa seperti sangat familiar dengan dirimu,” kata Lina dengan serius.


Dia menyilangkan tangannya, memegang tas tangannya dengan erat, dan menatap wajah wanita itu tanpa senyum.


Wanita itu mengambil napas dalam-dalam, menaruh gelas sampanye di tangannya, dan memandang Lina.


“Dikatakan bahwa dunia tiga dimensi tempat kita hidup kadang tumpang tindih dalam ruang dan waktu. Kita berada di dunia yang terasa sangat kecil, jadi kita akan merasa seperti familiar dengan beberapa tempat yang belum pernah kita kunjungi, dan kita akan merasa seperti sangat familiar juga dengan beberapa orang yang belum pernah kita temui. Perasaan kehidupan sebelumnya sebenarnya hanyalah sebuah perasaan yang ada didalam pikiran kita saja. Namun, apa yang terjadi dalam kehidupan sebelumnya kita mana mungkin bisa benar-benar mengingatnya. Tapi… Mungkin kamu didunia paralel memang benar-benar mengenalku, dan aku memang sebenarnya adalah temanmu, kan?”


Hello! Im an artic!


“Kamu sangat pintar.” Lina tidak menyangka kalua wanita itu akan berbicara tentang hal seperti ruang tiga dimensi dan dunia paralel.


“Hei, aku hanya asal bicara, jangan menganggapnya terlalu serius.”

__ADS_1


“Karena kita berteman di dunia paralel, apakah dunia ini kita juga bias berteman?”


Ini adalah pertama kalinya Lina memanggil seseorang dan menanyakan dia untuk menjadi temannya.


Wanita itu juga sedikit terkejut, tapi dia sepertinya juga tampak familiar dengan keberadaan Lina.


“Haha, bagaimana bisa aku berteman dengan nyonya muda Jiang, Aku hanyalah orang biasa. Tapi jika kamu memang tidak ada masalah untuk berteman dengan orang yang biasa-biasa saja, aku senang bertemu denganmu.”


Wanita itu perlahan mengulurkan tangannya dan menyalam tangan Lina dengan yang lembut.


“Lina,” Lina memperkenalkan dirinya.


“Windi,” katanya.


“nama penaku dan juga nama asliku,” Dia tersenyum cemerlang.


“Kalau begitu aku sudah pernah membaca bukumu.” Lina suka membaca sejak dia masih kecil, dan dia memiliki selera yang unik, dan wanita di depannya ternyata adalah penulis dari buku yang dibaca oleh Lina.


“Oh? Yang mana yang sudah kamu baca?” Wanita itu juga penasaran.


“Aku pernah membaca bukumu yang kurang populer . ”

__ADS_1


Lina selalu suka membaca buku-buku yang berkaitan dengan peninggalan budaya, dan Windi adalah seorang penulis yang menulis bukunya penuh ketegangan, menulis tentang berbagai macam plot.


Buku yang diterbitkan lima tahun lalu itu, yang berjudul “Dinasti Liang Utara yang Hilang dan Tanda-Tanda Yang Terlupakan” tidak laku, dan hanya sedikit orang yang membeli dan membacanya.


Tapi Lina sudah pernah membacanya, ini seperti sebuah takdir.


Setelah Lina mengatakan itu, Windi menjadi tertarik, “Buku itu sangat membosankan, tapi kamu benar-benar pernah membacanya.”


“Tidak, buku itu sama sekali tidak membosankan, kamu menulisnya dengan baik.”


“Terima kasih atas pujiannya.”


Kedua wanita itu bertemu satu sama lain dengan cara seperti ini, pertama kali mereka bertemu, mereka berbicara dengan sangat akrab, tidak lama kemudian Nyonya Jiang meminta seseorang untuk memanggil Lina untuk memulai penggalangan dana, dia baru menyadari bahwa sudah lewat hampir setengah jam. Ini adalah sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya, dan dia tidak biasanya mengatakan sepatah kata pun kepada orang asing.


Sambil melihat Lina dari belakang, Windi mengambil gelas anggur dan tersenyum, “Nyonya muda Jiang sangat menarik.”


Setelah itu, dia minum gelas anggur di tangannya, dan anggurnya memiliki rasa yang luar biasa.


Lina menunggu sampai makan malam selesai, Lili sudah pulang saat itu, dan Rika mengantarnya pulang untuk beristirahat.


Pada saat ini, dia tidak bisa tidur.

__ADS_1


Lisa sangat marah ketika dia mengetahui bahwa ada orang seperti Queenie, ketika dia tahu dia sedang mengandung anak ayahnya, dia menjadi lebih marah.


“Sial, aku akan menghancurkan bangsat kecil itu.” Tatap Lisa, dengan jengkel membanting semua produk perawatan kulitnya dari atas meja ke tanah, pada saat itu emosi dia tidak terkendali.


__ADS_2